Ulama Pencetus Pengetahuan Ma’rifah

“Siapapun tidak akan mampu menekuni olah-asketisme atau berzuhud dari segenap godaan dunia, kecuali orang-orang yang diberi berkah cahaya oleh Allah Swt yang dipancarkan ke dalam kalbunya, sehingga membuatnya sibuk dengan urusan akhirat,” ujar ad-Darani
Pencetus Pencetus Pengetahuan Ma’rifah
Ilutrasi Pengetahuan Ma’rifah

Ulama Pencetus Pengetahuan Ma’rifah

ACEHSATU.COM – Abu Sulaiman Abdurrahman bin Ahmad bin Athiyah al-Insi ad-Darani (wafat 215 H/830 M) dikenal sebagai ulama yang paling awal berbicara tentang tasawuf sebagai disiplin tersendiri. Ia juga dikenal sebagai pencetus pertama pengetahuan ma’rifah.

Dalam bukunya yang berjudul “Allah dan Alam Semesta: Perspektif Tasawuf Falsafi”, Prof KH Said Aqil Siroj mengungkapkan bahwa ad-Darani dikenal sebagai tokoh pertama yang memperkenalkan ide “pancaran ilahi” yang menjadi dasar perolehan ma’rifah, yang diperoleh dari kalbu.

“Siapapun tidak akan mampu menekuni olah-asketisme atau berzuhud dari segenap godaan dunia, kecuali orang-orang yang diberi berkah cahaya oleh Allah Swt yang dipancarkan ke dalam kalbunya, sehingga membuatnya sibuk dengan urusan akhirat,” ujar ad-Darani sebagaimana dikutip Kiai Said Aqil.

Di lain kesempatan, menurut Kiai Said, ad-Darani juga mengatakan, “Sesungguhnya Allah kadang menyingkap tabir rahasia kepada seorang sufi (‘arif, subyek ma’rifah) yang sedang tidur, lalu menumpahkan kepadanya pancaran cahaya, dibandingkan orang melek yang sedang menunaikan ibadah shalat. Meski fisik matanya sedang tidur, namun mata hati seorang ‘arif tetap sadar dan terbuka, karena tiada yang ia lihat selain al-Haq.”

ILustrasi Ma’rifah

Baca :amalan baik bernilai surga

Baca :Sisi Lain: Covid-19 Tercipta Kecerdasan Religi dan Ekonomi

Ad-Darani adalah seorang ulama sufi yang berasal dari daerah Wasit, Irak, kemudian pindah ke Syam dan menetap di kampung Daraya, dekat Damaskus. Pengalaman ad-Darani di Irak disebut sebagai pengalaman praktik aksetisme, sementara di Syam disebut sebagai pengalaman ma’rifah, yakni pengalaman “tersingkapnya Pintu-pintu dan Manifestasi Ilahi” (al-futuhatur Rabbaniyah wat tajalliyyatul Ilahiyah) seperti dilansir republika.co.id.

Tentang pengalaman ini, menurut Kiai Said, putranya ad-Darani yang bernama Sulaiman meriwayatkan satu ucapan ayahnya, “Di Irak saya menekuni ibadah (amal saleh); sedangkan di negeri Syam saya mendapatkan limpahan ma’rifah (‘Arif)”.(*)