Turbulensi Ekonomi

ACEHSATU.COM  – Anda yang sering melakukan perjalanan udara dengan menumpang pesawat terbang pasti pernah merasakan apa yang disebut turbulensi.

Turbulensi adalah saat pesawat terguncang karena perubahan kecepatan udara yang terjadi dalam waktu singkat. Umumnya, turbulensi terjadi saat pesawat melintasi gumpalan awan.

Ketika kondisi pesawat terbang yang melintasi ruang udara dalam keadaan terguncang karena cuaca buruk, maka standar operasi prosedurnya, pilot akan mengoptimalkan seluruh sistem mitigasi keselamatan pesawat dan seluruh penumpang dan crew diminta duduk dengan menggunakan sabuk pengaman.

Begitulah ilustrasi turbulensi dan usaha sang pilot mengendalikan pesawatnya saat menghadapi cuaca buruk.

Lalu bagaimana bila hal tersebut dianalogikan dengan situasi negeri ini sekarang?

Ya, situasi Indonesia saat ini memang mirip dengan kondisi turbulensi. Negeri yang di pimpin oleh Joko Widodo dengan jumlah penduduk hampir 270 juta ini tengah memasuki cuaca buruk perekonomian, kronis akut korupsi, dan badai virus corona (covid 19) yang telah menelan korban jiwa serta mengacaukan seluruh sistem.

Dampak buruk dari mewabahnya virus corona telah menimbulkan turbulensi ekonomi. Tidak saja perekonomian Indonesia bahkan ekonomi dunia.

Menurut Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), pertumbuhan ekonomi bisa turun menjadi yang terburuk sejak 2009.

OECD memperkirakan bahwa pertumbuhan dunia di tahun 2020 ini akan berkisar pada angka 2,4%, turun dari angka 2,9%.

Namun lembaga tersebut memperkirakan ekonomi global akan pulih lagi ke angka pertumbuhan 3,4% pada tahun 2021.

Pelemahan ekonomi global tentu saja akan berdampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia meskipun banyak pengamat menilai ekonomi Indonesia tidak sampai lumpuh karenanya.

Berbeda halnya dengan peneliti ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira yang memandang bahwa ancaman resesi ekonomi makin nyata. Bahkan diperburuk oleh mewabahnya Corona (COVID-19).

“Sebelum ada corona saja kemungkinan ada resesi, apalagi ada corona, bisa lebih cepat. Sinyalnya sudah ada,” kata Bhima saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2020/detiknews.com).

Keguncangan juga terdampak pada sektor sosial dan pendidikan. Si corona telah menjadi alasan bagi sebagian masyarakat untuk tidak lagi saling bersalaman. Sikap itu mereka sebut sebagai langkah preventif agar tidak tertular virus mematikan itu.

Dalam dua pekan kedepan pemerintah pun telah mengumumkan untuk meliburkan sekolah dan merubah jadwal ujian nasional. Sehingga hampir semua keadaan saat ini berada pada posisi ketidakpastian.

Begitu pula dengan kegiatan perkuliahan, terutama perguruan tinggi besar yang konon mahasiswanya sudah ada yang positif terinfeksi COVID-19. Pihak rektorat sudah mengambil langkah-langkah isolatif untuk memutus kemungkinan tertular lebih luas dengan menutup perkuliahan untuk sementara waktu.

“Turbulensi Corona”, mungkin bisa disebut demikian, telah membikin repot manusia di belahan dunia manapun. Tak terkecuali Arab Saudi, Eropa, dan USA. Bahkan hingga ke Israel sekalipun.

Di Indonesia sendiri kabarnya salah seorang pejabat tinggi negara, anggota Kabinet Indonesia Maju, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah dipastikan terinfeksi virus Corona. Kasus seperti ini juga dialami oleh Iran.

Melihat kondisi sekarang, besar kemungkinan kita, rakyat Indonesia, bahkan masyarakat dunia harus lebih siap menghadapi goncangan ekonomi, sosial, bahkan sesuatu yang tidak diperkirakan bakal terjadi didepan nanti. Ibarat sebuah pesawat memasuki cuaca buruk dan pilotnya mampu mengatasi turbulensi. Siapkah kita? (*)