Laporan: Helena Sari

ACEHSATU.COM | SIGLI – “Ooi bek ilee bek ilee, blah deh ilee oi” (hai tunggu dulu, sebelah sana dulu), teriak keras salah seorang warga Pidie sambil menunjuk ke arah kanan untuk menghimbau rekan lainnya sebelum menyulut meriam karbit dan meriam bambu atau sering disebut beude trieng.

Kemudian bom besar berbunyi “taamm tuuum” saling bersahutan seperti sedang brada dimedan perang saja, bukannya berlari menyelamatkan diri para peserta perang malah bersorak dan bertepuk tangan. Merekalah para penikmat dentuman meriam karbit menyambut lebaran.

BACA: “Tamm Tumm” Dentuman Meriam Karbit Terdengar Keras di Pidie, Perempuan Juga Ikut Bakar Meriam Ini

Pesta kemenangan telah tiba, lafal takbir menggema dari masjid ke masjid. Para ibu dengan sibuknya menyiapkan hidangan sambutan para tamu dihari pertama lebaran, sementara muda mudi dengan sibuknya memeriahkan malam takbir dengan pawai masal keliling kampung dan megandalkan suara merdu milik mereka untuk memberitahu kepada semua bahwa besok kita hari raya.

Malam lebaran tentunya tidak dimeriahkan satu malam saja, di Kabupaten Pidie malam lebaran kedua disambut penuh suka cita selayaknya sedang berperang, perang meriam karbit atau yang lebih dikenal dengan sebutan “toet beude trieng” namanya.

Toet beude tring merupakan tradisi turun menurun yang tetap eksis di sebagian daerah Pidie seiring perkembangan zaman meriam bambu kini mulai menggunakan meriam yang dimodifikasi dari drum  minyak, tentu tetap menggunakan minyak sebagai pemicu ledakan.

Suasana toet budee trieng di Pidie pada malam lebaran, Rabu (5/6/2019). | Foto: Istimewa

Di Dusun Jurong Kupula misalnya, disana suara dentuman meriam terdengar sejauh 10 km dari lokasi pertempuran ini sehinga bukan hanya jantung saja yang berdebar tanah pun ikut serta bergetar ketika meriam dibakar lalu berbunyi bersahutan dengan Meriam lawannya.

“tradisi ini sudah menjadi budaya turun temurun sejak tahun 90-an sampai sekarang” ujar Muhammad Nizal Fakri, Panitia toet bude trieng.

Ratusan unit meriam karbit dapat kita jumpai disepanjang pinggiran sungai mulai dari daerah kubang kecamatan Indrajaya sampai dengan Garot kecamatan Delima.

Tentu saja festival setahun sekali ini menjadi daya tarik dan sangat dinanti-natikan warga.

“Di dusun Kupula ini sendiri ada 15 unit meriam karbit dan seratus unit meriam bamboo,” tambah Nizal.

Setiap tahunnya perang meriam selalu ramai pengunjung baik warga lokal maupun luar daerah. Uniknya tak hanya laki-laki saja yang kut membakar meriam karbit melainkan turut dimeriahkan oleh kaum hawa dengan beraninya.

Muhammada Rijal salah satu pengunjung mengatakan “perang meriam karbit disini sangat luar biasa, harapannya semoga pemerintah kabupaten setempat dapat memasukkan ini kedalam agenda event kebudayaan” ujarnya.

Beberapa tahun sebelumnya perang meriam karbit ini digelar pada malam pertama lebaran, namun karena malam pertama diadakan takbiran maka acara tersebut dipindahkan ke malam ke-2 Idul Fitri.

Tradisi turun temurun ini sangat dihargai oleh masyarakat, buktinya saja beberapa masyarakat yang memiliki bayi atau memiliki riwayat penyakit jantung memilih mengungsi ke kampung tetangga agar budaya Toet Budee trieng ini tidak punah.

Tidak hanya menyaksikan festival meriam karbit, pengunjung juga dapat melihat indahnya kembang api yang bertaburan dilangit seputaran Kawasan tersebut. (*)

Kiriman serupa

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *