oleh

Trade off, Antara Efisiensi dan Kualitas

-Indeks-227 views

ACEHSATU.COM – Menurut hasil riset, hampir 80 persen manajer ditugaskan untuk mencari solusi penghematan biaya dari proses operasional yang tidak efisien. Di mana pemborosan sering terjadi karena pendayagunaan sumber daya yang tidak terkendali.

Tetapi para manajer tak jarang menghadapi dilema yaitu antara meningkatkan kualitas atau menekan biaya sebagai wujud efisiensi? Sebab dalam peningkatan kualitas itu sendiri menimbulkan biaya yang disebut biaya kualitas.

Atau mungkinkah penerapan biaya kualitas dengan meningkatkan efisiensi biaya operasional (produksi)?

Secara teori kualitas dan efisiensi memiliki hubungan yang saling mempengaruhi. Sehingga interaksi keduanya telah menimbulkan dampak. Akibatnya, dapat menurunkan kualitas apabila efisiensi tidak terukur tersebut dilaksanakan.

Contohnya, penghematan yang dilakukan secara ketat atau kebijakan memangkas biaya kualitas hampir 20 persen dari biaya total dapat menurunkan kualitas hingga 50 persen. (Hanan, 2013).

Biaya kualitas (biaya mutu) atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan quality cost adalah biaya-biaya yang timbul dalam penanganan masalah kualitas (mutu), baik dalam rangka meningkatkan kualitas maupun biaya yang timbul akibat kualitas yang buruk (cost of poor quality).

Dengan kata lain, biaya kualitas (quality cost) adalah semua biaya yang timbul dalam manajemen kualitas (quality management).

Feigenbaum (1961) dalam bukunya yang berjudul “Total Quality Control” menyebutkan bahwa biaya kualitas terdiri dari tiga kategori utama, yaitu biaya pencegahan (preventive cost), biaya penilaian (appraisal cost) biaya kegagalan (failure cost).

Biaya kegagalan kemudian dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu biaya kegagalan Internal (internal failure cost) dan biaya kegagalan eksternal (external failure cost).

Sampai disini barangkali sudah tergambarkan bagaimana dampak buruknya bila biaya kualitas dipangkas. Sedikit banyak akan berpengaruh pada standar kualitas yang diharapkan.

Berbicara kualitas tentu saja sangat terkait dengan strategi optimalisasi sumber daya yang ada atau bahkan sengaja diadakan secara efektif agar spesifikasi produk atau layanan yang dihasilkan benar-benar memenuhi ekspektasi pasar.

Dengan begitu akan meningkatkan daya saing perusahaan ditengah ketatnya kompetisi bisnis dewasa ini.

Namun terkadang para manajer tidak punya pilihan lain. Penghapusan beberapa mata anggaran terpaksa dilakukan demi berjalannya operasional dan menyelamatkan perusahaan.

Kalau sudah seperti ini maka beberapa kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya batal dilaksanakan. Berarti pula akan terjadi penurunan kinerja, produktivitas, target, dan perlambatan pertumbuhan.

Kondisi operasional dengan standar minimal hanya dimaksudkan untuk strategi survival (mempertahankan hidup) saja dan biasanya bersifat jangka pendek. Sedangkan untuk menciptakan keunggulan bersaing tentu operasional harus berjalan diatas standar rata-rata dan jangka panjang (long term).

Lantas bagaimana solusinya?

Mengatasi kesulitan keuangan yang sering menjadi penyebab utama dijalankannya kebijakan pemangkasan sejumlah biaya operasional memang dapat saja diterapkan. Meskipun hal itu hanya siasat mengulur waktu.

Dengan strategi penghematan atau lebih tepatnya pengurangan biaya misalnya mengubah jam kerja jadi lebih sedikit memang dapat membantu keuangan perusahaan. Termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja (karyawan) yang ada atau menutup beberapa unit usaha yang tidak menguntungkan.

Namun semua itu pasti berefek pada produktivitas dan kualitas output. Sedangkan disisi lain pasar menuntut adanya peningkatan mutu dan keunggulan layanan.

Dengan situasi terburuk tersebut, hampir mutlak rasanya ada investasi baru yang mengalir. Para pemegang saham perlu turun tangan untuk melakukan suntikan dana segar dan modal kerja baru sambil memperbaiki manajemen. (*)

Komentar