TNI akan Kirim ‘Pasukan Setan’ Tumpas Pemberontak Papua

TNI telah mempersiapkan 400 prajurit Batalion Infanteri 315/Garuda untuk bertugas di Papua. Pengerahan ratusan prajurit yang dikenal dengan sebutan Pasukan Setan ini tinggal menunggu perintah.
Pasukan setan TNI
Ilustrasi prajurit TNI (Muhammad Ridho/detikcom)

Pasukan Setan TNI

ACEHSATU.COM | JAKARTA —  TNI telah mempersiapkan 400 prajurit Batalion Infanteri 315/Garuda untuk bertugas di Papua. Pengerahan ratusan prajurit yang dikenal dengan sebutan Pasukan Setan ini tinggal menunggu perintah.

“Itu pasukan batalion, namanya Pasukan Setan, sebutannya dari dulu. Itu dari batalion, dari Bandung itu. Memang dia tugasnya seperti waktu di Aceh, penumpasan (GAM) dia juga,” kata Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kapen Kogabwilhan) III Kolonel Czi IGN Suriastawa melansir detikcom, Rabu (5/5/2021).

Suriastawa mengatakan sebenarnya pengerahan Pasukan Setan untuk pengamanan daerah rawan (pamrahwan) adalah rutinitas. “Ini sebenarnya rolling saja, pergantian, sudah rutin, biasa,” sambung dia.

Soal apakah Pasukan Setan akan turut memburu teroris kelompok kriminal bersenjata (KKB), Suriastawa menyebut hal itu tergantung hasil rapat pimpinan TNI dengan Polri. Suriastawa menyebut teroris di Papua berbeda dengan teroris pada umumnya di Indonesia karena KKB juga merupakan gerakan separatis.

Pasukan setan TNI
Ilustrasi prajurit TNI (Muhammad Ridho/detikcom)

“Ini kan masih rapat antara polisi dan TNI. Membahas. Karena teroris itu kaitannya biasanya kepolisian kalau teroris. Tapi terorisnya sekarang (di Papua) permasalahannya teroris separatis, terlatih, terdidik. Intinya ditunggu saja hasil keputusan pada rapat antarpimpinan,” jelas Suriastawa.

Suriastawa menyebut perlu perhitungan matang untuk memburu teroris KKB. Pihaknya tak mau timbul korban yang sia-sia.

“Iya, jumlah personel (Pasukan Setan 400 orang) kan, sementara artinya pasukan yang akan datang betul kekuatan batalionnya persiapannya itu (400 prajurit). Tapi kan belum ada keputusan pimpinan. Yang jelas, untuk menyelesaikan masalah ini kan harus ada perhitungan matang, agar tidak terjadi korban sia-sia,” ungkap Suriastawa. (*)