Tiga Ton Minyak Nilam dan Pala Aceh di Ekspor ke Perancis Oleh ARC USK

"Setelah kita beli dari petani, maka kami bersihkan dan pemurnian lagi sebelum diekspor,"
ARC USK ekspor tiga ton minyak nilam dan pala Aceh ke Perancis
Rektor USK Banda Aceh Prof Marwan (tengah putih) saat melakukan pelepasan ekspor minyak nilam dan pala Aceh ke Perancis, di Banda Aceh, Senin (5/12/2022)

ACEHSATU.COM | Banda Aceh – Sebanyak tiga ton minyak nilam dan pala asli Aceh Di ekspor ke negara Perancis oleh Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.

Rektor USK Banda Aceh Prof Marwan, di Banda Aceh mengatakan “Ini merupakan ekspor yang kedua setelah pertama pada 2020 saat masa awal COVID-19 lalu,” Senin, (5/12/2022). 

Prof Marwan menyebutkan, adapun minyak nilam yang diekspor ke Perancis tersebut yakni sebanyak 2,2 ton dan minyak pala sebanyak 800 kilogram, sehingga totalnya tiga ton.

Prof Marwan menyampaikan, adapun minyak nilam dan pala yang diekspor tersebut hasil pembelian dari 300 orang petani seluruh Aceh melalui koperasi mereka masing-masing. 

“Setelah kita beli dari petani, maka kami bersihkan dan pemurnian lagi sebelum diekspor,” ujar Prof Marwan.

Prof Marwan menuturkan, pengiriman minyak nilam tersebut belum memenuhi permintaan Perancis yaitu 10 ton per bulan, namun sejauh ini belum mampu diberikan. Karena itu pihaknya terus berkoordinasi dengan petani guna mencapai target tersebut. 

Ia menegaskan bahwa tidak semuanya minyak nilam yang dibeli ke petani tersebut di ekspor. Melainkan 20 persen dari yang didapatkan dimanfaatkan untuk produk turunan seperti parfum, sabun, skin care dan lainnya. 

ARC USK sendiri yakin ke depan minyak nilam Aceh semakin banyak mengingat petani sudah mulai semangat kembali menanam tanaman nilam, terbukti dari peningkatan produksi minyak nilam Aceh. 

“Dulu hanya tinggal empat kabupaten, dan sekarang sudah 15 kabupaten yang menanam nilam. Maka produksinya juga meningkat dari dulu 150 ton, sekarang 300 ton per tahun,” katanya.

Prof Marwan menambahkan, dalam rangka menyemangati masyarakat Aceh menanam nilam, maka pihaknya terus menampung minyak nilam petani dan menjaga harganya. Sehingga mereka tidak meninggalkan tanaman tersebut. 

“Sekarang kita bisa garansi harga di atas Rp500 ribu per kilogram, dan kita juga persilahkan masyarakat menjualnya ke tempat lain kalau memang harganya lebih baik,” demikian Prof Marwan.