Tiga Bos Perusahaan di Tanah Air Ini Memilih Masuk Islam Setelah Terinpirasi Sikap Muslim, Begini Kisahnya

Tiga Bos Perusahaan di Tanah Air Ini Memilih Masuk Islam Setelah Terinpirasi Sikap Muslim, Begini Kisahnya

ACEHSATU.OM – Kisah perpindahan keyakinan menjadi seorang mualaf selalu menyentuh hati ya Bun. Sebab, proses mereka sebelum akhirnya mantap berhijrah selalu tak mudah.

Banyak pertentangan dalam diri sendiri, keluarga dan lingkungan hingga akhirnya mereka bersyahadat. Dan berikut ini kisah singkat tiga bos perusahaan di Tanah Air ini memilih memeluk Islam setelah terinspirasi dari sikap umat Muslim, dikutip dari berbagai sumber:

  1. Fitria Yusuf

Putri pengusaha dan tokoh Muslim Tionghoa Indonesia, Jusuf Hamka ini mengucapkan kalimat syahadat pada Kamis (12/3/2020) di Masjid Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Video CEO PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk tersebut mengucapkan syahadat viral di media sosial, Bun.

Fitri yang dibimbing oleh Wasekjen MUI Pusat, KH Zaitun Rasmin untuk mengucapkan syahadat mengaku memeluk Islam karena mendapat hidayah dan terinspirasi dari perbuatan ayahnya. Tak cuma sebagai seorang ayah dan atasan yang baik, Fitria mengaku melihat ayahnya sebagai umat Muslim yang taat dalam menjalankan ibadah dan bersedekah.

 

Fitria Hamka/Foto: Instagram @fitriayusuf_official

 

“Saya ingin masuk Islam karena mendapatkan hidayah dan juga melihat ayah saya, H. Muhammad Jusuf Hamka, karena dari kesehariannya beliau, yang paling utama enggak ada memaksa juga. Saya melihat beliau sebagai seorang contoh, meskipun asalnya dari Tionghoa, tapi beliau sudah lama memeluk agama Islam,” kata dia, dikutip dari Instagram Jusuf Hamka.

Sementara Yusuf Hamka yang juga seorang mualaf dan merupakan anak angkat Buya Hamka dikenal aktif dalam sejumlah kegiatan sosial. Beberapa di antaranya, mendirikan 1000 masjid dan nasi kuning Rp3.000 untuk para dhuafa.

  1. Lee Kang Hyun

Vice President Samsung Electronic Indonesia, Lee Kang Hyun sudah lama menetap di Indonesia. Dia pertama kali ditugaskan di Indonesia pada tahun 1993, namun dia kembali ke Korea Selatan pada 2006 dan menetap di negaranya selama 3 tahun. Setelahnya, dia ditempatkan di Samsung Nepal, Srilanka, dan Banglades. Kemudian pada 2012, dia kembali ke Indonesia hingga kini. Lamanya tinggal di Indonesia membuat dia lancar berbahasa Indonesia dan mengetahui banyak budaya Tanah Air.

Meski begitu, dia merasa, ada yang membatasi dirinya dengan masyarakat. Hingga akhirnya Lee sadar hal itu adalah karena kurangnya pemahaman terhadap mayoritas agama di Indonesia, yakni Islam yang menjadi bagian dalam kehidupan di Indonesia. Ini berbeda dengan negara asalnya Korea, yang masyarakatnya kebanyakan memilih untuk tidak memeluk agama.

“Agama di sini sudah menjadi bagian kehidupan. Berbeda sekali dengan di Korea,” kata dia, dikutip dari detikcom.

 

Lee Kang Hyun/Foto: adi/detikcom

 

Dari keingintahuan tentang Islam, akhirnya dia bertemu dengan keluarga angkatnya. Lee pun sering mengamati kehidupan sehari-hari ayah angkatnya yang sangat Islami hingga membuatnya tertarik, lalu memutuskan masuk Islam pada 1994 dan mengucapkan kalimat syahadat di Masjid Sunda Kelapa.

Suami Yuliani ini mengaku kehidupan awalnya sebagai umat Muslim cukup berat, terutama saat bulan Ramadhan dan kebiasaan orang Korea yang suka minum. Namun perlahan, dia bisa menyesuaikan diri. Bahkan teman-temannya orang Korea juga tak lagi menawarinya minuman.

Dia pun kerap disapa Pak Haji oleh rekan-rekannya, padahal belum menunaikan rukun Islam kelima. Namun dia yang sudah beberapa kali menjalankan ibadah umrah ini berniat akan melaksanakannya kelak.

  1. Hermanto Wijaya

Bos Jaya Raya Solution (Jaya Raya Elektronik) ini menjadi mualaf pada tahun lalu. Dia mengucapkan kalimat syahadat di Masjid Raya Citra Grand City, Palembang, Sumatera Selatan pada 3 Mei 2019.

Setelah menjadi seorang Muslim, namanya menjadi Muhammad Hermanto Wijaya. Dia mengatakan bahwa faktor utama yang membuat dirinya berpindah keyakinan karena lingkungan pergaulan dan tempat tinggalnya.

Menurutnya, tetangganya selama ini kebanyakan beragama Islam. Seringnya bersosialisasi dan melihat kegiatan sehari-hari umat Muslim di sekitarnya sejak lama memberi dampak besar pada diri dan sikapnya.

Hingga akhirnya dia yakin untuk memeluk Islam setelah mempelajari Islam. Dia pun meminta izin kepada istri dan anak-anaknya. Di luar dugaan, keluarganya pun memberikan izin.

Muhammad Hermanto Wijaya sendiri sebelum menjadi mualaf dikenal sebagai sosok yang aktif melakukan kegiatan sosial. Bahkan, dia tak pilih-pilih untuk memberikan bantuan, termasuk pernah membantu perbaikan masjid walau saat itu belum menjadi Muslim. (*)