oleh

Tidak Penting Peringkat Berapa, Asalkan Islam Tetap Jaya di Bumi Iskandar Muda

-Kolom-172 views

ACEHSATU.COM – Nama Daerah Istimewa Aceh tempo doeloe disematkan untuk provinsi ini karena disebabkan Islam. Kuatnya Islam membuat daerah tersebut juga dijuluki dengan gelar Serambi Mekah. Hingga kini Islam dan Aceh tidak dapat dipisahkan dan semoga hingga akhir jaman Islam tetap bersinar di Bumi Tanah Rencong.

Secara kuantitas populasi penganut Islam di Aceh jumlahnya lebih banyak dibanding pengikut agama lainnya. Dengan jumlah penduduk Aceh 5,3 juta jiwa, sekitar 98 persen diantaranya beragama Islam atau muslim.

Maka sangat wajar bila Aceh merupakan satu-satunya provinsi yang menerapkan Syariat Islam di Indonesia. Selain karena masyarakatnya yang sudah melekat dengan aturan-aturan dan budaya Islam. Syariat Islam juga merupakan janji politik pemerintah atas keistimewaan Aceh.

Oleh sebab itu hampir tidak ada alasan bagi pemerintah untuk membatalkan atau tidak memenuhi janji penerapan syariat Islam tersebut kecuali Aceh lepas dari NKRI dan berdiri sendiri sebagai sebuah negara. Tentu saja hal itu tidak diharapkan oleh pemerintah.

Disisi lain, kemasyhuran Islam dan Aceh sudah terbukti. Pada masa Kerajaan Aceh ketika itu sudah berhubungan dengan negara-negara lain di dunia dalam hubungan internasional. Hubungan perdagangan antar negara sahabat sudah lazim dilakukan oleh kerajaan yang di pimpin Sultan Iskandar Muda saat ia berkuasa.

Masyarakat muslim Aceh dikenal selalu hidup rukun dan damai dengan beragam suku yang ada. Bangsa yang juga dikenal ramah dan senang bersahabat tersebut sering menjadi contoh hidup bertoleransi bagi bangsa-bangsa lain di dunia. Aceh merupakan miniaturnya Indonesia dalam konteks toleransi.

Kehidupan toleransi antar suku dan agama di Aceh sudah berlangsung sejak lama. Umat muslim Aceh tidak pernah mengganggu penganut agama lain. Sebab dalam budaya masyarakat Aceh dipenuhi oleh nilai-nilai Islam yang damai, saling menghormati satu sama lain serta penuh kasih sayang.

Nilai-nilai Islam yang hidup dan dipraktikkan dalam kehidupan orang Aceh adalah sebagaimana diajarkan oleh Islam yang berazaskan rahmatan lill’alamin. Umat Islam Aceh sangat senang berbagi. Mereka saling membantu walaupun berbeda suku dan agama. Namun secara sosial terjalin hubungan yang erat.

Hampir tidak pernah terjadi konflik di Aceh karena dilatar-belakangi oleh intoleransi terhadap umat agama selain Islam atau antar agama lainnya sebagaimana terjadi di Papua, Ambon, NTT, Kalimantan, dan Bali, yang mana di daerah tersebut umat Islam dipersulit, dipersekusi, dan diancam. Hal itu tidak pernah terjadi di Aceh.

Boleh saja hasil survei yang dirilis oleh lembaga tertentu yang menempatkan Bali sebagai daerah paling Islami atau Kota Karawang sebagai kota paling toleran di Indonesia. Berbanding terbalik dengan Kota Banda Aceh yang mereka sebut kota paling tidak toleran.

Bagi Aceh hal itu bukanlah sebuah masalah meskipun hasil survei itu mengandung berbagai kejanggalan dalam metodologinya. Karena ada dugaan survei tersebut dilakukan berdasarkan kepentingan dan pesanan pihak-pihak tertentu yang tujuannya untuk mendiskreditkan Islam dan umat muslim Indonesia terutama Aceh.

Banyak pihak yang tidak senang karena Aceh kekeh melaksanakan syariat Islam. Apalagi dengan penerapan hukuman cambuk bagi pelanggar aturan semakin membuat orang-orang yang anti Islam kepanasan. Bahkan mereka sebut syariat Islam buruk dan sangat kejam, melanggar HAM dan sebagainya.

Begitulah mereka berusaha membangun imej dan persepsi negatif terhadap Islam. Tuduhan radikalisme dan terorisme menjadi narasi yang dikembangkan sebagai alat kampanye negatif untuk menyudutkan Islam. Mereka para musuh Islam sengaja melemahkan agama Allah ini dengan mengamputasi kekuatan utamanya. Salah satunya adalah kekuatan jihad.

Berbagai cara dan strategi pun dilakukan bahkan dengan dukungan dana yang cukup besar untuk operasi menghancurkan Islam terutama di Aceh yang digelontorkan oleh negara-negara atau lembaga sponsor. Mereka menggunakan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, pejabat negara bahkan para penguasa untuk melancarkan rencana tersebut.

Karenanya patut kita duga bila berbagai survei terkait kerukunan dan toleransi berbasiskan agama yang kerap dilakukan selama beberapa tahun ini sebagai bagian dari gerakan musuh Islam. Sebab hasil survei tersebut sangat jelas memperlihatkan diskriminasi dan upaya membentuk opini buruk terhadap Islam.

Kelompok-kelompok yang mungkin berafiliasi dengan gerakan anti Islam bukan mustahil bila negara juga ikut didalamnya apalagi bila para penguasa negara itu cenderung kepada anti Islam. Bila skema ini terbentuk maka upaya memberangus kekuatan Islam semakin mudah dilakukan. Tidak perlu secara kekerasan namun dapat dilakukan secara soft.

Oleh sebab itu bagi umat muslim Aceh tidak perlu merasa terdhalimi oleh hasil survei itu. Lebih baik abaikan saja, toh tujuannya sudah diketahui arahnya kemana. Alangkah lebih baik umat Islam merapatkan barisan dan fokus pada penguatan nilai-nilai syariat Islam di Bumi Iskandar Muda agar semakin baik dan berkualitas.

Mari kita tunjukkan bahwa persepsi negatif yang coba dibangun dengan pendekatan seolah-olah ilmiah itu tidak mengubah sikap kita terhadap Islam, kedamaian, kerukunan, dan toleransi yang telah lama terbangun di Aceh.

Tidak perlu terprovokasi oleh blow up media yang menempatkan Aceh sebagai daerah yang peringkat terendah dalam hal kerukunan. Biarkan saja, meskipun lembaga yang memimpin kementerian tersebut adalah berasal dari Aceh. Ureung Aceh harus tetap istiqamah dan teuleubeh. Wallahu’alam. (*)

Komentar

Indeks Berita