Tidak Masalah Berhutang Asalkan Dikelola Secara Baik dan Tidak Dikorup, Nyatanya?

Oleh: Dr. Zainuddin, SE., M. Si.

ACEHSATU.COM – Dalam pandangan akuntansi utang merupakan elemen dari  sumber aset suatu organisasi (orientasi profit atau nonprofit) dan  berada pada sisi kredit dalam neraca.

Dalam pandangan Islam utang tidak dilarang namun perlu diketahui bahwa utang memiliki dampak yang sangat besar.

Bahkan bila seseorang meninggal jasadnya tidak bisa dikubur jika belum melunasi utang atau paling kurang harus ada pihak yang menjamin pembayarannya. Begitu beratnya dampak yang ditimbulkan dari perkara utang dalam Islam.

Bagaimana konsekuensi bila utang negara?

Dalam konteks kenegaraan tidak bisa dihindari pada zaman modern seperti sekarang sebuah negara berhutang. Yang jadi persoalan adalah bila utang tersebut menjadi instrumen utama sebagai sumber pembiayaan, maka ini yang sangat berbahaya.

Apabila negara sudah sangat tergantung dengan utang dalam pembelanjaannya, maka akan menjadikan negara tersebut lemah di mata negara kreditur termasuk di mata negara lain.

Lemah yang dimaksud bahwa kreditur akan memandang negara penerima utang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi keperluan modalnya dari usaha sendiri, walaupun secara nyata seakan akan ada sisi analisis yang menyatakan negara debitur itu mampu untuk mengembalikan pokok utang plus bunga utang itu sendiri.

Padahal itu adalah strategi negara kreditur untuk menjadikan negara debitur sebagai ladang bisnis mereka dalam hal utang.

Boleh dikatakan kreditur menjerat negara debitur hingga tidak ada keuntungan sedikit pun tersisa bagi debitur itu sendiri pada saat cicilan utang dilunaskan. Istilah bahasa Aceh nya, “tulak tong tinggai tem” (cari di google).

Bahkan yang sangat berbahaya lagi adalah apabila utang itu tidak diperuntukkan untuk mendorong meningkatnya aktivitas ekonomi rakyat yang dapat mendongkrak penerimaan negara namun digunakan untuk konsumsi semata semisal untuk pembayaran gaji pejabat atau upah karyawan negara/PNS.

Bila utang digunakan untuk pembiayaan program yang bisa mengairahkan aktivitas ekonomi itu malah sangat bagus karena dengan adanya utang terjadi akselerasi dalam menciptakan kondisi ekonomi demi mencapai kemakmuran dan negara pun sangat diuntungkan dalam meningkatkan penerimaan melalui pungutan pajak dari unit-unit bisnis rakyat.

Contoh nyata utang untuk pembiayaan program yang bisa berdampak pada terjadi peningkatan aktivitas ekonomi rakyat, yaitu seperti utang untuk membangun bendungan irigasi pengairan dan instalasi listrik tenaga air yang langsung bisa dinikmati untuk kepentingan ekonomi rakyat, membangun infrastruktur pasar yang menyentuh bisnis para pedagang kecil dan lain sebagainya.

Terhadap perdebatan yang menjadi viral bahwa utang Indonesia hingga April 2020 mencapai US$ 389.3 milliar atau setara Rp6.000 triliun turun bila dibandingkan tahun 2019 sebesar US$ 404.6 milliar, sebenarnya masih dalam kondisi biasa karena masih tergolong kecil bila dibandingakan dengan utang negara-negara maju pada tahun 2020, seperti USA memiliki utang sebesar US$ 19,23 trilliun, Jepang memiliki utang sebesar US$ 9,087 trilliun, dan Singapura memiliki utang sebesar US$ 254 milliar dan seterusnya dan seterusnya.

Bila kita lihat disini bahwa negara Singapura yang merupakan negara kecil saja memiliki utang yang relatif tinggi dibandingkan dengan Indonesia yang negaranya lebih besar dan kaya akan sumber daya alam.

Akan tetapi, apabila kita kaji peruntukkan utang yang tidak terencana dengan baik untuk peningkatan aktivitas ekonomi rakyat, maka itulah yang perlu dibenahi agar terhindar dari kepailitan atau kebangkrutan.

Karena bila negara tidak mampu membayar utang bisa saja kreditur mengeksekusi aset negara. Dan bahkan bisa lebih parah dari itu yakni negara pengutang bisa bubar dengan sendirinya akibat gagal bayar utang.

Oleh karena itu jangan sekali-kali kita berpikir bahwa tidak masalah menambah utang terus menerus. Karena mewarisi kewajiban bayar utang yang menggunung kepada generasi selanjutnya merupakan sesuatu yang memilukan, dan bisa jadi tindakan penambahan utang saat ini membuat kehancuran di masa datang.

Sah-sah aja ada asumsi yang dibangun oleh pemerintah seakan aman-aman saja untuk menambah utang sepanjang mampu meng-cover cicilan pokok utang plus bunga, namun sesungguhnya ada risiko yang sangat besar di depan.

Apalagi posisi geografis Indonesia berada pada zona rentan bencana alam seperti gempa, banjir dan bahkan tsunami dengan skala besar setiap waktu bisa terjadi.

Bila musibah besar seperti saya sebutkan diatas terjadi maka dengan sendirinya kemampuan untuk membayar akan sangat tidak mungkin atau akan terganggu, bahkan tidak tertutup kemungkinan akan ada tambahan utang baru untuk mengantisipasi dampak bencana.

Inilah persoalannya, maka bangsa yang cerdas akan sangat hati-hati dalam menambah utang. Jika penggunaannya tidak produktif apalagi bila untuk di korup. Artinya lebih baik tidak berhutang.

Maka untuk menghindari utang Islam mengajarkan hidup jujur dan sederhana, jika belum memiliki kemampuan untuk membeli ya sabarlah serta kendalikan konsumsi jangan sampai melebihi kemampuan.

Jika pun terpaksa berhutang maka Raja Aceh Sultan Iskandar Muda mengajarkan lewat nasehatnya agar selamat yaitu harus  memiliki prinsip “ngui beulaku tuboeh pajoh beulaku atra”. (silakan cari terjemahannya di google)

Semoga tidak terbersit dalam hati agar dikatakan kaya dan maju karena utang, Namun sebenarnya yang berhutang itu pada hakikatnya adalah miskin. Itu saja. (*)

(Penulis Adalah Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik)