The King of Pendusta, Pembohong Kelas Atas

'The King of Pendusta' selentingan kalimat yang memberi makna "Maha Pembohong". Raja Membual yang ditabalkan pada seseorang yang memiliki sifat suka berbohong atau berdusta kelas atas.
Hamdani.

ACEHSATU.COM – ‘The King of Pendusta’ selentingan kalimat yang memberi makna “Maha Pembohong”. Raja Membual yang ditabalkan pada seseorang yang memiliki sifat suka berbohong atau berdusta kelas atas.

Dalam Islam perbuatan berbohong atau berdusta menempati urutan paling atas sebagai perilaku yang tidak dapat dibenarkan bahkan kategori perbuatan keji. Apalagi jika urusannya adalah untuk menuruti hawa nafsu.

Rasulullah Saw bersabda:

“Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa orang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan orang kepada neraka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad).

Hadits di atas menjadi dalil yang sangat kuat betapa berbohong/berdusta itu merupakan perbuatan sangat buruk/keji dalam pandangan agam hingga ancamannya adalah neraka.

Dosen Ilmu Komunikasi Penyiaran Islam UIN Jakarta, Umi Musyarofah dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Dakwah menuliskan:

“Berbohong menjadi haram jika tidak mengandung manfaat apapun apalagi kebohongan tersebut akan menimbulkan kerugian bagi banyak orang. Bahkan Rasulullah pernah menganjurkan untuk meninggalkan kebohongan meskipun dalam keadaan bergurau. Ini artinya, kita harus berhati-hati dalam berbicara apalagi bergurau agar lidah kita tidak dibisiki nafsu untuk terus berbicara yang mengandung kebohongan.”

Manfaat yang dimaksud atau sesuatu yang mungkin dibolehkan adalah karena sebab syar’i. Artinya apa-apa yang dibenarkan menurut agama. Itupun tidak selalu berbohong karena sebab agama. Konon berbohong demi manfaat politik kekuasaan.

Dewasa ini perilaku politisi nasional hingga daerah tidak sedikit yang menganggap berbohong merupakan hal biasa bahkan sudah menjadi perilaku umum yang dipandang boleh. Cardoso seorang profesor yang kemudian menjadi politisi pernah mengatakan seperti ini:

Berbohong dianggap sebagai strategi untuk mendapatkan kekuasan dibandingkan cara lain.

Cardoso ilmuan besar asal Brazil suatu kali pernah berkata: “If you’re committed to change, you cannot turn an ethical position into an obstacle for action. The problem is that, as an academic, you’re trained to tell the truth, but a politician is taught to lie, or at least to omit. As a politician, if you say everything you want, you never get everything you want.” (Jika Anda berkomitmen untuk perubahan, Anda tidak bisa menjadikan etika sebagai hambatan untuk bertindak. Masalahnya, sebagai seorang akademisi, Anda dilatih untuk mengatakan kebenaran, namun seorang politisi diajarkan mengatakan kebohongan, setidaknya mengamini kebohongan. Sebagai politisi, jika Anda mengatakan apa yang Anda inginkan, Anda tidak akan mendapatkan apa yang Anda inginkan.” – Cardoso

Baca: Karir Cardoso

Apa yang ucapkan oleh Cardoso tentu Anda sudah paham bagaimana perilaku politisi (politician behavior) saat bertindak dalam permainan politik itu.

Menurut sebuah penelitian sains dan psikologi, terdapat beberapa alasan seseorang memilih untuk berbohong. Secara rata-rata, manusia bahkan berbohong sebanyak 1,65 kali per hari, baik besar atau kecil.

Praktisi psikolog Elizabeth T. Santosa, (2018), menjelaskan bahwa seseorang biasanya berbohong sebagai bentuk perlindungan diri untuk menghindari masalah.

Hipotesa Elizabeth tersebut diperkuat oleh hasil penelitian yang dilakukan psikolog Bella DePaolo, seperti dilaporkan Psychology Today. DePaolo menanyai 147 partisipan untuk membuat diari mengenai kebohongan mereka selama satu pekan.

Hasilnya, Bella DePaolo menemukan rata-rata seseorang berbohong satu atau dua kali dalam sehari dan itu dilakukan untuk melindungi diri dalam menyembunyikan kekurangan.

Dari uraian di atas rasanya memang sulit untuk kita percaya pada politisi. Ntah dia presiden, gubernur, bupati, tidak peduli sekalipun dewan yang terhormat.

Maka gelar The King of Pendusta layak disematkan kepada mereka yang kemampuannya berbohong sudah level tinggi dan tingkat nasional.

Bahkan frekuensi kebohongan sudah melebihi dari dua kali sehari seperti temuan Bella DePaolo. Ini menandakan kecanduan berbohong sudah bagaikan hormon yang terus menciptakan stimulus.

Bagi orang ini tidak berbohong sekali waktu saja terasa belum sempurna hari-harinya. Sudah sakau bukan?

Mudah-mudahan negara dan bangsa kita diselamatkan oleh Allah SWT dari para pendusta. Tidak diberikan pemimpin yang pandai berbohong kalau berbicara, dan tidak mengkhianati kalau dipercaya.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang amanah, jujur, dan berani mengatakan yang benar jika itu benar, mengatakan salah bila itu salah. Bukan sebaliknya. (*)