Thaib Adamy Pimpinan PKI Aceh Yang Tewas Dibantai 1965-1966

Thaib Adamy Pimpinan PKI Aceh Yang Tewas Dibantai 1965-1966 "Tembak dan kuburkan saya, supaya anak-anak bisa berziarah"
Thaib Adamy Pimpinan PKI Aceh Yang Tewas Dibantai 1965-1966
Thaib Adamy Pimpinan PKI Aceh Yang Tewas Dibantai 1965-1966 "Tembak dan kuburkan saya, supaya anak-anak bisa berziarah"

ACEHSATU.COM | Thaib Adamy Pimpinan PKI Aceh Yang Tewas Dibantai 1965-1966 “Tembak dan kuburkan saya, supaya anak-anak bisa berziarah”

Thaib Adamy, pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Aceh adalah satu dari ribuan orang yang dibantai pada 1965-1966 di wilayah itu. Salah seorang anaknya memberanikan diri bersaksi atas tragedi itu, setelah puluhan tahun menguburnya dalam-dalam.

“Tembak saya di kepala… Kuburkan saya sendiri, supaya anak-anak saya bisa lihat kuburan saya…”

Di hadapan sang eksekutor yang siap dengan pistolnya, Thaib Adamy mengucapkan pesan terakhir sebelum ajal menjemputnya. Dia berujar perlahan dalam bahasa Aceh.

Sejurus kemudian terdengar bunyi “dor!” Gaungnya memecah kesunyian malam di salah satu sudut di kawasan Lhoknga, kira-kira 20km dari Kota Banda Aceh.

Peristiwa horor itu terjadi 56 tahun silam, ketika huru-hara politik setelah peristiwa G30S 1965 melahirkan kekejaman brutal di Aceh.

Para elite PKI di provinsi itu — dalam beberapa kasus bersama keluarganya, anggota, simpatisan, atau semata-mata dikaitkan atau difitnah — diburu dan dibantai.

Satu-satunya potret diri Thaib Adamy yang sejauh ini diketahui khalayak. Foto ini dimuat di buku ‘Atjeh Mendakwa’ (1964) dan diperkirakan diabadikan pada 1960an.

Tidak ada data resmi berapa jumlah yang mati dibunuh atau hilang di Aceh, meskipun dokumen militer yang beredar menyebut sekitar 2.000 orang. Ada pula yang memperkirakan korban pembantaian itu sekitar 3.000 jiwa.

Namun peneliti dari Australia, Jess Melvin, dalam penelitiannya yang dibukukan pada 2018 lalu, memperkirakan jumlahnya kemungkinan mencapai 10.000 jiwa.

Adapun Thaib Adamy, salah seorang pimpinan PKI di Aceh saat itu adalah salah satu target utamanya.

Setelah peristiwa G30S pada awal Oktober 1965, pria kelahiran kota Idi di pesisir timur Aceh ini ditangkap dalam perjalanan ke Takengon, Aceh Tengah. Lantas dia dieksekusi di Lhoknga.

“Dia tidak dipenggal [kepalanya]… tidak [dikubur] dalam lubang besar,” ungkap salah-seorang anaknya, Setiady, dalam kesaksiannya kepada BBC News Indonesia, akhir Oktober 2021 lalu.

Setiady, anak keempat dari sembilan bersaudara ini, perlu sekian tahun untuk berani bersuara di hadapan publik.

Selama bertahun-tahun dia memilih mengubur dalam-dalam tragedi yang menimpa keluarganya.

Ketika diwawancarai peneliti asal Australia, Jess Melvin, tentang tragedi yang menimpa ayahnya sekian tahun lalu, dia masih menggunakan nama samaran, yaitu Ramli.

Tetapi, dalam wawancara khusus dengan BBC News Indonesia, pria kelahiran 1955 ini akhirnya bersedia membuka jati dirinya dan mengungkap peristiwa pahit kelam itu.

Diawali kontak dengan salah seorang sahabat ayahnya, pensiunan dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Padang ini, akhirnya menyatakan bersedia diwawancarai.

“Sudah saatnya kebenaran diungkapkan,” Ady — panggilannya — mengutarakannya kepada saya dan videografer Anindita Pradana. Kami bertemu di sebuah hotel di Kota Padang, Sumatera Barat. Lalu cerita pun mengalir.

Salah satu sudut di kawasan Lhoknga, Aceh Besar, tempat Thaib Adamy — elite PKI di Aceh — diduga kuat ditembak mati oleh tentara

Selama ini, nama Thaib Adamy seperti lenyap dari ingatan masyarakat Aceh. Namanya seakan-akan hilang, mirip momok menakutkan, semenjak tragedi 1965 dan selama rezim Orde Baru berkuasa.

Setelah Reformasi 1998, sosoknya mulai samar-samar muncul melalui buku Atjeh Mendakwa, yang berisi pledoi dirinya ketika diadili karena dituduh menghasut, dua tahun sebelum G30S.

Buku yang diterbitkan pada 1964 oleh PKI Aceh ini sudah beredar secara daring dan dapat diunduh.

Namun bagaimana kisah kematian Thaib Adamy, nasib istri serta anak-anaknya setelah tragedi itu, masih buram — sebelum Setiady akhirnya membeberkannya dalam wawancara ini.

Kenang-Kenangan Jam Tangan Rusia

Kembali lagi ke peristiwa horor eksekusi atas Thaib Adamy di Lhoknga. Menurut Ady, ada percakapan terakhir antara sang algojo dan ayahnya beberapa menit sebelum eksekusi.

Dari beberapa algojo, ada satu orang yang disebutnya “anggota polisi militer” dan “memiliki hubungan saudara jauh” dengan ayahnya. “Mereka saling kenal baik,” ungkap Ady.

Menjelang ditembak mati, Thaib disebutkan menyerahkan jam tangan buatan Rusia kepada sang calon algojo itu sebagai “kenang-kenangan”.

“Waktu penjarahan itulah, abang saya paling tua dibunuh dengan bambu runcing. Lehernya bolong,” ungkap Ady dengan kalimat datar. (Foto; Setiady menunjukkan foto Thaib Adamy dan istrinya, Samiah, akhir Oktober 2021).

Kisah jam tangan Rusia ini didapatkan Ady dari “salah-seorang kepercayaan” Usman Adamy — saudara ayahnya — ketika dia masih berusia 10 tahun, tidak lama setelah eksekusi tersebut.

Orang kepercayaan itu mendengar langsung ceritanya dari anggota militer yang mengawal dan terlibat dalam eksekusi terhadap ayahnya. Saat itu Adi masih duduk di bangku SD.

“Dia juga menunjukkan jam tangan buatan Rusia pemberian ayahnya,” katanya,” sebagai bukti.”

Diperkirakan angka versi militer ini jauh lebih sedikit dari perkiraan para peneliti dan pegiat HAM. Diperkirakan 3.000 hingga 10.000 telah dibantai dalam kurun waktu 1965-1966 di Aceh.

Abang lari saja ke hutan, saya jaminannya’

Melalui orang kepercayaan keluarga besar ayahnya itulah, Ady mendapat informasi bahwa sang algojo — yang memiliki hubungan saudara dengan ayahnya — sempat menawarkan Thaib Adamy supaya kabur.

“Abang lari sajalah, lari ke hutan dan menghilang. Saya akan menjamin,” ungkap Ady, menirukan ucapan sang algojo.

Namun ayahnya menolak dan kemudian berujar: “Kalau kamu sayang saya, tembak kepala saya, dan kuburkan saya sendiri.”

Pada malam jahanam itu Thaib memang tidak sendiri. Ada serombongan orang yang dituduh komunis dinaikkan truk dan digiring ke lubang pembantaian — leher mereka kemudian digorok satu persatu.

Lalu, “dor!” Dia kemudian dikuburkan secara tersendiri dan terpisah dari lubang yang sudah disiapkan bagi tahanan lainnya.

Thaib-Adamy-Pimpinan-PKI-Aceh-Yang-Tewas-Dibantai-1965-1966
Di hadapan sang eksekutor yang siap dengan pistolnya, Thaib Adamy mengucapkan pesan terakhir sebelum ajal menjemputnya. Lalu, “dor!”

Kisah seperti ini tidak pernah disinggung dalam narasi seputar kekerasan pasca G30S 1965 di Aceh yang beredar selama ini. Bahkan ada sebagian informasinya bertolak belakang.

Kesaksian dan analisa sejarawan dari Universitas Syiah Kuala, Rusdi Sufi, dalam buku Malam Bencana 1965 Bagian Dua (2012) , menyebut Thaib Adamy “terbunuh” dan “dipancung”.

“Thaib Adamy waktu akan dipancung dia minta disampaikan salam kepada Bung Karno dan meneriakkan Hidup Bung Karno,” tulis Rusdi Sufi. Ini berbeda dengan keterangan Ady.

Dan menurut Ady, pada masa-masa penuh kekerasan setelah G30S itu, dia juga dijanjikan untuk diajak berziarah ke lokasi di mana jasad ayahnya dikuburkan.

Tunggu kamu besar, nanti kita pergi ke kuburan ayahmu,” ujar orang kepercayaan keluarga besar ayahnya. Mereka menyebut lokasinya di Lhoknga, tapi tanpa rincian.

Para prajurit bersenjata mengangkut para terduga anggota Pemuda Rakyat di Jakarta, pada 10 Oktober 1965.

Namun rencana ini tidak pernah terjadi. Ady dipaksa untuk ‘melupakannya’ lantaran dihadapkan tragedi lainnya. Ibunya, Samiah, ditangkap dan ditahan di Kota Medan, karena pilihan politik suaminya.

Kakak sulung saya dibunuh, kakak nomor dua hilang’

Dilahirkan di kota Idi, Thaib Adamy — tahun kelahirannya tidak pernah diketahui — kelak menikahi Samiah, dan memiliki sembilan anak.

Dia tinggal di Banda Aceh selama menjabat salah-satu pimpinan PKI dan anggota DPRD setempat sejak akhir 1950an.

Selama gelombang pembasmian atas orang-orang komunis di Aceh setelah 1 Oktober 1965, Thaib ‘kehilangan’ Yusni dan Yasrun — anak pertama dan keduanya.

Markas Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jakarta, pada 8 Oktober, hancur lebur oleh amukan massa, menyusul Peristiwa G30S.

Yusni — berusia 19 tahun dan siswa sekolah menengah atas — dibunuh secara brutal oleh massa antikomunis saat mempertahankan rumah orang tuanya dari aksi penjarahan.

“Waktu penjarahan itulah, abang saya paling tua dibunuh dengan bambu runcing. Lehernya bolong,” ungkap Ady dengan kalimat datar.

Saat kejadian, Thaib Adamy dan anak kedua, Yasrun, sudah meninggalkan Banda Aceh, sementara istri dan anak-anaknya yang lebih kecil ‘diungsikan’ ke Kota Idi di pesisir timur Aceh.

Yasrun — berusia 18 tahun — “hilang” saat menemani ayahnya dalam perjalanan meninggalkan Banda Aceh menuju kota Takengon di Aceh Tengah.

Jenazah Yusni ditemukan di sebuah rumah sakit, namun tidak diketahui di mana dia dikuburkan. “Tidak ada yang berani menanyakan saat itu.”

Adapun Yasrun — berusia 18 tahun — “hilang” saat menemani ayahnya dalam perjalanan meninggalkan Banda Aceh menuju Kota Takengon di Aceh Tengah, ungkap Setiady.

Mereka “terpisah” setelah bus yang mereka distop oleh sekelompok orang di jalan menuju Takengon.

Thaib digelandang dan ditahan di Banda Aceh sebelum akhirnya dieksekusi, namun tidak diketahui nasib Yasrun.

“Waktu penjarahan itulah, abang saya paling tua dibunuh dengan bambu runcing. Lehernya bolong,” ungkap Ady. (Foto: 13 Oktober 1965, sekelompok mahasiswa Muslim membakar markas Pemuda Rakyat di Jakarta).

Ada informasi yang menyebut Yasrun pernah dipergoki berada di Kota Medan di masa-masa sulit itu, namun dia disebutkan memilih menjauh, ungkap Ady.

“Beberapa bulan lalu, saya mimpi kakak saya ini datang ke rumah,” katanya. Ady berulang kali menggarisbawahi bahwa Yasrun statusnya “hilang”.

‘Ibu dan anak-anaknya ‘diselamatkan’ polisi dari razia anti-komunis di Idi’

Ketika orang-orang komunis diburu dan sebagian dibantai di Aceh, istri Thaib Adamy, Samiah — saat usia kandungan di perutnya sekitar tujuh bulan — dan enam anaknya yang masih bocah, diungsikan keluar dari Banda Aceh.

Setiady masih ingat apa yang terjadi di sekitar rumahnya di Banda Aceh pada hari-hari setelah peristiwa G30S.

“Esok harinya, saya melihat unjuk rasa di jalan di depan rumah. Mereka meneriakkan ‘ganyang PKI, ganyang PKI’. Saya tidak mengerti apa yang terjadi,” ungkapnya.

Malam harinya, ibu dan enam anak itu naik kereta api meninggalkan Banda Aceh — rumah Thaib Adamy yang berada di perumahan jawatan kereta api tak jauh dari stasiun kereta kota itu.

“Esok harinya, saya melihat unjuk rasa di jalan di depan rumah. Mereka meneriakkan ‘ganyang PKI, ganyang PKI’. Saya tidak mengerti apa yang terjadi,” ungkap Setiady, saat berusia 10 tahun.

“Kita menuju Kota Idi, ke rumah kakek. Anak sulung, Yusni, menjaga rumah dan isinya,” kata Ady.

Setiba di Kota Idi, ibu dan anak-anak ‘diselamatkan’ seorang pejabat kepolisian yang kebetulan masih ada hubungan saudara, karena “ada razia terhadap orang-orang yang dituduh komunis”.

“Saya masih ingat, kami dimasukkan sel agar selamat. Sepekan kemudian, setelah aman, ibu dan anak-anaknya dikembalikan ke rumah kakek saya,” kisahnya.

Samiah dan anak- anaknya sempat singgah di Belawan, sebelum akhirnya menetap di Medan, Sumatera Utara, dalam kondisi ekonomi yang disebutnya serba pas-pasan.

“Kadang-kadang untuk makan, tidak ada uang,” ungkap Ady, mencoba menggambarkan kondisi ekonomi mereka. Ady saat itu tinggal bersama keluarga ayahnya di Banda Aceh.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak ketiga yang masih duduk kelas tiga SMP, Maimun, berjualan koran. Di kota ini, mereka beberapa kali pindah rumah kontrakan.

Nama sembilan anak pasangan Thaib Adamy tertera pada pusara kuburan istrinya di Medan, Sumatera Utara (BBC New Indonesia)

‘Tentara menangkap ibu saya, karena dicap anggota Gerwani dan istri Thaib Adamy’

Memasuki kira-kira tahun ketiga atau keempat dalam ‘persembunyiannya’ di Medan, ‘latar belakang’ Samiah akhirnya terendus aparat.

Di sebuah malam, serombongan tentara menangkap Samiah di rumah kontrakannya, dengan disaksikan anak-anaknya yang masih bocah.

“Abang saya, Maimun, mau ‘diangkat’ juga. Cuma melihat adik-adik saya yang masih kecil tergeletak di dipan, abang saya akhirnya nggak jadi dibawa,” ungkap Ady.

Setelah ditangkap, istri Thaib Adamy ini ditempatkan di rumah tahanan di Jalan Ghandi, Medan, tanpa proses peradilan. Dia ditahan karena pilihan politik suaminya dan dia sendiri dicap anggota Gerwani.

Di sebuah malam, serombongan tentara menangkap Samiah di rumah kontrakannya, dengan disaksikan anak-anaknya yang masih bocah.

Nantinya dia dipindahkan ke penjara Sukamulya, lalu dipindah ke tempat penahanan di Jalan Binjai, Medan, dan berakhir di Tanjung Kaso.

“Di sanalah, ibu diizinkan jualan singkong goreng,” ungkapnya. Sekitar 1969, setelah tamat SD, Ady kembali ke Medan dan ikut membantu ibunya berjualan.

Selama ibunya dipenjara, Maimun, Ady dan adik perempuannya, Dharma Dewi (kelahiran 1957), secara bergantian merawat empat adik-adiknya.

Saya paling pilu mengingat pertanyaan adik: ‘Mengapa ibu tidak pulang?”

Ketika mengungkapkan penahanan ibunya selama tujuh tahun dan kondisi adik-adiknya yang masih kecil, Ady tak mampu menahan tangis. Suaranya acap bergetar.

“Adik saya perempuan, kelahiran Desember 1965… Waktu ibu ditahan di Jalan Binjai, dia bertanya ‘kenapa mamak tidak pulang? Ngapain di sini?’…. Itu saya paling pilu ketika melihat adik-adik…”

“Adik saya perempuan, kelahiran Desember 1965… Waktu ibu ditahan di Jalan Binjai, dia bertanya ‘kenapa mamak… tidak pulang… ngapain di sini’…. Itu saya paling pilu ketika melihat adik-adik…” (Foto atas: Seseorang yang dituduh simpatisan PKI ditangkap di Pulau Jawa oleh aparat militer, setelah 1 Oktober 1965).

“Belum lagi kalau orang mencibir. Mereka masih kecil-kecil, sehingga sampai sekarang ada di antara mereka yang trauma,” Ady tak kuasa menahan deraian air matanya.

BBC News Indonesia sempat mengajak Ady ke kota Medan dan bertemu salah-satu adiknya. Sang adik menangis saat kami temui dan menolak diwawancarai. Dia rupanya masih trauma.

Setelah sempat ditempatkan di kamp di Tanjung Kaso, Samiah akhirnya dibebaskan sekitar tahun 1977. Dengan demikian, dia ‘dipisahkan’ dari anak-anaknya sekitar tujuh tahun.

“Ibu saya tidak pernah diadili, padahal saya ingin mendengarkan [dakwaan atas ibunya],” ujarnya.

Samiah, sang ibu, tutup usia pada 1 Oktober 1984, ketika Ady tengah menyusun skripsi saat kuliah di IKIP Medan di jurusan olah raga.

‘Walau bapak saya pemimpin PKI di Aceh, dia wajibkan anak-anaknya shalat’

Atmosfer Orde Baru yang melabel PKI sebagai ‘hantu menakutkan’ dan semua pengusungnya seolah-olah ‘antiTuhan’, membuat narasi alternatif tentang sosok Thaib Adamy tidak diberi tempat selayaknya.

Setidaknya hal itu dirasakan oleh salah-satu anaknya, Setiady. “Banyak fitnah yang ditimpakan pada ayah saya,” ungkapnya.

Kepada BBC News Indonesia, dia kemudian mengungkap apa yang disebutnya sebagai fakta tentang ayahnya.

Mulai tuduhan ayahnya ‘tak percaya Tuhan’ hingga isu ayahnya menyimpan senjata sebagai persiapan perlawanan di Aceh. Berikut petikan penuturannya:

“Walau bapak menjadi pimpinan PKI di Aceh, anak-anaknya tetap diwajibkan salat lima waktu, menjalankan puasa Ramadan, dan mengaji al-Quran,” kata Adi. (Foto: Setiady berziarah di makam ibunya di kota Medan, akhir Oktober 2021). Doc. BBC New Indonesia
  1. Isu Thaib Adamy ateis

Walau bapak menjadi pimpinan PKI di Aceh, anak-anaknya tetap diwajibkan salat lima waktu, menjalankan puasa Ramadan, dan mengaji al-Quran.

Kepada anak-anaknya, bapak dan ibu tidak pernah mengajarkan tentang ateisme. Atas didikan mereka, faktanya kami sampai sekarang meyakini adanya Tuhan.

Kalau ibu saya dikatakan aktif di organisasi Gerwani, ibu saat itu akan marah kalau anak-anaknya tidak menjalankan salat lima waktu.

  1. Isu Thaib Adamy mengetahui peristiwa G30S

Saya berusia 10 tahun, ketika saya melihat bapak mendengar berita radio setelah 1 Oktober 1965, tentang apa yang disebut upaya kudeta di Jakarta.

Usai mendengar berita itu, bapak seperti kebingungan. Dia mondar-mandir di ruangan. ‘Apa yang terjadi? Kenapa tidak diberitahu? Bukankah tidak ada rencana seperti ini?’

Saya berusia 10 tahun, ketika saya melihat bapak mendengar berita radio setelah 1 Oktober 1965, tentang apa yang disebut upaya kudeta di Jakarta’.

Sehari kemudian, bapak memberitahu ibu, seraya memeluknya. Dia bilang mau pergi bersama anaknya yang nomor dua, Yasrun. Anak nomor satu, Yusni, diminta jaga ibu dan adik-adiknya.

Bapak memberi pesan kepada ibu agar menjaga anak-anak dan rawat baik-baik. (Setiady menahan tangis). Bapak lalu pergi.

  1. Isu Thaib Adamy menyimpan senjata di rumahnya

Saya sering mendengar informasi bahwa ayah saya disebutkan menyimpan senjata di rumahnya seolah-olah sebagai persiapan kudeta PKI di Aceh. Ini tidak benar, ini fitnah.

Sama-sekali tidak benar semua itu. Yang benar, di pekarangan di belakang rumah kami di Banda Aceh, memang kadang ditemukan granat yang sudah tidak berfungsi.

Rumah kami terletak di dalam kompleks PJKA, dan di belakang pekarangan rumah kami adalah gudang perbekalan militer.

Di bawah kolong gudang perbekalan militer itu, ada banyak ditemukan termos, granat yang tidak aktif lagi, sangkur. Saya bahkan mengambil sangkur atau granat itu dari sana.

Memang kalau ketahuan, kami bisa dimarahi, tapi namanya juga anak-anak. Saya memang yang sering main ke gudang itu dan membawanya untuk main-main saja.

Inilah kemudian dikatakan oleh rezim saat itu bahwa ditemukan granat di dalam rumah. Padahal bapak saya tidak pernah menyimpan senjata atau granat di rumah.

Saya tidak pernah melihat bapak menyimpan pistol. Kalau dia menyimpan senjata, kami akan tahu karena rumah kami ukurannya kecil. Perabot di rumah juga tak banyak.

Itulah sebabnya tuduhan rezim Orba itu fitnah belaka. Sebuah rekayasa untuk meyakinkan orang-orang di Aceh bahwa ayah saya berencana untuk melakukan pemberontakan.

‘Dia berpidato politik di ruangan sidang’: Kesaksian bekas pengacara Thaib Adamy

Thaib Adamy pernah dipenjara dua tahun karena divonis bersalah oleh Pengadilan Negeri (PN) Sigli, Aceh, 1963, akibat tuduhan menghasut yang dianggap menimbulkan onar.

“Dia dihukum dua tahun karena dianggap terbukti menghasut rakyat untuk membenci pejabat negara,” ungkap Syahriar Sandan, salah-seorang bekas pengacaranya, kepada BBC News Indonesia, akhir Oktober lalu.

Tuduhan itu berpangkal dari pidato Thaib pada Rapat Umum PKI, 3 Maret 1963, di gedung bioskop Beringin di Kota Sigli.

Dia kemudian ditangkap pada akhir Maret 1963 atas perintah Kolonel M Jasin, selaku Panglima Kodam I Iskandar Muda.

Syahriar Sandan, kelahiran 1939, ditunjuk sebagai pengacara pengganti dalam perkara Thaib Adamy.

Dia menggantikan Sofyan SH, yang berhalangan lantaran harus operasi usus buntu.

Tuduhan itu berpangkal dari pidato Thaib pada Rapat Umum PKI, 3 Maret 1963, di gedung Bioskop ‘Beringin’ di kota Sigli, Aceh.

“Usia saya saat itu 24 tahun, saya masih sarjana muda,” ungkap Syahriar saat ditemui BBC News Indonesia di kediamannya di Kota Medan, Sumatera Utara.

Syahriar mulai mendampingi Thaib saat pembacaan pembelaannya di PN Sigli, Kamis, 12 September 1963, yang digelar di Kantor Kodim — belum jelas kenapa digelar di kantor militer itu.

Pledoi Thaib kemudian dimuat dalam buku ‘Atjeh Mendakwa’ yang diterbitkan Komite PKI Aceh, awal Januari 1964.

Dalam pembelaannya, “dia mengupas persoalan bagaimana keadaan suasana negeri kita pada waktu itu, baik di bidang ekonomi atau politik,” ungkap Syahriar.

“Mirip pidato politik,” tambahnya. Dalam buku setebal 127 halaman itu, Thaib menolak segala tuduhan menghasut seperti didakwakan tim jaksa.

“Peristiwa pengadilan ini pertarungan terbuka kekuatan Manipol melawan kaum Manipolis munafik,” tulis Thaib.

Pledoi Thaib Adamy dimuat dalam buku ‘Atjeh Mendakwa’ yang diterbitkan Komite PKI Aceh, awal Januari 1964.

Adapun tim pengacaranya, dalam pembelaannya, menyatakan tuduhan jaksa “tidak terbukti” karena “tidak ada kerusuhan yang ditimbulkan karena pidatonya,” kata Syahriar.

Namun majelis hakim, rupanya, menyandarkan putusannya antara lain dari keterangan saksi memberatkan yang dihadirkan jaksa.

“Saksi itu menyatakan ada ejekan terhadap bupati, yaitu ‘huuuh’, saat dia lewat… Bupati dipermalukan,” ungkap Syahriar.

Syahriar Sandan (kiri), kelahiran 1939, ditunjuk sebagai pengacara pengganti dalam perkara Thaib Adamy. Foto: Setiady (kanan), anak Thaib Adamy, saat bertemu Syahriar di rumahnya di Kota Medan, akhir Oktober 2021 lalu. (BBC New Indonesia)

Saat Thaib membacakan pledoinya, Syahriar masih ingat gaya kliennya berbicara. “Saya ingat gaya bahasanya, tidak berkobar-kobar. Menyenangkan,” ungkapnya.

Dia juga tidak bisa melupakan persidangan hari itu dihadiri “banyak orang” di luar ruangan sidang. Mereka datang dari berbagai beberapa kota di pesisir timur Aceh, katanya.

Dalam buku Atjeh Mendakwa, disebutkan dihadiri massa pendukungnya yang mencapai 10.000 orang. Sidang juga digelar hingga sekitar lima jam.

“Saya ingat, ada teriakan dan tepuk tangan pendukungnya,” ungkap Syahriar.

“Saya tidak tahu berapa yang hadir, karena saya di dalam ruangan sidang. Saya juga tidak menghitung berapa jam dia membacakan pembelaannya,” tambahnya.

Seorang warga Kota Sigli, Teungku Jamil alias Jamil Rasyid, kini berusia 80 tahun, masih teringat seperti apa suasana sidang saat Thaib Adamy membacakan pembelaannya.

“Kita berada di luar [gedung peradilan]… banyak orang mendengar pembelaannya,” kata Jamil. “Ada pendengar suara di luar.”

Jamil dulu aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII), yang berada di barisan antikomunis ketika pembantaian 1965 mulai terjadi di Aceh.

“Saya mendengar banyak orang agak simpati kepada pidatonya pada waktu itu,” ujarnya saat ditemui BBC News Indonesia di rumahnya di kampung Blang Paseh, Sigli, akhir Oktober 2021 lalu.

“Orang kayak Thaib Adamy itu pintar berbicara. Rakyat agak simpati dengan pidatonya,” akunya. “Orang-orang senang saat dia bicara.”

Usai pembacaan vonis, Syahriar mengaku tidak pernah bertemu kembali dengan Thaib. Dua tahun kemudian, menjelang G30S, masa hukumannya berakhir.

“Apa yang terjadi pada dia [setelah dibebaskan], saya tidak tahu. Cuma banyak kabar tentang dia sesudah G30S, dia dibawa ke daerah Lhoknga atau daerah mana, dia dibunuh di situ,” kata Syahriar.

‘Thaib Adamy masuk PKI, dua saudaranya masuk PNI dan Masyumi’ – kesaksian keluarga besar

Tragedi yang menimpa keluarga Thaib Adamy meninggalkan trauma, tak hanya anak-anaknya, tetapi juga keluarga besarnya.

Jarak waktu lebih dari 55 tahun dari peristiwa kekerasan itu, rupanya, belum membuat kadar trauma sebagian dari mereka menjadi berkurang.

Kenyataan seperti itu jelas terlihat ketika kami mengajak Setiady ke kampung halaman ayahnya di Idi Rayeuk, Aceh Timur, dan ke kota Medan, untuk bertemu sanak keluarganya.

Salah seorang adik perempuannya yang kami temui di Medan, sambil berlinang air mata, menolak untuk mengisahkan ulang kenyataan pahit yang dialaminya.

Tragedi yang menimpa keluarga Thaib Adamy meninggalkan trauma, tak hanya anak-anaknya, tetapi juga keluarga besarnya. (Foto: Setiady di atas bekas jembatan kereta api di sudut kota Idi, Aceh Timur, Oktober 2021). ( BBC New Indonesia)

Dia mengaku masih mengalami trauma. Ada pula kekhawatiran terhadap sikap masyarakat yang akan melabelinya dengan stigma PKI jika identitasnya diungkap.

Kepada kami, dia hanya mau menjelaskan alasannya menolak diwawancarai.

“Saya tadi menangis, karena masih trauma. Jantung rasanya sakit. Saya takut terulang lagi [kejadian kekerasan itu]… Sudahlah, serahkan semuanya kepada Allah,” ujarnya perlahan.

Ketakutan seperti ini juga terpancar dari keluarga besar Thaib Adamy yang kami temui di Kota Idi, Aceh Timur — kira-kira empat jam perjalanan darat dari kota Medan.

Kami menangkap kesan, mereka masih menaruh khawatir bahwa peristiwa kekerasan seperti itu terulang kembali. Inilah yang menjadi alasan keengganan keluarga Rohani, sepupu Thaib Adamy, untuk bersaksi.

Rohani, kelahiran 1942, adalah sepupu Thaib Adamy dari garis ibunya. Dia tinggal bersama salah-satu putrinya di salah-satu ruas jalan protokol di kota kecil itu. Di rumahnya tumbuh pohon mangga yang rindang.

Dia akhirnya bersedia diwawancarai, tapi sama-sekali tidak mau menyinggung latar belakang di balik peristiwa kekerasan 1965 yang menimpa keluarga besarnya.

Salah seorang putrinya mengaku khawatir jika peristiwa itu diungkit lagi akan berisiko terhadap keamanan keluarganya pada situasi sekarang atau nanti.

“Siapa yang bisa menjamin kejadian kekerasan itu tak terulang lagi?” ujarnya berulang-ulang.

Rohani kemudian lebih banyak bercerita sosok Thaib Adamy sebagai ‘manusia biasa’ dan bukan sebagai politikus PKI.

“Saya seperti adiknya sendiri, padahal kami sepupu,” ungkapnya.

Dia lalu menyinggung sedikit tentang silsilah Adamy yang memang berasal dari Kota Idi. “Yang betul, nama awalnya itu Adam, lalu ditambah ‘i’ atau ‘y’ di belakangnya,” ungkapnya.

Sebelum terjun ke politik, Thaib Adamy adalah seorang masinis kereta api. Dahulu kala, Kota Idi dilalui jalur kereta api yang menghubungkan Banda Aceh-Medan.

Dia lalu teringat, Thaib pernah singgah ke rumah keluarganya di Idi, ketika kereta api yang dikendarainya berhenti di Stasiun Idi.

“Kami memang sengaja tidak menyinggung politik dalam percakapan. Itu alasan kuat agar silaturahmi di antara keluarga Adamy terus terjaga sampai sekarang,” Setiady kali ini yang berbicara. (Foto: Setiady berdiri di sebuah lokasi yang dulunya merupakan jalur kereta api di kota Idi, Aceh Timur) (BBC New Indonesia)

Rumah Rohani relatif tidak begitu jauh dari stasiun. “Dia selalu bawa oleh-oleh ke kami, lalu dia berangkat lagi ke Medan,” kisahnya.

Sebaliknya, di masa ketika masih remaja, Rohani dan keluarganya selalu singgah ke rumah Thaib Adamy di Banda Aceh. Mereka naik kereta api.

“Pak Thaib Adamy itu baik, suka menolong,” ujarnya.

Tetapi setelah tragedi 1965, silaturahmi di antara keluarga besar Adamy sempat ‘terganggu’ sekian waktu.

Waktu dan jarak yang akhirnya membuat perjumpaan di antara mereka kembali merekah, walaupun mereka sebisa mungkin untuk menahan diri agar tidak menyinggung masalah politik.

“Kami memang sengaja tidak menyinggung politik dalam percakapan. Itu alasan kuat agar silaturahmi di antara keluarga Adamy terus terjaga sampai sekarang,” Setiady kali ini yang berbicara.

Pilihan politik yang berbeda membuat keluarga besar Adamy sempat terpecah menjelang dan setelah G30S 1965. Namun hal ini tidak sampai memutus persaudaraan di antara mereka.

Wahab Ahmadi, kelahiran 1939, merupakan keluarga dekat Thaib Adamy. Kami menemuinya di kediamannya di Kota Medan akhir Oktober lalu.

Saat Wahab menjadi anggota TNI pada 1959, Thaib Adamy sudah menjadi politikus PKI yang terkenal di Aceh. Perbedaan latar belakang ini tidak membuat hubungan mereka terganggu.

“Saat saya sekolah [militer], saya sering ke rumahnya. Saat ada acara keluarga, saya juga tidak pernah tidak hadir,” aku Wahab.

Dia lalu bercerita bahwa pilihan politik keluarga Adamy tidaklah tunggal.

“Thaib Adamy masuk PKI, Osman Adamy, dan Abubakar Adamy masing-masing masuk PNI dan Masyumi,” ungkapnya, memberikan contoh.

Memang hubungan silaturahmi tidak selalu harmonis, utamanya ketika berbenturan dengan isu politik, seperti ketika terjadi peristiwa kekerasan 1965.

Namun mereka kemudian berangsur-angsur bisa sampai pada satu titik bahwa hidup tak melulu persoalan politik semata. Ada hal lain yang lebih penting, yaitu ikatan keluarga.

“Buktinya, kami tetap bisa berhubungan baik,” ungkap Wahab, yang kemudian dibenarkan Setiady.

Wahab lantas mencontohkan, ketika istri Thaib Adamy ditangkap dan ditahan di Medan, karena gara-gara dikaitkan dengan G30S 1965, dia beberapa kali mengunjunginya di rumah tahanan.

Padahal, saat itu Wahab berada dalam barisan apa yang disebutnya bertujuan “menumpas G30S PKI”. Dia bergabung dalam organisasi MKGR (Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong).

“Ya, namanya keluarga dekat. Soal pilihan politik, ya itu politik. Tapi kita kan keluarga. Ini lebih atas dasar kemanusiaan dan kekeluargaan,” kata Wahab, mencoba mengingat lagi pilihannya untuk mengunjungi istri Thaib Adamy.

Kembali lagi ke Kota Idi. Di salah-satu sudutnya, tidak jauh dari bekas bangunan stasiun kereta api Idi, kami menemui dua bersaudara, Ratnawati dan Mariana, di tempat berbeda.

Keduanya masing-masing kelahiran 1949 dan 1953. Ayah tiri Ratna dan Mariana merupakan sepupu Thaib Adamy.

Seperti Thaib Adamy, ayah tiri mereka — Abdullah alias AGT — juga menjadi korban kekerasan pascaG30S 1965. Jenazahnya sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya.

Saat kami berkunjung ke rumahnya, Ratna dan Setiady beberapa kali berlinang air mata ketika mengingat lagi apa yang mereka rasakan ketika ayah mereka dieksekusi.

“Alhamdulillah kami selamat, walaupun orang tua kami tidak selamat. Kami masih dilindungi,” ungkap Ratna. Pada masa itu, Ratna dan Ady masih anak-anak.

Dari kacamata sekarang, Ratna mencoba mengingat lagi sosok Thaib Adamy, yang disebutnya “tidak pernah curang” dan “baik”.

“Orangnya gagah, tinggi besar, rambut ikal dan pandai ngomong,” Ratna mencoba menggambarkan fisik Thaib Adamy.

Itulah secuplik ingatan Ratna tentang sosok Thaib Adamy. Siang itu dia lebih banyak mengingat ketika dia dan Setiady masih bocah tidak lama setelah peristiwa G30S.

Kala itu, mereka tinggal bersama di rumah keluarga besar — disebut ‘rumah panggung’ — di dekat rel kereta api di Kota Idi.

Dalam kondisi menderita lantaran orang tua mereka ‘hilang’, Ratna dan Setiady teringat ketika mereka nyaris setiap hari mencabuti ubi jalar di halaman rumah itu untuk dikonsumsi — karena tidak ada makanan lain yang dapat dimakan.

Saat kami berkunjung ke rumahnya, Ratna dan Setiady beberapa kali berlinang air mata ketika mengingat lagi apa yang mereka rasakan ketika ayah mereka dieksekusi pada tahun-tahun gelap 1965-1966. ( BBC New Indonesia )

“Kita anak-anaknya, kena imbas,” kata Ratna, lirih. Lalu Setiady menimpali juga dengan nada perlahan: “Syukurlah, kita masih diberi perlindungan, kita selamat.”

Di akhir perjalanan, kami mengunjungi ‘rumah panggung’ — tidak ada yang berubah, kecuali tangga kayu diganti beton dan rel kereta api yang melintas di depan rumah itu tidak lagi berwujud.

Di dalam rumah itulah, 56 tahun silam, ayah tiri Ratna dan Mariana diciduk, ditahan dan dieksekusi. Mariana, kelahiran 1949, berada di dalam rumah itu ketika tragedi itu terjadi.

Dan siang itu, Mariana bercakap-cakap dengan kami di ruangan yang sama. Masa lalu nan gelap itu seperti hadir kembali ketika Mariana ingat detil-detil ketika ayahnya ‘diangkut’.

Dalam ingatan anak sulung dari lima bersaudara ini, Thaib Adamy adalah sosok yang “suka bergaul, pandai, dan suka menolong.”

Saat mengunjungi rumah panggung, kami ditemani salah-seorang anak Ratnawati. Namanya Bulqiah, kelahiran 1984.

Dia mengaku pernah mendengar “sama-samar” kisah pahit yang dialami kakeknya dan Thaib Adamy. Cerita ini dia dengar dari ibu dan neneknya.

“Kalau dibilang emosional, iya, karena kami satu keturunan, mungkin kita menyayangkan kejadian seperti itu,” katanya.

Bulqiah lalu mencoba menganalisa, seolah-olah menempatkan sebagai pengamat yang berjarak: “Mungkin dulu hukumnya seperti apa… Kalau sekarang kita sudah demokratis. Serba terbuka. Dulu serba tertutup. Kalau dulu sudah demokratis, tidak akan terjadi seperti itu.”

Ketika saya tanya, bagaimana cara pandangnya dalam melihat tragedi kekerasan 1965 di Aceh, Bulqiah mengaku mendapat informasi seputar dari pelajaran sekolah di masa SD sampai SMA.

“Kebenaran [terkait peristiwa 1965], ya kebenaran yang kami dapat seperti yang kami pelajari di sekolah,” ujar Bulqiah yang lulusan SMA.

Dia kemudian berujar dirinya “sudah terlalu jauh” dengan peristiwa 1965 dibanding, misalnya, konflik bersenjata antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) setelah 1998.

Jika nantinya dia tertarik untuk mempelajari tragedi 1965 di Aceh, yang mengakibatkan kakeknya menjadi korban, Bulqiah akan menempatkannya sebagai sebuah peristiwa sejarah semata.

“Harus saya pelajari lagi,” ujarnya. Jarak waktu puluhan tahun agaknya membuat Bulqiah tidak merasakan langsung trauma seperti yang dialami ibunya atau keluarga besar Adamy lainnya.

‘Saya ingin mencari dimana jasad ayah dan kakak sulung saya dikuburkan’

Puluhan tahun bergelut dengan rasa sakit dan penderitaan akibat tragedi 1965, Setiady terus berupaya mengembangkan kesadaran agar tidak menjadi tawanan masa lalu.

Dan siang itu, Mariana (kiri) bercakap-cakap dengan kami di ruangan yang sama. Masa lalu nan gelap itu seperti hadir kembali ketika Mariana ingat detil-detil ketika ayahnya ‘diangkut’. (BBC New Indonesia)

“Saya tidak pernah menyimpan dendam,” Setiady berulang kali menekankan hal itu kepada saya.

Namun demikian dia memiliki secuil harapan agar tragedi yang menimpa keluarganya, juga para penyintas 1965 lainnya di Aceh, dapat diungkap.

“Ungkap faktanya,” ujarnya. Hal dia tekankan karena selama ini para korban 1965 dan keluarganya seolah-olah dalam posisi salah sehingga seperti ‘dibenarkan’ untuk dibantai.

“Belum lagi stigma PKI yang terus distempelkan kepada anak-cucunya,” tambahnya.

Bagi Setiady, mengungkap apa yang terjadi pada keluarganya dalam tragedi yang terjadi 56 tahun silam itu justru menyembuhkannya, dan bukan justru menoreh luka lama.

“Sudah saatnya kebenaran diungkapkan,” kata Setiady di awal wawancara.

Jika hal itu terealisasi, dia membayangkan akan muncul kesadaran supaya tindakan kekerasan brutal seperti itu tidak akan terulang di masa depan.

Dia memahami bahwa penyelesaian pelanggaran HAM berat dalam tragedi 1965 sudah menjadi agenda Reformasi 1998 dan pemerintah sudah berjanji untuk menyelesaikannya.

Anak keempat dari sembilan bersaudara dari pasangan Thaib Adamy-Samiah ini sepertinya ‘sudah selesai’ dengan masa lalunya.

Dialah yang paling berani mempertanyakan tindakan pembantaian orang-orang yang tidak bersalah dalam kekerasan pasca G30S 1965 di Aceh — jika dibandingkan para keluarga penyintas kekerasan 1965 di Aceh yang kebanyakan memilih diam.

Dia lantas berkisah beberapa potongan dalam hidupnya. Di masa kecil, tidak lama setelah G30S, Adi sempat ditolak pimpinan sekolah dasar karena ‘latar belakang’ ayahnya.

“Rupanya pimpinan sekolah takut dicap PKI, jika menerima anaknya Thaib Adamy sebagai muridnya,” ungkapnya. Saat itu dia tinggal bersama kakeknya di Kota Idi, Aceh Timur.

Barulah setelah seseorang dari keluarga ayahnya — Ismail Petua Husin, yang kelak menjadi orang tua angkatnya — yang disegani ‘turun tangan’, pihak sekolah tak kuasa menolaknya. Tapi peristiwa ini tak lekang dari ingatan sang bocah.

Dalam atmosfer stigma yang dilekatkan pada ayahnya, Adi muda akhirnya tiba pada satu titik: bagaimana supaya dirinya tak tertawan masa lalu itu.

Ady — panggilan akrabnya — membayangkan dapat menemukan lokasi di mana jasad ayah dan kakak sulungnya dikuburkan. (BBC New Indonesia)

“Saya harus memiliki kemampuan,” ujarnya, seperti bersumpah. Pilihannya adalah bidang olah raga, persisnya polo air.

Ady muda kemudian menghabiskan usia masa remajanya di kolam renang di Kota Medan.

Kelak namanya terukir sebagai tim polo air Sumatera Utara dan Sumatera Barat dalam beberapa kali Pekan Olah raga Nasional (PON) mulai 1973 hingga 1988.

Puncaknya, Adi dipercaya memperkuat tim polo air Indonesia di ajang Sea Games 1977, 1979, 1981 hingga 1983.

“Saya juga pernah menjadi pelatih polo air Indonesia di Sea games 1989 di Kuala Lumpur,” katanya.

Prestasi di bidang olah raga ini, nantinya mengantar Adi memasuki dunia profesi sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi negeri di Kota Padang, Sumatera Barat.

“Saya selalu ingat prinsip ibu saya, agar anak-anaknya diusahakan sekolah, betapapun susah hidup kami,” ujarnya mencoba mengingat lagi.

Kembali lagi kepada sikapnya untuk memilih membuka tabir gelap 1965.

Selama perjalanan ke Medan dan kota kecil Idi di Aceh Timur, dia juga berusaha meyakinkan keluarganya agar mau bersuara, tetapi tidak gampang — dan dia memakluminya.

“Mereka belum selesai dengan traumanya,” ujarnya perlahan. Salah-seorang adiknya yang kami temui termasuk yang belum siap berbicara.

Setiady terus melangkah. Dan di ujung wawancara, Ady — panggilan akrabnya — membayangkan dapat menemukan lokasi di mana jasad ayah dan kakak sulungnya dikuburkan.

Demikian pula harapan menemukan kejelasan tentang keberadaan kakak nomor dua yang disebutnya ‘masih hilang’.

“Mungkin kalau memang benar [nanti ditemukan lokasi kuburannya], saya akan bongkar, dan saya pindahkan ke satu tempat, agar anak-anak saya tahu, inilah kakeknya,” pungkas Setiady.

Kelak apabila keinginannya itu terwujud, Ady membayangkan pula bahwa anak-anaknya, adik-adiknya, serta keluarga besarnya akan dapat berziarah ke makam Thaib Adamy.

‘Aceh sebagian besar hidupnya dalam kondisi konflik’ — Mengapa kekerasan 1965 di Aceh seperti dilupakan?

Patroli pasukan Marinir Indonesia di sebuah desa di Lhok Seumawe, 21 Mei 2003.

Narasi di seputar pembantaian terhadap orang-orang yang dicap komunis di Aceh pada 1965, termasuk yang dialami Thaib Adamy dan dua anaknya, nyaris lenyap dari ingatan masyarakat

Agak berbeda dengan para penyintas 1965 di Jawa, Bali atau Sumatera Utara, sebagian besar keluarga korban di wilayah Aceh, memilih menutupi sisi pahit hidupnya pada periode gelap itu.

Puluhan tahun kemudian, bahkan tragedi kemanusiaan itu, masih menghantui sebagian besar para penyintas dan keluarganya.

Mengapa pembunuhan massal di Aceh seperti lenyap dari ingatan masyarakat?

“Situasi di Aceh berbeda dengan provinsi lain. Karena Aceh sebagian besar hidupnya dalam kondisi konflik,” kata pegiat Lembaga Bantuan Hukum, LBH, Banda Aceh, Aulianda Wafisa, kepada BBC News Indonesia.

Perjalanan Aceh, seperti tercatat dalam sejarah, nyaris tanpa henti dilanda konflik bersenjata.

Usai Sukarno dan Hatta membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945, Aceh dilanda ‘perang saudara’ yang disebut Perang Cumbok antara 1945-1946.

Lalu, pemberontakan Darul Islam/TII (1953-1962) yang menampilkan sosok Teungku Daud Beureueh sebagai pemimpinnya.

Dan ketika pemberontakan itu baru saja usai, huru-hara politik G30S di tingkat nasional membuat darah kembali berceceran di Aceh.

Trauma masyarakat Aceh terus berlanjut. Pada 1976, Hasan Tiro mendeklarasikan kemerdekaan Aceh dari Indonesia. Darah kembali tumpah — sebelum akhirnya MoU Helsinki 2005 menyudahinya.

“Episodenya [kekerasan] berlainan, tapi korban tetap manusia. Jadi, Aceh itu juga ‘tanah kekerasan’,” kata sosiolog dan pemerhati masalah sosial asal Aceh, Humam Hamid.

Dengan situasi seperti itu, sulit bagi korban untuk bercerita, kata Aulianda.

“Jadi upaya pemulihan korban itu hampir tidak ada,” ujar Kepala Program LBH Banda Aceh ini saat ditemui di kantornya, Oktober lalu.

Mungkin saja secara alamiah mereka ‘sembuh’, namun kemudian datang lagi konflik berikutnya. “Dan itu menebar ketakutan yang luar biasa,” kata Aulianda.

Sejauh amatannya, belum pernah ada upaya pengungkapan kebenaran atas apa yang terjadi di Aceh pada 1965. “Mereka juga tidak pernah mendapat pendampingan.”

“Beda dengan para penyintas di Jawa atau beberapa lain di Indonesia yang memiliki wadah berbagi dan saling menguatkan satu sama lain,” tambahnya.

Sekitar lima tahun silam, Aulianda Wafisa pernah terlibat sebuah penelitian terkait kekerasan 1965 di Aceh. Dia bersama timnya menemui keluarga korban di Aceh Tamiang dan Bener Meriah, Aceh.

“Sulit sekali bagi mereka untuk cerita, karena mungkin kami orang pertama yang menanyakan perihal itu,” ungkapnya.

Aulianda bersama timnya menemui keluarga korban dan berusaha mencari di mana kuburan massal atau lokasi pembantaian orang-orang yang dicap komunis setelah G30S 1965.

Bagi Humam Hamid, rantai kekerasan di Aceh yang menelan banyak korban, termasuk pembunuhan massal 1965, harus diungkap. “Sehingga ada hikmahnya.”

“Kita harus berdamai dengan masa lalu. Anak-anak kita ke depan harus hidup dengan tenang,” kata Humam saat ditemui di Banda Aceh, Oktober 2021.

Dia khawatir, apabila kasus-kasus kekerasan ini tidak dituntaskan, ada semacam ‘sumbatan’ yang tidak baik bagi masa depan Aceh dan Indonesia.

Pada titik ini, Humam meminta negara mengambil inisiatif dan mengambil peran paling depan. “Kalau tidak, ini akan diungkit-ungkit terus. Nggak pernah selesai.”

“Bangsa ini harus melepas beban sejarah yang besar untuk melangkah,” katanya lagi.

Upaya di tingkat nasional, pemerintah Indonesia sudah menyiapkan langkah non yudisial, melalui UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sebagai ‘payungnya’.

Tapi langkah ini kemudian berjalan di tempat, setelah ‘ketuk palu’ MK membuat KKR tak pernah terealisasi. Belum lagi penolakan sejumlah kalangan yang didasari motif politik.

Di Aceh, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, KKR, yang bertugas menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu, sudah dibentuk.

Namun saat ini, mereka masih fokus menyelesaikan kasus-kasus di masa konflik antara Gerakan Aceh Merdeka, GAM dengan pemerintah Indonesia, sesuai mandat MoU Helsinki 2005.

“Kami memang belum masuk ke dalam peristiwa-peristiwa yang di bawah 1976,” kata salah-seorang komisioner KKR Aceh, Muhammad Daud Beureuh, kepada BBC News Indonesia.

Sejarawan dari Sydney Southeast Asia Centre, Jess Melvin, masih berharap kepada KKR Aceh untuk menyelesaikan kekerasan 1965 di wilayah itu, setidaknya bisa diagendakan oleh komisioner berikutnya.

“Penting bagi mereka untuk meneliti pada kasus ’65, karena kekerasan militer [di Aceh] sangat mirip dalam dua fase konflik itu [antara konflik GAM-RI dan 1965),” kata Jess Melvin dalam wawancara dengan BBC News Indonesia melalui zoom, November 2021.

Sejauh ini Jess menaruh kepercayaan kepada KKR Aceh akan mengagendakan kekerasan 1965 dalam program kerjanya. “Lagipula KKR Aceh kan sifatnya permanen.”

“Jika ini terjadi, itu bisa menjadi contoh untuk kasus 1965 secara nasional,” kata penulis buku The Army and The Indonesian Genocide: Mechanics off Mass Murder (2018).

Buku yang ditulis Jess Melvin itu ini menampilkan dokumen internal militer di Aceh yang mengungkap bahwa operasi pembantaian atas orang-orang yang dituduh komunis di wilayah itu dikoordinir oleh Mayor Jenderal Suharto — kelak menjadi Presiden Indonesia.

Di luar penyelesaian secara non-yudisial, sekian tahun lalu, Komnas HAM melakukan penyelidikan atas kekerasan 1965 dan menyimpulkan diduga ada pelanggaran HAM berat.

Dalam perjalanannya, mereka kemudian menyerahkan hasil penyelidikannya kepada Kejaksaan Agung untuk ditindaklanjuti — namun sejauh ini tak ada langkah lanjutan.

Khusus kekerasan 1965 di Aceh, Aulianda Wafisa tidak terlalu berharap pada penyelesaian melalui jalur hukum, karena situasi politik nasional dan sikap masyarakat saat ini.

“Mustahil [ada proses hukum] dalam waktu dekat,” tegasnya.

Dia juga memahami kebijakan KKR Aceh yang saat ini lebih fokus kepada penyelesaian konflik bersenjata GAM-Indonesia (1976-2004).

Alasannya,” konfliknya cukup panjang, hampir 30 tahun. Semua mata dan telinga kita diarahkan ke era konflik itu (GAM-Indonesia),” katanya.

Dukungan terhadap perdamaian RI-GAM ditandai pelepasan burung merpati putih di Kota Banda Aceh, 14 Agustus 2005 oleh sejumlah mahasiswa di kota itu.

Dalam situasi seperti itulah, upaya yang bisa dilakukan adalah mendokumentasikan ‘suara-suara’ para korban 1965 dan keluarganya, sebagai proses pengungkapan kebenaran itu sendiri.

“Setidaknya ada dokumentasi yang ditujukan ujtuk proses pengungkapan kebenaran peristiwa 1965. Setidaknya kita berinvestasi dulu pada cerita,” paparnya.

Hal ini dia tekankan karena selama ini informasi yang beredar masyarakat didominasi narasi tunggal versi pemerintah.

Dengan memberikan tempat kepada para penyintas dan keluarganya untuk bersaksi, masyarakat bakal mendapatkan pemahaman lebih utuh dalam melihat tragedi 56 tahun silam itu.

“Sehingga tidak ada lagi monopoli informasi terkait peristiwa 1965 baik di Aceh atau tempat lainnya di Indonesia,” tandas Aulianda.

line
Tulisan ini merupakan bagian dari liputan khusus Pembantaian massal 1965 di Aceh — Kisah Algojo, korban terlupakan dan upaya penyembuhan di situs BBC News Indonesia.

Anda juga bisa menyimak kisah ini di Siaran Radio Dunia Pagi Ini BBC Indonesia dan siniar kami di Spotify.

Produksi visual oleh Anindita Pradana. Grafis oleh tim jurnalis visual East Asia BBC News.

Wartawan Sinarpidie.co di Sigli, Aceh, Firdaus Yusuf berkontribusi sebelum dan selama liputan ini di kota Sigli, Aceh.