oleh

Tgk Abdulah Syafi”i Panglima GAM Gugur Ditembak Tentara Indonesia, Ini Pesan Terakhir untuk Rakyat Aceh

-Sosok-364 views

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH –Siapa yang tidak kenal dengan Abdullah Syafi’i? Sosok yang paling dicari Tentera Nasional Indonesia (TNI) selama konflik mendera Aceh tapi sangat disanjung oleh rakyat Aceh.

Dalam sejarah perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sosok Teungku Abdullah Syafi’i tertulis dengan tinta emas.

Dalam catatan sejarah Aceh, dia adalah Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang sangat disegani dan berkharisma. Tengku Lah, begitu dia disapa merupakan pria kelahiran Bireuen, 12 Oktober 1947 silam.

Teungku Lah mengakhiri hidupnya di medan perang diusia 54 tahun. Dia gugur bersama istrinya Cut Fatimah dan dua pengawal setianya dalam kontak senjata dengan TNI di hutan Jim-jim, Pidie Jaya pada 22 Januari 2002.

Panglima GAM Tgk Abdulah Syafi”i gugur dalam kontak senjata dengan TNI di hutan Jim-jim, Pidie Jaya pada 22 Januari 2002.

Teungku Lah bersama istri dan pengawalnya dimakamkan dalam satu liang di Cubo, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya pada 24 Januari 2002.

Makam Abdulah Syafi”i dan isterinya Fatimah serta makam dua pengawal setianya, Foto 24 Januari 2002

Senin, 22 Januari 2019 hari ini, tepat 17 tahun almarhum Teungku Lah menghadap Illahi.

Untuk mengenang 16 tahun meninggalnya Teungku Lah, masyarakat Aceh mengirimkan doa untuk Sang Panglima.

Dalam sejarah perjuangan Aceh, Abdullah Syafi’i atau Teungku Lah merupakan pejuang yang setia.

Dia juga dikenal sebagai sosok yang ramah dan sering menyiapkan masakan untuk pasukannya kala bulan puasa.

Dalam sejarah perjuangan Aceh, Abdullah Syafi’i atau Teungku Lah merupakan pejuang yang setia.

Saat masih hidup, Teungku Lah berpesan dengan satu wasiat yang selalu dikenang. Penggalan kalimat itu seakan memberitahu bahwa ajalnya akan tiba saat itu. Adapun wasiat tersebut:

“…jika pada suatu hari nanti Anda mendengar berita bahwa saya telah syahid, janganlah saudara merasa sedih dan patah semangat. Sebab saya selalu bermunajat kepada Allah swt agar menasyhidkan saya apabila kemerdekaan Aceh telah sangat dekat. Saya tak ingin memperoleh kedudukan apa pun apabila negeri ini (Aceh) merdeka…”

Begitupun ketika Teungku Lah setelah dirinya tertembak. Ia mengatakan satu kalimat pada pengawalnya, Jalaluddin, sesaat sebelum tutup usia.

“Nyoe ka troh nyang lon lakee, ka troh watee nyang lon preh-preh (kini sudah tiba waktunya yang saya tunggu-tunggu),” kata Teungku Lah setelah ia tertembak dalam pertempuran bersama istrinya Cut Fatimah.(*)

Komentar

Indeks Berita