Terowongan Istiqlal Katedral Ide Brilian Jokowi Bangun Toleransi Umat Beragama

Terowongan yang diberi nama dengan istilah "Terowongan Silaturrahmi" tersebut sebagai usaha membangun sikap toleransi antara umat Islam dan Kristen.
Hamdani.

ACEHSATU.COM – Pembangunan terowongan silaturahmi yang akan menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta telah dimulai 20 Januari ditargetkan hingga 31 Maret 2021.

Aneh? Tentu tidak.
Unik? Iya, itu pasti.
Tapi itulah ide brilian seorang Jokowi yang kini sebagai Presiden Republik Indonesia.

Keunikan pemikiran Jokowi memang selalu menarik perhatian bangsa Indonesia, bahkan dunia.

Maka sudah tepat Jokowi dinobatkan sebagai 100 tokoh berpengaruh di dunia.

Kali ini sang tokoh membuat terowongan bawah tanah yang dimulai dari Masjid Istiqlal tembus ke Gereja Katedral Jakarta.

Ide yang tidak pernah terlintas dalam benak setiap orang Jakarta sama sekali, mungkin juga bangsa Indonesia.

Namun muncul dalam pemikiran Jokowi yang sehari-hari sibuk dengan tugas negara.

Terowongan yang diberi nama dengan istilah “Terowongan Silaturrahmi” tersebut sebagai usaha membangun sikap toleransi antara umat Islam dan Kristen.

Konsep saling terhubung dalam bentuk sebuah terowongan.

Ide Jokowi itu pun ditanggapi secara beragam oleh berbagai kalangan masyarakat.

Ada yang mengatakan sebagai gimik yang tidak perlu disentuh lagi karena sensitif.

Tapi ada juga yang memandang hal itu sebagai simbolik untuk menyatukan umat beragama.

Whatever, gagasan membangun jalan bawah tanah seperti terowongan yang menghubungkan dua rumah ibadah terbesar di Indonesia memang layak untuk diapresiasi
Dengan demikian proyek ini diharapkan bukan hanya memberikan keuntungan secara spiritual dan sosial.

Tapi juga keuntungan secara ekonomi karena bisa menjadi destinasi wisata baru.

Sejak direncanakan pembangunannya oleh Jokowi pada Jumat, (7/02/2020) silam, kini sudah pada tahap pengerjaan.

Pembangunan ini dilakukan bersamaan dengan renovasi besar di Masjid Istiqlal.

Terowongan ini dibangun di bawah tanah dan akan menghubungkan antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral.

Walaupun pernah mendapatkan kritikan keras dari Politisi PDIP yang menganggap itu tidak penting.

Bahkan beberapa tokoh ada yang secara tegas menolak.

Namun Presiden Jokowi tetap melanjutkan pembangunannya.

Para tokoh yang kontra berpendapat bahwa kerukunan umat beragama bukan dibangun dengan proyek infrastruktur.

Tapi juga ada hal lain yang saat ini mendesak untuk dikerjakan dalam kaitannya dengan keberagaman, toleransi, dan merawat kebhinnekaan kita yaitu seperti menggaji guru agama dengan layak.

Bahkan Bos Charta Politika Yunarto Wijaya menyebut bahwa hak beribadah yang dilindungi diyakini costnya lebih murah dibanding terowongan.

Karenanya ia secara tegas menolak pembangunan itu.

Dari sekian banyak tokoh nasional yang memberikan komentar dan pandangan mereka terhadap konsep Jokowi.

Diantara rangkuman yang patut menjadi catatan yaitu hendaknya proyek tersebut dapat dipertimbangkan untuk kemanfaatannya.

Selain itu masyarakat juga masih bertanya-tanya apa maksud dan tujuan dibangunnya “jalan rahasia” itu.

Apa benefit yang bakal didapatkan.

Sebab pasti akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Sementara utang negara sangat banyak dan membengkak. Apa pemerintah tidak peka?

Yang pasti pemerintah perlu bekerja dengan mengedepankan skala prioritas berdasarkan kebutuhan rakyat dan kemampuan negara.

Bukan atas dasar keinginan (syahwat) apalagi nafsu politik belaka. (*)