Ternyata Hewan Pun Berpuasa, Mana Lebih Baik dengan Puasa Kamu?

Dan apabila kita ingin lihat lebih jauh lagi ternyata puasa bukan hanya dilakukan oleh manusia yang konon telah Allah anugerahkan akal dan kemampuan berpikir, bahkan binatang yang tidak diberikan akal pun ternyata mereka melakukan puasa
Hamdani.

ACEHSATU.COM – Hampir setengah perjalanan puasa kita, alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan untuk menunaikannya, Allah masih menunda usia kita, masih memberikan kita kekuatan, kesehatan sehingga kita sudah sampai pada puasa yang ke 14 di bulan ramadhan atau menjelang pertengahan.

Bulan puasa merupakan bulan penuh ujian, pada bulan ini kita diuji oleh Allah agar kita memperoleh kesabaran dan pendidikan taqwa.

Karena itu puasa juga disebut dengan syahrul tarbiyah (bulan pendidikan).

Pun demikian berbagai panggilan lain juga disematkan terhadap bulan ramadhan, ada yang memanggilnya dengan sebutan bulan Allah (syahrullah), ada yang memanggilnya dengan syahrul rahmah (bulan penuh rahmah), syahrul maghfirah (bulan pengampunan), syahrul ‘ibadah (bulan ibadah), syahrul shabr (bulan kesabaran), dan syahrul Quran (bulan Al-Quran).

Dari 10 hari puasa yang telah kita tunaikan mari kita melakukan evaluasi dan introspeksi.

Apakah puasa kita sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh Allah Swt sebagaimana difirmankan Nya pada Surat Al-baqarah 183?

Bagaimanakah shalat kita, tarawih kita, sedeqah kita yang tiap malam celengan masjid wara wiri di depan kita, dan bagaimanakah bacaan Al-Quran kita sudah berapa juz yang sudah kita tamatkan, berapa lembar yang sudah kita baca?

Atau jangan-jangan Al-Quran itu sudah berdebu di rumah tanpa pernah kita sentuh.

Bila kita lihat lebih jauh mengapa Allah mewajibkan puasa kepada seluruh umat pada setiap nabi dan zaman?

Tentu saja karena disebabkan puasa mengandung rahasia.

Karenanya Allah wajibkan puasa itu bagi setiap umat nabi termasuk umat Muhammad.

Berdasarkan sebuah riwayat, umat Islam diperintah berpuasa pertama kali sebagai syariat yakni pada tahun ke-2 Hijriyah yaitu pada 10 Sya’ban, sebelum puasa kemudian dilakukan pada setiap bulan ramadhan.

Berpuasa memang penuh dengan ujian, uji kesabaran, menahan lapar, dahaga, amarah, dan menundukkan pandangan.

Semua itu memang berat untuk dilaksanakan.

Namun sangat ironi bila dibandingkan kita yang hidup di negara tropis yang hanya memiliki dua musim yaitu kemarau dan musim hujan atau cuaca yang tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin tetapi tidak mampu berpuasa dengan sempurna untuk Allah.

Padahal dibelahan negara lain ada yang melewati empat musim tapi mampu menjalani puasa dengan sempurna walau cuaca panas terik sekalipun.

Bahkan sebutan bulan ramadhan berasal dari kata ramdha, yarmadhu, yang berarti ‘panas yang terik’ atau ‘panas yang membakar’ di mana cuaca di Makkah ketika berpuasa dengan cuaca panas yang luar biasa.

Secara perhitungan Qamariah, ramadhan adalah bulan kelima dalam perubahan cuaca.

Sebelumnya ada rabiul awal (musim semi), rabiul tsani (musim semi kedua), jumadil awal (musim dingin), jumadil tsani (musim dingin kedua), dan setelah itu baru bulan ramadhan (musim panas).

Maka bila dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang berpuasa di negara eropa yang memiliki waktu siang lebih panjang hingga 20 jam (artinya hanya memiliki 4 jam saja saat untuk berbuka, tarawih, sahur, shalat subuh lalu berpuasa kembali).

Namun mereka mampu istiqamah dan dapat menuntaskan puasa mereka kepada Allah dengan sempurna.

Lalu mengapa kita yang hanya sampai 13 jam saja namun tidak mampu istiqamah dan menuntaskan puasa kita kepada Allah dengan baik dan sempurna?

Sementara ada orang yang berpuasa di negara-negara yang sangat sulit bagi mereka untuk menjaga pandangan dan tersedia makanan di mana saja tanpa ada warung yang ditutup, namun mereka dapat menyelesaikan puasa mereka kepada Allah dengan tuntas dan sempurna.

Lalu mengapa kita yang hidup di daerah paling bersyariat di Indonesia di mana tidak ada warung kopi dan kedai makanan yang buka, perempuan-perempuan dan laki-laki yang tidak membuka aurat mereka tapi kita tidak mampu istiqamah dan berpuasa secara sempurna kepada Allah Subhanahu Wata’aala?

Disisi lain puasa kita yang lakukan hanya 29 hari atau sebulan saja, sangat jauh berbeda bila kita bandingkan dengan puasanya Nabi Daud, berpuasa selang seling setiap hari, atau setengah tahun berpuasa dan setengah tahun tidak, tetapi beliau dan umatnya bisa istiqamah?

Mengapa kita tidak?

Dan apabila kita ingin lihat lebih jauh lagi ternyata puasa bukan hanya dilakukan oleh manusia yang konon telah Allah anugerahkan akal dan kemampuan berpikir, bahkan binatang yang tidak diberikan akal pun ternyata mereka melakukan puasa.

Karenanya jangan sampai puasa binatang lebih baik daripada puasa kita sebagai manusia.