Ternak Berkeliaran Ditangkap Satpam PT Timbang Langsa, Pemilik Keluhkan Biaya Tebus, Ini Kata Satpol PP Langsa

Foto Jamil Gade.

ACEHSATU.COM | LANGSA – Sejumlah warga peternak di Gampong Alue Dua Kecamatan, Langsa Baro keluhkan biaya tebus ternak sapi milik mereka yang diamankan oleh pihak Satpol PP.

Warga mengakui ternak sapi milik mereka tidak “diangonkan” atau dilepaskan berkeliaran di jalan perkotaan dan memakan tumbuhan taman kota.

Sebelumnya, warga Warga menjelaskan menggembala sapi dilahan perkebunan sejak pukul 14.00 Wib hingga 17.00 Wib.

Selain itupun juga ternak dijaga.

Namun oleh pihak Satpam PT. Timbang Langsa ditangkap dan diserahkan kepada Satpol PP Kota Langsa.

Keluhan itu disampaikan salah seorang pemilik ternak, Muhammad Ali Nafit pada ACEHSATU.com, Rabu (19/8/2020).

Ironisnya lagi sambung Nafit, setelah ternak sapi ditangkap dan dibawa oleh pihak Satpol PP, warga diharuskan menebusnya sejumlah Rp. 300 hingga 400 ribu/ekor.

“Kami diharuskan menebusnya ternak yang dibawa anggota satpol pp tersebut sejumlah 300 ribu sampai 400 rb rupiah per ekor. Dari mana uang sebesar itu kami dapat,untuk makan sehari hari saja kami susah,” ujar Nafit.

Ia mengaku heran dan pertanyakan, selama ini yang warga peternak sapi ketahui, tidak ada warga atau pihak yang komplain, karena sebagian warga disini kata Nafit juga memiliki ternak di areal ini.

Terkecuali pihak PT timbang Langsa.

Karena menurutnya yang selama ini menangkap dan mengusir ternak milik mereka adalah satuan pengamanan (Satpam) perusahaan tersebut.

Jika pun perusahaan PT Timbang Langsa tidak ingin lahan miliknya dimasuki oleh ternak sapi, semestinya lahan tersebut dipagar atau dibuat parit pembatasnya.

Ia menerangkan, warga disini sebagian besar merupakan buruh tani dan buruh kasar, tidak ada pekerjaan lain, dan miliki pendapatan yang pas-pasan.

Ternak sapi yang dipelihara oleh warga adalah investasi untuk biaya  kelangsungan pendidikan anak mereka.

jikalaupun suatu saat nanti membutuhkan dana mendadak seperti untuk biaya sekolah anak, mereka menjualnya.

Dikatakannya, seharusnya pemerintah mengayomi dan memberi edukasi apalagi kepada masyarakat miskin seperti itu.

Pemilik ternak mengeluhkan biaya tebus ternak mereka yang ditangkap Satpam PT Timbang Langsa. Foto Jamil Gade

Terkait permasalahan ini, warga berharap, ada solusi, baik dari Pemerintah Kota maupun anggota dewan.

Sementara itu terpisah, Ketua LSM Balee Jurong, Iskandar Haka mengakui pihak prihatin dengan tindakan Satpam PT.Timbang Langsa yang menangkap sapi milik warga peternak.

Menurutnya, semestinya jika PT.Timbang Langsa tidak menginginkan areal lahan perkebunan miliknya dimasuki ternak dapat membuat pagar dan parit pembatas seperti yang dilakukan oleh perusahaan PT.Arco dan PT Rapala serta perusahaan perkebunan yang lain.

Ia juga mengatakan, apalagi lahan perkebunan itu berada dekat dengan kawasan atau pemukiman penduduk.

Dan itu adalah salahsatu tanggung jawab moral perusahaan membuat pagar atau parit pembatas.

“Semestinya Pihak PT.Timbang Langsa melakukan pembinaan khususnya kepada masyarakat disekitar lahan perkebunan, sehingga masyarakat dapat merasakan manfaat dari keberadaan perusahaan perkebunan itu, saya rasa langkah itu lebih bijaksana,” pungkas Iskandar Haka.

Kasatpol PP Kota Langsa Maimun Sapta SE menjelaskan bahwa penangkapan hewan ternak sudah sesuai dengan qanun No. 11 tahun 2014.

Ia menerangkan, Gampong Timbang Langsa merupakan wilayah Pemko Langsa .

Terkait biaya tebusan menurutnya hal itu sudah diatur didalam Qanun yaitu sebesar Rp 250 ribu/ekor sapi.

Ia juga menerangkan, patut dipahami bahwa rancangan qanun yang baru akan disahkan dan hewan ternak yang berkeliaran akan diamankan oleh petugas Satpol PP.

“Jika diambil atau ditebus oleh pemiliknya yaitu untuk ternak sapi Rp 3 juta/ekor dan kambing  Rp 1 juta/ekor.

“Semua biaya tebusan itu akan disetorkan ke kas daerah,” pungkasnya.

Sementara itu hingga berita ini ditayang belum diperoleh keterangan resmi dari pihak manajemen PT Timbang Langsa. (*)