Terima Kasih 2020, Tahun yang Luar Biasa

Banyak perusahaan yang harga sahamnya jatuh di awal covid-19, secara bertahap hingga penghujung 2020 ini mengalami peningkat harga yang luar biasa.
Thasrif Murhadi, SE MM, Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Provinsi Aceh/Foto ACEHSATU.com

Oleh: Thasrif Murhadi

ACEHSATU.COM – Tahun 2020 telah berlalu, dan kita bersiap menjalani tahun yang baru.

2020 adalah tahun yang luar biasa, karena memaksa saya, anda dan kita semua untuk melakukan hal yang tidak biasa.

Memberi kita banyak pengalaman.

Tahun 2020 dunia digemparkan dengan penemuan virus corona (Covid-19) yang pertama sekali, yaitu di Wuhan – China.

Virus tersebut menyebar dengan cepat bagaikan kecepatan frekwensi super sonic, yang melumpuhkan sendi-sendi kehidupan manusia.

Covid-19 memaksa kita harus membatasi berinteraksi secara langsung, memaksa kita membatasi diri, tidak dapat beribadah kerumah ibadah, hingga sebagian besar negara didunia terpaksa menerapkan lockdown untuk menekan penyebaran Covid-19.

Dunia usaha skala besar, menenggah dan kecil (UMKM) seluruhnya terkena imbas dari ganasnya Covid-19.

Harga comoditas dunia juga mengalami penurunan yang tajam, bahkan harga minyak dunia sempat turun menyentuh level terendahnya yaitu > -10 USD/Barel.

Seluruh lini bisnis lumpuh, tempat usaha terpaksa harus ditutup, pasar-pasar tradisional sepi pembeli, dan juga tempat-tempat perbelanjaan seperti hypermart, mall dll juga tidak dapat menjalankan usahanya.

Covid-19 benar benar telah memporak-porandakan seruruh sisi kehidupan masyarakat terutama ekonomi. Dunia dipaksa masuk ke ambang krisis, banyak negara mengalami resesi.

Akibat dari terganggunya roda perekonomian dunia termasuk Indonesia, membuat Index Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam, menyentuh angka -37% awal wabah covid terjangkit di Indonesia.

Hal ini, dipicu oleh kepanikan pelaku pasar modal akan kondisi ekonomi sehingga pelaku pasar modal memilih mengamankan dana yang mereka miliki.

Harga saham turun tajam hingga menyentuh batas auto reject bawah.

Hal ini, memaksa regulator menggambil langkah cepat dengan menerbitkan kebijakan-bijakan guna membendung kepanikan pelaku pasar, diantaranya: memberlakukan market halt jika turun 5%, menetapkan batas auto reject yang asimetris dimana batas auto reject bawah menjadi hanya 7%, dan beberapa kebijakan kebijakan strategis lainnya.

Langkah yang diambil oleh pemerintah dan regulator pasar modal ini cukup efektif membuat pasar lebih terkendali dan kondusif.

Jumlah investor saham meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, secara nasional investor saham meningkat >40% dari total investor tahun sebelumnya.

Begitu juga dengan investor saham di Provinsi Aceh meningkat >40% dari total jumlah investor tahun sebelumnya.

Benar apa yang dikatakan dalam pepatah lama “disetiap kesulitan pasti ada kemudahan”.

Dimana, dibalik kejatuhan harga saham yang sangat dalam, usaha usaha tidak dapat beroperasi, ternyata ada peluang untuk mendapat keuntungan yang luar biasa.

Harga saham yang turun dalam itu ibarat diskon harga yang biasa diterapkan di pusat perbelanjaan seperti mall dan hypermart.

Banyak perusahaan-perusahaan yang bagus, tetapi harganya jauh di bawah harga Book Value-nya.

Ini pula yang dimanfaatkan oleh banyak investor di Indonesia untuk mendulang keuntungan yang besar dari pasar modal.