Teriakan “Hidup Mahasiswa” Itu Telah Tiada?

0
1

Oleh Hamdani, SE, M.Si

ACEHSATU.COM – Mahasiswa! Ya, mahasiswa. Gelar dan sebutan penuh gengsi sejak dulu. Sejak zaman Orla (angkatan 65), mahasiswa adalah tonggak pembela rakyat. Hingga zaman Orba (angkatan 98), mahasiswa Indonesia kian menunjukkan jati dirinya sebagai pengawal rakyat dan pembela kebenaran moral. Maka sangat pantas bila sebutan mahasiswa sangat hormati dan dimuliakan. Mereka dimuliakan karena gerakannya. Tapi itu dulu. Lalu bagaimana dengan sekarang? Masih teriakan “hidup mahasiswa” itu ada?

Gerakan mahasiswa dapat didefinisikan sebagai sebuah kegiatan kemahasiswaan yang dilakukan baik di dalam maupun di luar kampus untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas, dan meningkatkan kualitas kepemimpinan para aktivis yang terlibat didalamnya.

Gerakan mahasiswa biasanya selalu berorientasi pada kepentingan rakyat. Mahasiswa sangat jarang ditunggangi oleh kepentingan politik sekelompok penguasa jahat ataupun politisi busuk dalam menjalankan gerakannya. Karena perjuangan mereka sangat jelas, yaitu membela hak-hak rakyat yang dirampas oleh para penguasa culas.

Mereka disamping mengikut rutinitas perkulia­han, pun juga aktif dalam mengkritisi ke­bijakan pemerin­tah yang tidak ber­orien­tasi pada rakyat. Mahasiswa sebelum orde reformasi dikenal dekat dengan masyarakat akar rumput. Mahasiswa seolah lebih dipercaya jadi corongnya aspirasi rakyat daripada anggota dewan.

Kekritisan mahasiswa dalam mengawal kebijakan pemerintah dan terhadap kekuasaan sejatinya tidak boleh hilang karena perubahan zaman. Kaum intelektual ini harus tetap menjadi pelita dan sumber pencerahan rakyat selain para ulama. Karena mereka kaum terpelajar dan berilmu.

Mahasiswa yang pernah kita kenal dengan daya kritis yang tinggi bahkan penguasa begitu takut bila gerakan mahasiswa mulai bekerja. Mengkritisi de­ngan ilmiah bahkan tidak pernah absen turun ke jalan ketika se­­mua corong aspirasi telah ditutup. Ketika media dibungkam, anggota dewan membebek, rakyat di ancam dan ditakut-takuti. Maka ketika situasi itu terjadi. Mahasiswalah solusinya.

Namun potret mahasiswa sekarang terlihat mulai kehilangan daya kritis mereka. Mahasiswa tidak lagi memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap masalah-masalah pelik yang dihadapi masyarakat. Kepekaan dan kepedulian sosial mahasiswa kini mulai pudar dan hilang. Jika pun ada hanya sebatas melakukan kewajiban atau tuntunan akademik semisal pengabdian masyarakat dan KKN.

Jangankan kepedulian mereka dalam konteks kekuasaan negara. Konon, kepedulian dengan lingkungan sekitar pun mulai tiada lagi. Padahal ada begitu banyak persoalan yang membutuhkan peran mahasiswa. Dan masyarakat selalu menanti-nantikan mereka. Tapi sayang, gerakan mahasiswa telah tiada. Gerakan itu kini mulai terkubur bersama semangat reformasi semu dan politik transaksional penguasa.

Permasalahan kesejahteraan rakyat yang tak kunjung dapat dihadirkan oleh penguasa. Soal tingginya korupsi, soal ekonomi dan pengangguran, soal tenaga kerja impor, soal utang negara yang terus membengkak, soal listrik, soal air bersih, soal partai politik yang oportunis, soal kecurangan pemilu, soal biaya pendidikan yang semakin mahal, dan sejuta persoalan lainnya yang membuat karut marut negeri ini disebabkan oleh penguasa dan kebijakan negara yang tidak pro rakyat, namun sayang hal itu tidak lagi menarik menjadi diskursus dikalangan mahasiswa.

Memang sangat memprihatinkan. Gerakan mahasiswa telah dibajak dengan slogan kapitalis dan individualistis. Dengan alasan zaman sudah berubah telah membuat paradigma gerakan mahasiswa mati suri. Warga kampus ini tidak lagi memiliki visi membangun kesejahteraan rakyat. Yang ada hanyalah bagaimana membangun karir pribadi dan kesejahteraan diri.

Ataukah mereka telah menjadi pengagum Budiman Sujatmiko mantan aktivis mahasiswa 98 yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Budiman Sujatmiko yang mengatakan bahwa membandingkan gerakan mahasiswa dari masa ke masa dengan sama persis adalah sebuah kekonyolan. Zaman berubah seiring berjalannya waktu, hari ini teknologi memungkinkan menyelesaikan persoalan yang berat tanpa menguras energi sebesar dulu. Benarkah teknologi dapat menyelesaikan semua persoalan bangsa?

Inilah bentuk kesesatan berpikir yang nyata dan sangat konyol pula dari seorang mantan aktivis mahasiswa. Pernyataan Budiman mungkin juga kita sebut sebagai bentuk keterbelakangan intelektual. Membuktikan kekonyolan berpikir Budiman tentang teknologi dapat menyelesaikan masalah tentu cukup mudah. Tidak perlu logika tinggi, dengan logika sederhana bahkan orang awam sekalipun akan mengatakan teknologi itu tidak lebih pintar dari manusia. Teknologi bekerja atas kehendak dan keinginan manusia (pengendali). Lihat saja bagaimana teknologi dapat menyelesaikan korupsi? No!

Cara pandang model seperti itulah yang mengikis daya kritis mahasiswa dan gerakannya. Bukan justru para aktivis senior mendorong agar mahasiswa tetap mempertahankan ruhnya sebagai pengawal kebenaran dan berani mengkritik kekuasaan yang tidak pro rakyat namun justru mereka semakin melemahkan mental dan daya kritis para juniornya.

Jika kondisi tersebut berlanjut maka kerinduan rakyat akan mahasiswa turun kejalanan hanya tinggal kenangan manis saja. Bahkan salah satu pilar kekuatan bangsa dapat dikatakan telah roboh. Artinya bangsa dan negara ini pun semakin rapuh, lemah, dan mudah ditindukkan oleh kepentingan segelintir orang yang ingin menguasai Indonesia. Hal itu dimulai dengan cara mematikan gerakan mahasiswa dan menghapus daya kritis mereka.

Dalam konteks ini saya sepakat dengan Sulthan Alfaraby (Mahasiswa Fakultas Saintek UIN Ar-Raniry Banda Aceh) dalam tulisannya di acehsatu.com bahwa mahasiswa sekarang ini telah mengidap penyakit mental inlanderisasi (begitu istilah Sulthan) yang cukup parah. Mentalitas siap dijajah peninggalan kolonial Belanda telah mewabah dikalangan mahasiswa. Akibatnya mereka menjadi sosok penakut dan berubah menjadi penjilat yang lupa pada gerakan moral melawan penjajah itu sendiri.

Terakhir, wahai para mahasiswa rakyat masih merindukan gerakan moral dan daya kritis kalian untuk membantu mereka membela hak-haknya. Teriakan “Hidup Mahasiswa” masih sangat dinantikan. Bergeraklah dijalanan, lawan ketidakadilan, runtuhkan oligarki politik yang menindas rakyat. Ditangan kalian bangsa dan negara ini akan tetap menjadi bangsa yang berdaulat, bermartabat, dan tidak terjajah. Ayo bangunlah dari tidur panjang kalian. Salam mahasiswa. (*)

Penulis: Hamdani, SE.,M.Si (Dosen Politeknik Kutaraja) Email: hamdani.aceh@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here