Banda Aceh

Tercatat 2017 Kekerasan Terhadap Perempuan Meningkat tajam

Pemberian hukuman terberat kepada pelaku kejahatan seksual penting dilakukan agar memberikan efek jera pada pelaku khususnya

Foto | Sumber: http://www.klipnews.com

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Ketua Pusat pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Aceh, Amrina Habibie, SH memaparkan hasil pendataan menggunakan aplikasi simfoni tercatat angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Aceh meningkat tajam di tahun 2017 dibandingkan tahun sebelumnya.

sepanjang tahun 2016 sampai dengan 2017 terdapat 704 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Aceh. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun 2016 yang hanya mencapai 487 kasus di seluruh Aceh. Peningkatan jumlah kasus kekerasan diiringi dengan semakin beragamnya modus operandi dan pihak-pihak yang terlibat”, jelasnya kepada ACEHSATU.COM (25/12/2017).

Amrina juga memberikan apresiasi terhadap kinerja kepolisian dalam membongkar kasus-kasus kejahatan seksual yang terjadi di Aceh, termasuk gerak cepat Polres Lhokseumawe dalam penanganan kasus pemerkosaan oleh oknum PNS di pemerintahan kota Lhokseumawe terhadap salah seorang mahasiswi yang terjadi baru-baru ini.

Adapun beberapa peristiwa yang masih hangat terdengar yaitu musibah yang dialami D, anak korban pemerkosaan dan pembunuhan di Banda Aceh (27/3/2017) dan SC, anak perempuan yang diperkosa hingga meninggal oleh pelakunya di Aceh Utara (28/4/2017), serta rentetan kasus kejahatan seksual lainnya yang terjadi di Aceh, termasuk pencabulan oleh salah seorang oknum pimpinan dayah di Aceh Utara yang terjadi pada dua bulan lalu.

“ Pemberian hukuman terberat kepada pelaku kejahatan seksual penting dilakukan agar memberikan efek jera pada pelaku khususnya, dan bagi masyarakat luas menjadi “warning” agar lebih waspada sehingga dapat memutus mata rantai kejahatan seksual yang sampai hari ini terus terjadi di Aceh dan angkanya terus meningkat. “ Pinta Amrina

Sementara itu, dukungan terhadap penanganan kasus juga disampaikan oleh Presidium Balai Syura, Suraiya Kamaruzzaman.

 “Kami berharap kasus ini bisa secepatnya diproses, dan pelaku mendapatkan  hukuman yang berat menggunakan pidana KUHP dengan sanksi terberat. Hukuman cambuk untuk kasus pemerkosaan berdasarkan kasus sebelumnya dinilai belum memberikan dampak signifikan dan efek jera pada pelaku. Selain itu hal terpenting lainnya adalah kehadiran negara untuk memastikan korban mendapatkan pemulihan dan restitusi (ganti rugi) menjadi keharusan” tegasnya.

Lebih lanjut, Suraiya juga mengharapkan agar segera disahkannya Rancangan Undang Undang Penghapusan Kekerasan Seksual yan saat ini sudah masuk usulan pembahasan di DPR RI. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top