ACEHSATU.COM — Demokrasi tidak hanya melahirkan tatanan, tapi juga tuntutan.

Maka itu, tak ada yang absolut dan paripurna.

Rabu, 24 April 2012, Partai Nasional Aceh (PNA) yang dipimpin Irwandi Yusuf mendaftarkan diri sebagai salah satu partai  lokal.

Reaksi tersebut merupakan respon dari ketidakpuasan atas Partai Aceh, yang sebelumnya menjadi ‘rumah’ ideologi bagi sang Kapten.

Kehadiran PNA diharapkan dapat menjadi jalan baru bagi eksistensi transformasi politik partai lokal pasca-MoU.

Konsepsi Pemerintahan Aceh yang diberikan oleh pusat lewat Undang-undang memang telah menjadi instrumen eksklusif bagi politik di Aceh.

Apa daya, euforia baru telah membawa Aceh kepada Political Ecstacy yang tinggi di kalangan elite politik.

Menjadi semacam dopamin bagi sebuah kekuasaan.

Dan, tak jarang memabukkan.

PNA memasuki babak baru.

Bagi sebagian, pergantian struktur di internal partai dianggap sebagai sesuatu yang ambigu.

Sejarah memang tak melulu menyajikan jalan lurus dan mulus.

Ada tikungan tajam yang tak terduga di setiap ujung.

Lalu, kita pun tahu, dari sebuah bilik, tak semuanya menjadi terang.

Syahdan, 8 November 1926, Antonio Gramsci, seorang filsuf Italia, ditahan pemerintahan fasis Italia.

Ia di tahan di penjara Turi, ujung selatan Italia.

Dalam pengasingannya, Ia melahirkan ribuan catatan yang berisi pikiran-pikirannya.

Dalam sebuah memoarnya, Ia pernah berujar ; “Aku merasa, andaikata Aku dibebaskan dari penjara sekarang,… Aku akan terus hidup dengan otakku semata-mata…, melihat orang-orang, bahkan yang seharusnya kuanggap dekat, bukan sebagai makhluk yang hidup, melainkan sebagai teka-teki yang harus dipecahkan”

Siapa yang tahu. (*)