Tebarkan Rasisme, Projo Layak Dibubarkan?

Perbuatan tak senonoh itu bukan hanya tidak beradab karena melecehkan harkat dan martabat orang lain tetapi juga ancaman disintegrasi bangsa dari kemajemukan.
Hamdani.

ACEHSATU.COM – Gambar tak pantas yang menyandingkan foto eks Komisioner Komnas HAM Republik Indonesia Natalius Pigai dengan seekor hewan yang beredar luas di media sosial beberapa waktu lalu terjadi di negara yang katanya Pancasilais dan beradab.

Perbuatan tak senonoh itu bukan hanya tidak beradab karena melecehkan harkat dan martabat orang lain tetapi juga ancaman disintegrasi bangsa dari kemajemukan.

Sebagaimana diketahui, publik dikejutkan dengan ulah kelompok Projo (pro Jokowi) atau dikenal relawan pendukung Jokowi yang menghina tokoh nasional asal Papua hanya karena berbeda pendapat.

Akibatnya para netizen dan rakyat Indonesia yang tersinggung dengan perilaku relawan Jokowi itu bereaksi dan menyerukan agar dilakukan penegakan hukum.

Tidak sepatutnya Indonesia dirusak dengan sikap intoleransi dan rasisme seperti itu demi kekuasaan.

Asal diketahui bahwa Indonesia adalah negara majemuk. SARA tidak boleh dipermainkan dan dihina karena itu soal harga diri seseorang dan suku bangsanya.

Coba bayangkan kalau rakyat Papua marah dan tidak mau memaafkan sikap Projo yang umumnya mereka adalah orang-orang Jawa, maka apa yang terjadi?

Bahaya sekali orang-orang di pulau Jawa yang selama ini telah terlalu sering menampilkan berprilaku rasis terhadap warga Papua, bukan kali ini saja.

Maka wajar jika rakyat Papua tidak ingin lagi menjadi bagian dari Indonesia. Papua ingin berdiri sebagai sebuah negara merdeka.

Buat apa bertahan bila sekaliber pendukung Jokowi saja terus menghina secara fisik terhadap rakyat Papua.

Oleh sebab itu kejahatan rasisme tidak boleh dibiarkan begitu saja. Negara mesti memberikan keadilan bagi Natalius Pigai bila Jokowi masih mengganggap dia sebagai WNI.

Adapun persoalan Pigai kerap mengkritisi kebijakan pemerintah dengan tajam justru harus dihargai karena dia mampu berpikir kritis atau bukan orang dungu.

Silakan Projo beradu argumentasi dengan Pigai bila merasa apa yang dikatakannya keliru atau tidak tepat.

Sungguh sangat tidak beradab dan tidak dewasa bila di alam demokrasi tetapi berprilaku rasis. Itu perilaku primitif dan feodalisme fasis.

Kini rakyat memantau dan melihat bagaimana akhir dari kasus ini. Apakah didiamkan begitu saja atau ada tindakan hukum dari negara terutama Presiden Jokowi.

Atau bila tidak ada manfaatnya untuk negara dan bangsa Indonesia maka bubarkan saja Projo itu. Toh kontribusinyan untuk bangsa ini pun tidak jelas. (*)