Talita Balita Yatim Bate Dabai Dirujuk Tim Puskesmas Makmur ke Rumah Sakit

Talita balita yatim Desa Bate Dabai menderita sulit melihat karena selaput putih menutup mata hitam dan luka di jantungnya.
Kadinkes Bireuen, dr Irwan A Gani. (Foto. Rahmat Hidayat/ACEHSATU.COM)

Talita Balita Yatim Bate Dabai Dirujuk Tim Puskesmas Makmur ke Rumah Sakit

ACEHSATU.COM | BIREUEN – Talita balita yatim Desa Bate Dabai menderita sulit melihat karena selaput putih menutup mata hitam dan luka di jantungnya.

Hari ini Jumat (11/12/2020) dijemput ke rumah oleh tim Puskesmas Makmur untuk dibawa berobat ke rumah sakit di Bireuen, untuk mendapat penanganan lebih lanjut terhadap sakit yang dideritanya.

Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten Bireuen, dr Irwan A Gani kepada Acehsatu.Com, Jumat (11/12/2020) pagi terkait upaya dilakukan pihaknya guna pengobatan lanjutan bagi Talita Zahra.

Dijelaskan juga Kadinkes, bahwasanya pemantauan terhadap balita Talita Zahara sesungguhnya sudah ditangani sejak dalam kandungan oleh bidan desa dan tim Puskesmas Makmur, sampai lahir dan juga perkembangan sehari-hari terus dipantau.

Talita juga dulu pernah dirujuk menjalani perawatan di RSUD dr Fauziah Bireuen dan ke RSUZA Banda Aceh. “Kondisi hari ini juga sesungguhnya dalam pemantauan petugas kita yaitu bidan desa dan tim puskesmas Makmur,” sebutnya.

Hari ini kita akan upayakan kembali, Talita Zahra dirujuk ke RSUD dr Fauziah Bireuen, untuk mendapatkan penanganan lanjut. “Talita Zahra ada kelainan bawaan sejak lahir diketahui ada gangguan jantung dan katarac kongenital,” terang dr Irwan.

Dengan adanya penanganan lanjutan terhadap sakit diderita nantinya dirumah sakit, diharapkan Talita Zahra semoga bisa sembuh dan dapat tumbuh berkembang dengan normal, imbuh Kadinkes.

Seperti diberitakan kemarin. Talita Zahra balita 2,4 tahun anak yatim dari keluarga miskin, tinggal di Dusun Beudari, Gampong Batee Dabai, Kecamatan Makmur, Bireuen, tidak dapat bermain dengan lincah seperti anak-anak lain seusianya.

Diusianya cukup dini, anaknya Wardaniah (38) buah perkawinan dengan Ihsan telah almarhum, harus menanggung derita dan butuh uluran tangan dermawan agar dapat membawanya kerumah sakit, mengobati matanya sulit melihat karena selaput putih menutup mata hitam dan luka di jantung.

Harapan itu diungkapkan oleh Wardaniah yang ditemui Acehsatu.Com didampinggi Camat Makmur Azmi SAg, Keuchik Batee Dabai M Yunus, TKSK Makmur Eva Erlina, Rabu (09/12/2020) sore dirumahnya.

Wardaniah mengisahkan, saat dalam usia kandungannya tujuh bulan, Ihsan suaminya meninggal dunia, singkat cerita tiga hari kemudian, dia melahirkan seorang bayi perempuan diberikan nama Talita Zahra, melalui persalinan normal dirumahnya.

Namun dikarenakan anaknya lahir dengan kondisi prematur atau tidak cukup bulan, Talita selanjutnya dibawa ke rumah sakit dan dirawat dalam inkubator selama 50 hari, sedangkan Wardaniah dirumahnya hingga sampai harinya.

Kemudian barulah diketahuinya sejak lahir ada selaput putih yang menutup bola mata hitam Talita Zahra. “Waktu itu (alm) Razali ayah (alm) suaminya, berusaha membawa Talita berobat tahun 2018 ke rumah sakit Banda Aceh, tapi Talita tidak bisa operasi sebab ada luka di jantungnya,” kisahnya.

Untuk dapat dioperasi, Talita masih bayi itu sakit di bagian jantung dialaminya harus terlebih dahulu diobati. Namun, paska itu Razali kakeknya meninggal, sejak saat itu dan kini belum ada membawanya berobat.

Wardaniah kini menjadi tulang punggung keluarga membesarkan Talita dan si kakak Sri Rahayu (9) anaknya yang pertama dari suami pertamanya. Dia tidak punya biaya bawa anaknya berobat, sehari-hari bekerja jadi buruh tani dan tinggal dirumah dhuafa dibangun dana desa Batee Dabai tahun 2019.

“Sejak kakeknya meninggal tidak ada lagi yang membawa Talita berobat kerumah sakit, disaat dia sakit panas demam, saya hanya membawa berobat ke Puskesmas Makmur,” ungkap Wardaniah dan berharap sakit diderita anaknya bisa pulih.

Dijelaskan juga, akibat pernah jatuh dulu saat belajar berjalan, Talita Zahra sampai sekarang merasa takut, aktivitas sehari-hari dia terus tidur berbaring dan jika mau bergerak merangkak dengan tumpangan kepalanya.

“Kalau mau melihat Talita membuka mata dengan cara memegang kelopak mata dengan kedua jari kanan dan kirinya, saat saya lagi kerja dikebun pinang, Talita tidak rewel dia main di ayunan dijaga kakaknya,” jelas ibunya, dihadapan Camat dan TKSK yang turut datang menjenguknya.

Camat Makmur Azmi SAg didampinggi TKSK Makmur Eva Erlina menambahkan, kondisi Talita baru diketahui November 2020, saat pembagian Bantuan Sosial Tunai (BST) tahap terakhir di kantor Pos Gandapura dan Wardaniah juga penerima.

Namun, waktu itu Wardaniah datangnya terlambat dan anaknya menangis. Sebagai seorang ibu juga, lantas, naluri keibuannya Eva bertanya dan membantu mendiamkan sehingga diketahuilah sakit diderita Talita.

Selanjutnya Eva melaporkan temuan itu kepada Camat Makmur dan juga ke Dinas Sosial Bireuen, termasuk juga teman di ACT Bireuen, sehingga pihak ACT minggu lalu sudah datang kerumah Balita tersebut, jelasnya.

Termasuk juga Camat Makmur Azmi SAg dan TKSK Makmur Eva Erlina, Selasa (08/12/2020) datang menjenguk Talita sekaligus juga serahkan bantuan pangan dari Pemkab Bireuen melalui Dinas Sosial, bagi Wardaniaah, jelas Camat dan TKSK.

Rumah Dhuafa Dibangun Gampong

Keuchik Batee Dabai M Yunus (50) ditanya Acehsatu.Com bersamaan dilokasi juga mengatakan, Wardaniah seorang warga kurang mampu sehari-hari sebagai kerja buruh tani di Batee Dabai, berjarak 7 km dari kantor Camat Makmur dan 15 Km dari Simpang Leubu jalan Medan-Banda Aceh.

Rumah ditempati saat ini bantuan rumah dhuafa dibangun Dana Desa tahun 2019, dilahan miliknya sendiri. “Dulu keluarga ini sebelumnya tinggal dirumah sudah tidak layak huni, di tanah wakaf milik masjid di gampong ini,” jelas keuchik.(*)