Suara Anda

Tak Ada Pilihan Lain, Kanal di Lae Mante Solusi Atasi Banjir Singkil dan Subulussalam

Kenapa demikian? Karena untuk mengatasi banjir di Aceh Singkil itu dibutuhkan kanal.

FOTO | Sobirin Hutabarat

Oleh Sobirin Hutabarat

ACEHSATU.COM – Persoalan musibah langganan berupa banjir di Subulussalam dan Aceh Singkil hanya bisa diatasi oleh orang yang berani dan mampu berkomunikasi.

Kenapa demikian? Karena untuk mengatasi banjir di Aceh Singkil itu dibutuhkan kanal.

Sementara untuk membuat kanal baik itu di Lae mate ataupun kawasan lainnya selalu berbenturan dengan regulasi yang ada, terutama dengan BKSDA.

Sementara itu, kata Sobirin, masyarakat tidak tahu bahwa kawasan itu kawasan hutan lindung karena sangat jarang bahkan hampir tidak ada sosialisasi.

“Itu hutan rakyat, tempat masyarakat setempat mencari hidup.”

“Tapi oke lah, kita bernegara, kita masyarakat yang patuh akan hukum. Kita menerobos ini, kita meminta kepada pihak KEL, BKSDA atau lembaga lainnya yang resmi untuk sama-sama berjuang, kita menghadap kementerian terkait.”

BACA: Sering Banjir, Warga Kemukiman Pemuka Minta Kanal Ditutup, Ini Jawaban Bupati Aceh Singkil

Karena itu, kawasan lokasi pembuatan kanal di Aceh Singkil itu dibebaskan demi kepentingan masyarakat luas.

“Ekosistem Leuser bagus, untuk kepentingan dunia, tapi kepentingan masyarakat setempat yang sudah turun – temurun juga jangan dinafikan.”

Apa salahnya, kita meminta kawasan itu di bangun kanal yang juga tak seberapa luasnya.

“Toh, sekarang kawasan itu juga mulai jadi gundul karena investor-investor yang datang dari luar dengan bersekongkol dengan oknum elit. Itu bisa kita buktikan di kawasan Rundeng sebagian hutannya sudah habis. Kenapa kawasan Lae Matee ini tidak bisa diterobos, ribuan orang di Aceh Singkil hidupnya sengsara, banjir seakan-akan sudah jadi langganan masyarakat disana.”

Perlu diingat, Aceh Singkil sudah punya peran yang besar jauh sebelum terbentuk nusantara.

“Tapi kenapa sekarang ini Aceh Singkil dipandang sebelah mata terutama oleh pemerintah Aceh. Bayangkan saja sudah tertinggal, termiskin, langganan banjir lagi.”

BACA: Banjir Genangi Jalan Lintas Singkil-Subulussalam, Jembatan Menuju Singkohor Nyaris Putus

Dibentuknya lembaga apapun itu pada umumnya untuk kesejahteraan masyarakat.

“Saya rasa orang di BKSDA atau lembaga lingkungan lainnya tidak separah itu lah, tapi karena sistem dan mekanismenya belum ketemu, disinilah dibutuhkan komunikasi.”.

Kendatipun pemerintah berupaya menggali muara sungai yang ada di Kilangan dan kawasan lainnya tetapi itu juga tidak bisa dijadikan solusi karena di hulu sungai hutannya sudah keropos.

 “Inilah yang disebut sisa peninggalan masa lalu rakyat sekarang yang sengsara.”

Saat ini air yang turun dari Hulu tidak ada lagi yang menahan karena hutan sudah mulai berkurang di kawasan hulu.

“Tidak ada cara lain solusinya pembuatan kanal di Lae Mante dan beberapa kawasan lainnya, titik sebesar gunung.”

Saya siap menjadi orang terdepan dalam menyuarakan persoalan penanganan banjir di Aceh Singkil dan Subulussalam.

“Kalaupun saya harus berurusan dengan hukum saya siap, asalkan demi kepentingan orang banyak di sana.”  (Sobirin Hutabarat adalah seorang Tokoh Aceh Singkil)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top