Tahun Baru Hijriyah Sepi Peminat, Tidak Ada Syiar

Fenomena menyambut tahun baru Islam tidak semeriah tahun baru Masehi. Bila pergantian tahun baru Masehi kerap diwarnai dengan kembang api, terompet, dan gelar pesta.
Tahun Baru Islam
Ilustrasi. Net

ACEHSATU.COM — Fenomena menyambut tahun baru Islam tidak semeriah tahun baru Masehi. Bila pergantian tahun baru Masehi kerap diwarnai dengan kembang api, terompet, dan gelar pesta.

Namun tidak begitu halnya dengan menyambut tahun baru Islam.

Suasana Penyambutan Tahun baru Hijriyah lebih senyap bahkan nyaris tak terdengar sekalipun oleh umat nya sendiri.

Aneh bukan?

Atau Tahun baru Hijriyah tidak boleh dirayakan?

Apalagi ditengah suasana Covid-19 tahun ini.

Memang pergantian tahun bisa dikatakan sebagai sesuatu yang biasa terjadi.

Bilangan satu, dua, dan seterusnya dalam hitungan tahun merupakan simbol perjalanan waktu. Memasuki tahun baru pertanda jarak waktu yang sudah ditempuh sudah bertambah.

Sehingga tidak heran bila ada yang menyebut, “memasuki tahun baru berarti bertambah pula usia.”

Jika dalam pergantian tahun masehi ada istilah merayakan tahun baru, lalu apakah dalam tahun Islam (hijriyah) juga mengenal istilah yang sama?

Bolehkah tahun baru hijriyah juga dirayakan sebagaimana halnya tahun masehi dengan pesta atau hura-hura? Lantas bagaimana sikap kita saat melakukan pergantian tahun hijriyah?

Dalam Islam, setiap sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh muslim selalu terdapat kedudukan hukumnya.

Halal atau haram, wajib atau sunat, dan lainnya. Termasuk dalam menyambut tahun baru baik masehi apalagi tahun hijriyah.

Umat muslim tidak boleh terjebak pada nama yang sudah populer namun tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Misalnya istilah perayaan tahun baru dengan ucapan happy new year, menyalakan lilin, dan meniup terompet.

Lalu mengadakan pesta dengan minuman dan makanan-makanan haram didalamnya. Sungguh hal tersebut sangat bertentangan dengan syariat Islam.

Sehingga kita sebagai orang Islam perlu menghindari jebakan tradisi yang bukan milik Islam. Karena kedua peristiwa pergantian tahun itu mempunyai makna yang tidak sama.

Bagi kita umat Islam, tahun baru hijriyah merupakan sunnatullah yang wajib kita syukuri.

Tahun baru Islam selalu terjadi pada 1 Muharram setiap tahunnya. Bulan Muharram termasuk salah satu bulan yang mulia.

Dikatakan mulia karena didalamnya terdapat amalan sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilakukan. Misalnya puasa asyura. Maka pergantian baru islam otomatis identik dengan tidak pesta makan-makan, apalagi makanan haram.

Bahkan Ustad Abdul Somad atau sering disapa UAS meminta kepada umat Islam agar tidak menyebut perayaan dan/atau memperingati tahun baru islam.

Tahun Baru Islam
Ilustrasi. Net

Tapi menggantikannya dengan istilah ngaji. Ngaji hijriyah, ngaji maulid nabi, dan sebagainya. Sebutan ini menurut beliau untuk menghindari jebakan istilah ‘perayaan’ tahun baru sebagai mana umat Nasrani dengan tahun masehi.

Dengan menyebut ngaji kita akan lebih dekat kepada syukur kepada Allah. Selain itu untuk menjauhkan kita dari tuduhan bid’ah. Sebab ada yang berpendapat bahwa menyambut tahun baru hijriyah termasuk perbuatan bid’ah.

Lebih lanjut UAS mengatakan ini sebagai jebakan orang-orang anti Islam agar atmosfer islami jadi redup.

Maka Rasulullah mengajarkan kepada kita dalam menyambut Tahun Baru Hijriah, ada amalan disunnahkan yang dianjurkan.

Salah satunya yakni membaca doa akhir tahun. Doa akhir tahun ini dibaca setelah shalat Ashar hingga sebelum Magrib.

Begitu pula saat memasuki tahun baru. Kita disunatkan membaca doa awal tahun dan dibaca pada detik-detik memasuki hari pertama awal Tahun Baru Islam. Doa awal tahun tersebut dibaca tiga kali setelah shalat Maghrib.

Doa awal tahun ini berisi tentang harapan harapan yang akan atau ingin dicapai selama satu tahun ke depan dan permohonan perlindungan dari Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Maka lihatlah, betapa sangat berbeda sekali sikap umat Islam dalam melakukan pergantian tahun. Rasullullah yang mulia menanamkan nilai-nilai ilahiyah dalam menyambut tahun baru sekalipun.

Ini pula kemudian dicontohkan oleh mereka yang merayakan imlek. Mereka memanjatkan doa pada hari raya imlek sekaligus pergantian tahun baru.

Hampir tidak ada ulama atau cendikiawan Islam yang menganjurkan tiup terompet untuk menyambut tahun baru hijriyah. Sebab hal itu bukanlah tradisi Islam.

Justru sebaliknya, umat muslim perlu bertafakkur, merenung segala perbuatan yang telah dilakukannya sejak setahun lalu. Kita diwajibkan bermuhasabah atas amal-amal yang telah kita kerjakan.

Bagi saya itulah makna sesungguhnya menyambut tahun baru 1 Muharram 1442 H. Mengartikulasikan semangat hijrah Rasullullah dari satu kondisi ke kondisi yang lebih baik, itulah yang harus kita lakukan.

Secara pribadi, bertambahnya bilangan tahun, yang pada hakikatnya adalah semakin dekatnya diri kita menuju alam kubur.

Lantas mengapa kita harus berhura-hura? (*)