https://acehsatu.com/wp-content/uploads/fluentform/ff-ca78e0025ec30038b1f804938a108109-ff-IMG-20240402-WA0003.jpg

Berita Lainnya

https://acehsatu.com/wp-content/uploads/fluentform/ff-c926ea740f30a093883f895c1586ddc8-ff-IMG-20240402-WA0004.jpg

Hukum

Politik

Foto: Ilustrasi penganiayaan (istimewa)

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Polda Aceh masih menyelidiki dugaan penganiayaan tahanan BNN Provinsi Aceh, DY (39) hingga tewas. Penyidik disebut telah memeriksa puluhan saksi termasuk orang yang memandikan jenazah.

“Sebanyak 30 orang saksi telah diperiksa terkait laporan tersebut,” kata Kabid Humas Polda Aceh Kombes Winardy kepada wartawan, Senin (2/1/2022).

Winardy menjelaskan, saksi yang telah dimintai keterangan di antaranya 6 orang pihak keluarga dan 2 orang yang memandikan jenazah. Selain itu, pihak RS Bhayangkara 3 orang dan pihak RS Jiwa Aceh 15 orang.

“Kita juga telah memeriksa tiga orang teman korban yang sama-sama ditangkap BNNP, dan pihak BNNP satu orang,” jelas Winardy.

Diketahui, seorang tahanan BNN Provinsi Aceh, DY (39) meninggal dunia dengan luka lebam di sekujur tubuh. Pihak keluarga menduga DY tewas karena dianiaya sehingga membuat laporan ke Polda Aceh.

Abang Kandung DY, Irfan mengatakan, pihak keluarga mengetahui DY ditangkap BNNP dari saudara mereka yang anggota polisi. DY disebut ditangkap 6 Desember dinihari di kawasan Lamteumen, Banda Aceh.

Pihak keluarga saat itu tidak mendapat informasi resmi dari BNNP perihal penangkapan tersebut. Mereka hanya mengetahui DY ditangkap bersama empat rekannya karena diduga mengkonsumsi sabu.

“Setelah ketangkap dibawa-bawa, untuk cari BD (bandar), mungkin adek kami ini takut – takut juga karena diancam,” kata Irfan kepada wartawan, Senin (12/12/2022).

Beberapa hari usai penangkapan, kata Irfan, pihak keluarga dihubungi seorang perantara dan meminta disediakan BPJS DY. Penelpon beralasan DY harus diinfus namun tidak menjelaskan alasannya.

“Jadi pihak keluarga ini sudah curiga, karena diminta BPJS, apa berat kali dipukul atau apa kan. Tapi kata mereka cuma mau diinfus karena lemas, sakau entah apa lah kata orang tu,” jelasnya.

Menurutnya, pada Jumat (9/12), pihak keluarga diminta datang ke BNN karena kondisi DY sudah parah. Keluarga mengaku kaget saat melihat sekujur tubuh DY terdapat luka lebam dan sudah tidak sadarkan diri.

DY akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Namun pada Sabtu (10/12) pagi, DY meninggal dunia.

“Paginya (Sabtu) kami dihubungi, katanya sudah meninggal dunia. Kan kami enggak tahu di badan dia ada luka separah itu. Pas udah meninggal kami buka bajunya, kayaknya patah tulang rusuknya, kayak luka dipukul benda tumpul,” ujarnya. (*)