Surat Terbuka dari LSM Lembahtari Untuk Kapolda Aceh Terkait Keprihatinan Perusakan Hutan di Aceh Tamiang 

Surat Terbuka dari LSM Lembahtari Untuk Kapolda Aceh Terkait Keprihatinan Perusakan Hutan di Aceh Tamiang 

ACEHSATU.COM [ ACEH TAMIANG –  Direktur LSM Lembatari, Sayed Zainal M SH menyampaikan surat terbuka kepada Kapolda Aceh terkait keprihatinan atas terjadinya perusakan kawasan hutan bakau di Kuala Peunaga, kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.

Surat terbuka tersebut di tulis Sayed Zainal M SH di akun Facebook miliknya Sayed Zainal , Jumat (3/7/2020) dengan harapan ditindak lanjuti. Selain itu juga ia melampirkan video dan beberapa foto  dilokasi perusakan hutan dan gambar peta.

“Benar saya ada menulis surat terbuka di akun facebook saya,” ujar Direktur LSM Lembahtari, Sayed Zainal M SH saat dikonfirmasi Acehsatu.com, Jumat (3/7/2020)

Ini bunyi surat tersebut,

Kepada

Yth Bapak Kapolda Propinsi Aceh

di Banda Aceh

Perihal : menyampaikan laporan sekaligus keprihatinan atas terjadinya perusakan kawasan hutan bakau di Kuala Peunaga Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.

Sifat : surat terbuka

Tgl : 3 juli 2020.

Harapan : ada tindak lanjut

assalamualaikum

Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan ucapan selamat HUT Bayangkara ke 74.

Bahwa telah terjadi peruskan hutan bakau dlm kawasan hutan produksi di pesisir Aceh Tamiang, tempat kejadian seperti yg kami sampaikan dalam dokumen photo Lembahtari tanggal, 20 juni 2020 dan 2 juli 2020 dan kordinat TKP sesuai servey kelokasi kejadian.

Bahwa perusakan hutan bakau tersebut dilakukan, diduga sejak tgl 15 juni 20 20 dilakukan secara liar dan terencana dengan memasukan, menggunakani unit exvator merek hitachi untuk membuat tanggul/bedeng di sepadan sungai yang telah merusak kawasan hutan bakau dengan tujuan utk menguasai hutan tanpa izin dan diduga bertujuan untuk membuka kegiatan perkebunan secara ilegal

Bahwa dari bukti lapangan tanggul atau bedeng tersebut sebahagian telah selesai dikerjakan mencapai sepanjang 800 meter lebih yang menutup alur alur kecil tempat aliran anak sungai sebagai suatu ekosistem hutan bakau.

Bahwa diduga peralatan 1 unit exavator tersebut disewa dari pemilik yang beralamat di jalan jenderal M Yani, Kuala Simpang dan alamat gudang di Kampung Kebun Tengah.dan diduga exvator tersebut yang digunakan untuk merusak kawasan hutan bakau di Kuala Peunaga tersebut dikelola oleh oknum warga Kampung Tanjung Binjai berinisial A, Kecamatan Bendahara.

Bahwa dari hasil identifikasi dan pendalaman masalah, diduga kawasan hutan bakau yang dirusak atau ingin menguasai dengan mengatasnamakan oknum tertentu yang mengatasnamakan Datok Kampung Rantau Pakam yang wilayah kampung tersebut tidak terletak dan jauh dari kawasan hutan bakau kampung Kuala Penaga.

Bahwa kami dapatkan fakta, ada arahan dari oknum pejabat di Kabupaten dan di Kecamatan di Aceh Tamiang agar beberapa Datok Penghulu di beberapa kampung uutuk membuat kesepakatan agar kawasan hutan produksi yang telah dirambah tersebut untuk dibagi-bagi.

Dan ini berpotensi sebagai modus yang seakan kawasan tersebut telah digarap dan selanjutnya dengan dasar tersebut bisa diterbitkan pola kesepakan kerja sama dari instansi terkait untuk mengelola kawasan hutan sehingga dibuat legal, modus ini sering terjadi di Aceh Tamiang.

Bahwa saat hari Kamis tanggal 2 Juli 2020 jam 11. 00 lewat kami ke lokasi tempat kejadian ditemukan 1 unit exvator pada hari Sabtu tanggal 20 Juni 2020, beberapa minggu yang lalu dan ternyata pada hari Kamis tanggal 2 Juli 2020, 1 unit ecavator sudah tidak ada lagi di tempat kejadian perkara.

Padahal pada tgl 20 Juni 2020, Tim KPH Wilayah III dan Kepala BKPH manggrove telah mencopot 1 pc dynamo start exvator sebaga bukti telah terjadi perusakan hutan bakau di kawasan hutan Kuala Penaga dan hari Sabtu sore tersebut  di bawa ke kantor KPH wilayah III Dinas lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh di Langsa namun menurut hemat kami belum ada tindak yang serius sehingga 1 unit exvator tersebut telah dipindahkan dan atau diamankan diduga oleh oknum pengelola.

Bahwa patut diduga dan berpotensi telah terjadi pembiaran perusakan hutan bakau dikawasan Kuala Peunaga yang berbatas dengan Kampung Tanjung Binjai, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.

Bahwa mengingat Kampung Kuala Peunaga adalah Kampung yang telah pindah untuk yang ke 3 (tiga) setelah dari asal Kuala Raya, kemudian Kuala Peunaga dan yang sekarang pindahan sejak peristiwa stunami 2004 disebabkan abarasi dan pasang tinggi.

Demikian, hormat kami, mudah-mudahan melalui surat terbuka ini kepada.Bapak Kapolda Aceh masalah perusakan.hutan ini dapat dilanjuti oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh khususnya KPH Wilayah III serius menindak lanjuti temuan dengan bukti lapangan dan menemukan siapa pelakunya

Salam dan hormat kami

Kualasimpang, 3 Juli 2020

Sayed Zainal M

Lembahtari.