oleh

Surat Kabar Bangkrut, Bukan Berarti Media Digital Mudah

ACEHSATU.COM – Rontoknya media-media besar pemilik oplah jutaan kopi eksplampar surat kabar di dunia telah menjadi perhatian para peneliti bisnis dan investor.

Diberitakan surat kabar Express yang diterbitkan oleh Washington Post, media kepunyaan orang terkaya dunia saat ini, Jeff Bezos, gulung tikar. Semua karyawannya pun terkena PHK.

Kita tahu bahwa media konvensional telah mengalami tantangan berat. Surat kabar yang telah beredar selama 16 tahun itu pun terpaksa keluar pasar. Padahal media ini tersedia gratis, biasanya dibaca oleh para pengguna sarana transportasi umum di kota Washington.

Penyebab bangkrutnya media besar tersebut karena tren baca berita sudah pindah ke internet serta seretnya iklan yang masuk.

Sebelumnya The Guardian juga mengalami nasib yang sama, gulung tikar dan harus merumahkan karyawannya. Majalah mode untuk wanita dan pria itu telah mem-PHK karyawannya bahkan Lucky dan Details juga telah tutup.

Di Indonesia sendiri disrupsi bisnis media juga terdampak dan memakan korban. Sekitar dua tahun lalu media cetak Harian Bola yang harus ditutup, diusia yang masih belia. Harian khusus yang mengusung konsep olahraga utamanya sepakbola. Harian Bola menyusul rekan-rekannya yang lain, yang tutup lebih awal, misalnya Soccer yang tutup beberapa tahun silam.

Selain media cetak diatas, beberapa anak usaha Kompas Gramedia juga tercatat ada yang ditutup, seperti Majalah Fortune, Chip dan Jeep. Beberapa media cetak yang berbasis mingguan dan bulanan juga tak terhitung jumlahnya yang harus terseok-seok hingga akhirnya ditutup dalam rentang waktu 5 (lima) tahun.

Tingginya frekuensi penutupan bisnis media versi cetak membuat para investor putar otak. Dengan bantuan para konsultan bisnis, para investor dinasehati untuk menilai resiko dari dampak negatif berkembangnya teknologi digital dan internet. Bahkan sejumlah penasehat bisnis bidang media menganjurkan untuk masuk ke dunia media digital.

Pendiri amazon dot com Jeff Bezos membeli Washington Post (WP) pada tahun 2013. Traffic WP padahal telah melewati The New York Times dan tembus 70 juta unique visitors rata-rata bulanan pada tahun lalu.

WP menerapkan paywall untuk meraih pendapatan. Mereka merekrut sejumlah jurnalis muda berbakat yang tahu cara menulis laporan, mengedit dan mengkurasi berita untuk khalayak digital. Langkah ini ditempuh oleh WP mengantisipasi perpindahan dari media cetak ke digital.

Meskipun begitu kondisi ini bukan berarti bisnis media digital lancar dan aman. Banyak perusahaan media yang berbasis digital juga gulung tikar alias bangkrut. Kemudian diikuti dengan melakukan PHK terhadap karyawan mereka. Sebut saja misalnya Yahoo, The Hufington Post, dan start up nasional.

Optimisme bahwa booming media digital yang menampilkan lonjakan traffic pembaca dan jumlah dana yang besar mengarah pada kenyataan bahwa internet benar-benar sangat sulit. Begitu ditulis dalam Abbruzzese (2016).

Menurut sebuah laporan, start up media digital tumbuh hanya sekitar $ 123 juta pada tahun 2017 di 26 transaksi. Ini merupakan tingkat aktivitas terendah sejak pertengahan 2015. Kategori media digital di sini meliputi podcast, situs berita, blogging, newsletter, situs video, dan situs konten lainnya. Ini tidak termasuk konten buatan pengguna dan jaringan sosial.

Tak dapat ditolak bahwa kehadiran internet memang mengharuskan para pelaku bisnis untuk menyesuaikan model bisnis mereka. Pemilik bisnis media perlu mengembangkan dan mengadopsi model bisnis yang lebih baru atau berbeda dengan model bisnis lainnya bila ingin tetap survive di pasar.

Meski bisnis media digital dinilai menjanjikan namun bisnis ini masih dianggap kurang populer atau masih ada kekuatiran di kalangan investor. Ini menurut sudut pandang bisnis.

Sebagian besar investor tidak terlalu tertarik pada sektor ini karena memang sulit menjual konten, belum lagi persaingan yang tinggi, kata pendiri bubu dot com, Shinta Dhanuwardoyo sebagaimana dikutip Yohanes Widodo.

Bisnis media khususnya media berita bukan bisnis yang dengan cepat memberikan keuntungan. Bisnis ini cenderung berjalan linier dan bersifat jangka panjang. Di sini tidak hanya dituntut para pembuat konten untuk melakukan produksi berita atau laporan dalam sebuah tajuk namun juga harus ditekankan pada model bisnis yang diterapkan.

Kita pernah memiliki pengalaman, menilik sejarah bagaimana dunia mengalami euforia online atau booming dot kom pada akhir 90-an hingga awal 2000-an sekaligus bagaimana media-media daring tersebut mengalami kerontokan. Ketika itu situs-situs lokal muncul tumbuh bagai jamur di musim hujan. Bahkan ribuan blogger lahir dari boomingnya era dotcom.

Kehebohan itu ternyata tidak bertahan lama, memasuki tahun-tahun berikutnya satu per satu media daring berguguran karena tidak mampu operasional. Katanya media online lebih efesien ternyata hanya isapan jempol belaka. Hampir semua portal berita daring dilanda krisis karena tidak berimbang dengan pemasukan.

Lantas di mana posisi bisnis media portal saat ini? Disrupsi teknologi meski berdampak negatif pada bisnis media cetak namun ternyata tidak memberikan keuntungan yang signifikan juga bagi media digital. Oleh karenanya pelaku bisnis media digital juga harus bekerja keras melawan badai disrupsi. Caranya bagaimana? Tentu dengan mengembangkan model bisnis inovatif dan berbeda. Wallahua’alam. (*)

Komentar

Indeks Berita