Edukasi

Sultanah Aceh dalam Ingatan Dunia

Encyclopedia Britannica (Acheen); dan Universal Geography by Elisee Reclus Vol. 14: 109, telah mencoba mengungkapkan secara serba singkat tentang Sumatra di mana Aceh sebagai salah satu kerajaan terpentingnya, kemudian tentang pendiri kerajaan Aceh dan para penerusnya, sampai pada masa Sultanah Shafiyyatuddin yang bergelar Tajul ‘Alam dan ratu-ratu setelahnya.

Dikutip dari Group facebook Mapesa.

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Siaran ini ditujukan hanya untuk sekadar mengingatkan kembali bahwa sejarah Aceh adalah bagian dari sejarah ummah, bagian dari sejarah dunia; bagian dari sesuatu yang besar.

Kurun dakwah dan penyiaran Islam di Asia Tenggara yang dipelopori oleh para pemimpin politik di Aceh adalah sejarah dunia. Kurun perjuangan demi membela negeri-negeri Islam di Asia Tenggara adalah sejarah dunia.

Kurun kejayaan di dunia perniagaan maritim dan perekonomian adalah sejarah dunia. Perang Aceh-Belanda adalah di antara perang terpanjang di dunia.

Perlawanan yang tak kenal henti terhadap imperialisme-sekalipun saat Belanda telah menduduki dan telah membangun berbagai sarana dan prasarana di daerah-daerah yang didudukinya juga adalah di antara perlawanan tergagah di dunia.

Ia adalah bagian dari sejarah dunia, bagian dari sesuatu yang besar.

Kenyataan Aceh sebagaimana hari ini bukanlah patokan untuk mengukur kenyataan Aceh di masa silam. Memandang sejarah Aceh sebagai bagian yang runut kepada kenyataan hari ini adalah tidak bijak; akan mengerdilkan bahkan menzalimi sejarah.

Keadaannya sungguh sudah jauh berbeda. Aceh dalam kenyataan sejarahnya di masa silam mesti dipahami sebagai sesuatu yang terpisah dari kenyataan hari ini.

Tapi, jika seseorang sering dikunjungi mimpi tentang Aceh yang kembali memiliki kekuatan dan peranannya sebagaimana kenyataannya di zaman silam, maka ia perlu menemukan sejarah itu lalu menjiwainya.

Menjiwai sejarah Aceh niscaya memperlihat seseorang visi-visi yang tidak terlihat dalam kenyataan hidup sebagaimana hari ini. Visi-visi itu niscaya memikulkan sekian beban dan tanggung jawab.

Saat seseorang bergerak untuk memikul beban dan tanggung jawab itu, maka saat itu pula ia kembali menjadi orang Aceh dengan makna sebenarnya, dan roda sejarah Aceh pun kembali bergerak melanjutkan perjalanan yang sudah lama terhenti.

Karena sejarah Aceh adalah bagian dari sejarah dunia, maka ia ditemukan walaupun terkadang sekelumit, di lembaran-lembaran yang beredar di berbagai bagian dunia yang jauh dari Aceh, semisal di Majalah Al-Muqtathaf yang terbit pada 1920 di Kairo.

Demi meluruskan pernyataan Amirah Qadriyah Husain (puteri Kamil Husain, penguasa Mesir 1914-1917, di bawah Inggris) mengenai Syajaratud Dur, Rizqullah Manqariyus Shadafī, seorang cendikiawan Koptik dan pengarang Tarikh Duwal Al-Islam, menulis di Majalah Al-Muqtathaf (bulanan terbit di Beirut dan Kairo, 1876-1952) sebuah artikel bertajuk “Al-Malikat fi Al-Islam (Para Ratu dalam Sejarah Islam).

Artikel yang terbit pada edisi Agustus dan September Al-Muqtathaf tahun 1920, Manqariyus menulis tentang 17 pemimpin wanita dalam sejarah Islam yang ia ketahui.

Pada edisi September, penulis mengawali uraiannya dari urutan nomor 8 sampai dengan nomor 11 di bawah sub judul “Empat Ratu Aceh” (Malikat Atcin Al-Arba’).

Penyebutan nama-nama ratu dari Aceh serta masa kepemerintahan mereka diiringi oleh penulis dengan sebuah pernyataan bahwa seseorang baru dapat memahami bagaimana Islam berkembang dalam waktu yang sangat singkat apabila ia benar-benar tahu ke mana Islam telah menyebar dalam waktu yang cepat dan menakjubkan.

Uraian Manqariyus yang mengacu kepada sumber-sumber: Encyclopedia of Islam I:508; Encyclopedia Britannica (Acheen); dan Universal Geography by Elisee Reclus Vol. 14: 109, telah mencoba mengungkapkan secara serba singkat tentang Sumatra di mana Aceh sebagai salah satu kerajaan terpentingnya, kemudian tentang pendiri kerajaan Aceh dan para penerusnya, sampai pada masa Sultanah Shafiyyatuddin yang bergelar Tajul ‘Alam dan ratu-ratu setelahnya.

Dari sumber bacaannya, Manqariyus menyebutkan bahwa pada masa Shafiyyatuddin, pengaruh Aceh meluas sampai lebih dari setengah Sumatra.

Ia juga mengatakan, pada masa pemerintahan para ratu, Aceh berada dalam masa keemasan.

Keadaan Aceh baru berubah dan mengalami pasang surut setelah pemerintahan mereka, sampai pada akhirnya Belanda “menelan” Aceh seperti menelan duri setelah melalui peperangan yang hebat.

Manqariyus menulis semua itu pada tahun 1920 di Majalah Al-Muqtathaf yang terbit di Kairo, Mesir.

Oleh: Musafir Zaman.

Dikutip dari group facebook Mapesa.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top