Spirit Ihsan dalam Tabung Qardul Hasan Meunasah Gampoeng

Tabung Qardul Hasan Meunasah Gampoeng (TQH-MG) adalah sebuah tabung dana yang dikelola oleh unit khusus di bawah BKM (Badan Kemakmuran Meunasah) Gampoeng.
Dr. Israk Ahmadsyah M.Ec., M.Sc.

Oleh: Dr. Israk Ahmadsyah M.Ec., M.Sc

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”(Q.S. Al-Hadid:11).

Tabung Qardul Hasan Meunasah Gampoeng (TQH-MG) adalah sebuah tabung dana yang dikelola oleh unit khusus di bawah BKM (Badan Kemakmuran Meunasah) Gampoeng.

Di mana tabung ini dilandasi oleh sifat keikhlasan untuk saling membantu, yang diupayakan untuk membantu saudara-saudara kita yang ingin melepaskan diri dari belenggu kemiskinan dengan cara memberikan pinjaman tanpa bunga (qardul hasan).

Adalah menjadi tanggung kita sesama warga untuk lebih perduli atas kondisi yang dialami saudaranya. Nabi SAW menggesa kita untuk lebih perduli terhadap sesama apalagi keluarga sendiri sebagaimana ia sebutkan “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar” (HR. Muslim no. 995).

Tetangga satu gampoeng adalah orang yang cukup dekat dengan kita sedikit di bawah keluarga. Bahkan dalam keadaan emergency, sering tetangga yang terlebih dahulu melayat dan memberikan pertolongan.

Karenanya, analogi keluarga pada hadis di atas bisa dikembangkan termasuk keluarga dalam dalam komunitas seperti gampoeng.

Apalagi jika tetangga tersebut termasuk dari golongan miskin maka semakin berhaklah dia untuk mendapatkan perhatian dari kita,

Allah SWT di dalam Al-Qur’anNya sangat jelas meminta kita saling membantu, misalnya pada ayat “Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong menolong untuk berbuat dosa dan permusuhan” (Q.S Al-Maidah:2).

Qardul hasan inilah satu-satunya bentuk pinjaman (hutang piutang) yang dibenarkan di dalam Islam, karena hutang dibayar sebatas pinjaman pokoknya saja.

Memberikan pinjaman qardul hasan juga merupakan sedekah yang utama. Begitu tingginya balasan yang akan diberikan kepada orang yang mau memberikan pinjaman tanpa bunga ini sampai-sampai  Allah SWT menyebutkan seakan-akan ia telah memberi pinjaman kepada Allah SWT.

Hal ini bisa terlihat jelas dalam (Q.S. Al-Baqarah:245), di mana Allah SWT menyeru hambanya dengan “Siapakah yang mau meminjamkan pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (qardul hasan), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan kelipatan ganda yang banyak..”

Seperti juga pesan Allah SWT yang terdapat dalam surah Al Hadid ayat 11, “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik (qardul hasan), maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”.

Hal ini dianggap sedekah yang utama karena menjadikan seseorang bisa terlepas dari jeratan rentenir sekaligus membebaskannya dari transaksi ribawi.

Setidaknya ada tiga ihsan (kebajikan) dalam pinjaman qardul hasan sebagaimana yang disebutkan dalam Al Quran. Ihsan pertama, tidak semua orang mau memberi pinjaman qardul hasan, karena selama harta itu dipinjamkan dan dipakai oleh orang lain, maka ia tidak bisa memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhannya.

Artinya, inilah pengorbanan pertama yang diberikan oleh si pemberi pinjaman. Allah menyuruh hanya mengambil yang pokoknya saja demi menghindari riba (Q.S.2: 279).

Ihsan kedua, dalam kondisi sulit, maka bagi si peminjam diupayakan keringanan dengan cara mengulur waktu pencicilan. Hal ini sesuai dengan perintah Allah pada surah Al-Baqarah: 280.

“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan”.

Ihsan ke-tiga, dalam kondisi sangat kritis (misalnya kematian, bencana yang menghancurkan usaha), maka penghapusan hutang juga layak dipertimbangkan sebagai ihsan ketiga (“Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (Q.S.2:280).

Hal ini karena selain dana TQH-MG dilandasi oleh spirit ihsan, juga karena peminjam berasal dari gampoeng sendiri, sehingga sangat wajar jika dihapuskan, demi menjaga keutuhan silaturrahim, dengan catatan disepakati melalui rapat para donatur.

Selain tiga ihsan di atas, bagi donatur harus juga siap dengan ihsan ke-empat, yaitu kemungkinan merosotnya nilai mata uang saat uang itu dikembalikan.

Berlakunya hukum time value of money bagi fiat money tidak dapat dielakkan untuk saat ini, maka ini juga dianggap sebagai ihsan dari para pendonor.

Mengapa qardul hasan begitu tinggi pandangan di sisi Allah SWT?

Hal ini karena implikasi dari bantuan ini mampu menolong seseorang terlepas dari riba, terlepas dari sifat pengemis dan menolong mereka memiliki usaha sendiri dan melepaskan ketergantungannya kepada orang lain.

Sebagai ilustrasi, sedekah seseorang katakanlah sebesar Rp. 100 ribu atau Rp 200 ribu untuk sebuah keluarga miskin, maka uang sedekah ini hanya akan digunakan untuk memenuhi  kebutuhan dasar mereka.

Namun, setelah uang ini habis, maka keluarga miskin ini kembali jatuh dalam kondisi asal tanpa perubahan.

Adapun dengan qardul hasan, seeseorang tidak ragu memberikan pinjaman satu juta, dua juta atau bahkan lebih dari sepuluh juta dari simpanannya untuk sebuah keluarga miskin yang mau mendirikan usaha, karena uang itu akan kembali kepadanya.

Katakanlah keluarga miskin tersebut bisa membuka usaha kelontong atau yang lebih kecil semisal menjual kelapa muda dan air tebu.

Tentu dengan modal dana sebesar itu sudah tentu mencukupi  kebutuhan untuk usaha tersebut.

Pada akhirnya, bantuan qardul hasan ini dapat membantu mereka memiliki sebuah usaha dan melepaskan mereka dari ketergantungan kepada orang lain.

Bukankah begitu mulianya bantuan qardul hasan ini, dan pantas jika diberikan imbalan besar dari Allah SWT.

Tentunya, demi memudahkan, dana tersebut digunakan dalam periode tertentu, dan dikembalikan dalam bentuk cicilan.

Namun, bagi peminjam ia harus sadar, bahwa dana ini bukan hibah, tapi hutang yang harus dikembalikan seutuhnya.

Besar ancaman Allah SWT bagi para penghutang yang tidak mau melunasi hutangnya manakala ia sudah memiliki harta untuk itu.

Demi kelancaran pembiayaan dan pembayaran kembali dana qardul hasan itu, untuk itu, diperlukan sebuah sistem dan mekanisme yang baik dalam pengelolaannya sehingga bisa efektif dalam upaya meningkatkan pemberdayaan masyarakat miskin suatu gampoeng melalui TQH-MG ini.

Diharapkan dengan terbentuknya dana TQH-MG ini, masing-masing gampoeng telah memiliki kaedah untuk memberdayakan warganya sendiri. (*)

Penulis adalah dosen pada  prodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Wakil Ketua Umum Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Aceh dan Ketua I Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Aceh.