Spanduk Himbauan Hanya Formalitas, Ternak Masih Bebas Berkeliaran

DENGAN menggunakan mobil patroli dan sepeda motor, hampir setiap hari petugas Satpol PP Pidie Jaya menghalau ternak dari komplek Pemerintahann Pijay di Cot Trieng-Meureudu. ACEHSATU.COM/ABDULLAH GANI

ACEHSATU.COM | MEUREUDU Hewan ternak terutama sapi, kambing  dan sejenisnya berkeliaran dimana-mana termasuk di pekarangan kantor pemerintah, jalan raya serta  pasar kecamatan masih menjadi pemandangan biasa setiap hari di Pidie Jaya.

Berbagai upaya telah dilakukan mulai tingkat kabupaten hingga gampong sekali pun, namun persoalan yang satu ini tetap saja tidak diindahkan.

Dampak dari berkeliarannya hewan berkaki empat sangat fatal di jalan raya terutama bagi pengendara sepeda motor .

Tak jarang berujung maut.

Padahal, sejak tiga tahun terakhir, melalui anggaran dana desa (ADG) semua gampong di Pijay telah memasang spanduk menghimbau kepada warga  supaya tidak melepaskan  ternak berkeliaran di desa.

Terobosan melalui ini pun hanya dianggap angin lalu. Buktinya, spanduk tetap terpajang, namun  ternak tetap  seperti biasa bebas merumput dimana-mana.

Bahkan ada gampong yang tak cukup hanya selembar memasang spanduk atau pamplet, namun sapi malah dibawah spanduk tersebut merumput.

“Lihat itu, sepertinya sapi tahu betul. Ia sengaja memperolok-olok merumput dibawah spanduk larangan,” kata seorang warga Meurahdua sambil berlalu, Jumat (9/10/2020).

Hewan bebas merumput sudah menjadi pemandangan biasa dan pemiliknya terkesan tidak peduli sama sekali. Fenomena semacam itu sudah berkalang tahun  atau  beberapa kali ganti pimpinan.

Tapi persoalan yang satu ini tetap belum bisa dituntaskan. 

“Entah kapan akan berakhir ternak berkeliaran di Pijay,” sambung warga lainnya.

Catatan ACEHSATU.com, kendati pemkab sudah mengingatkan berulangkali, namun hanya dianggap angin lalu.

Selain di kompleks kantor pemerintahan seperti Cot Trieng malah dibawah pamplet  bertuliskan Kantor Bupati Pidie Jaya kambing terkadang tidur-tiduran atau istirahat, kambing serta biri-biri juga mangkal di ruas jalan kabupaten, jalan nasional Banda Aceh-Medan di sejumlah titik, konon lagi di jalan-jalan desa atau jalangampong.

Beberapa ruas jalan gampong di Pijay  dipenuhi kotoran ternak.

Sapi tidur-tiduran di badan jalan dan tak menghiraukan orang yang lalu lalang.

Ruas jalan provinsi dari Gampong Rhieng Blang hingga Kota Meureudu hampir setiap hari lalu lalang sapi.

Petugas satpol PP pun tak jemu-jemu menghalaunya. Begitu halnya di beberapa ibukota kecamatan termasuk Kota Meureudu, Ibukota Pidie Jaya.

Terkadang segerombolan kambing  “meudu dom” alias bermalam disana termasuk depan pertokoan.

Paginya, pedagang harus kerja ekstra membersihkan kotoran ternak sebelum membuka toko untuk berjualan.

Luar biasa memang, tapi begitulah kenyataan di Pidie Jaya tahun ketahun. Sejumlah pedagang sangat mengeluhkan persoalan yang satu ini dan menilai pemkab pun tidak tegas sama sekali.

Beberapa warga menilai, spanduk himbauan tidak melepaskan ternak yang dipajang di lokas-lokasi strategis tak lebih hanya sebagai formalitas sserta menghabiskan dana gampong  yang hasilnya nihil.

”Itu kan juga salah satu cara menghabiskan uang ADG,” ketus seorang warga. Kendati nuilainya tak seberapa tapi itu sudah berlangsung tiga tahun.

Namun tida ak ada juga perubahan.  

Malah, sapi merumput samping spang nduk. Tidak hanya di Meurahdua, sejumlah kecamatan lain sama dan sudah menjadi pemandangan biasa.

Selain Kantor Mukim, Pasar Rakyat seperti di Pantai Kuthang Trienggadeng juga menjadi lokasi ternak beristirahat .

“Ketimbang mubazir kan lebih baik dimanfaatkan ternbak,” kata seorang warga. (*)