Sosok Muharuddin, dari Ustaz Hingga Politisi

Sosok Muharuddin, eks Ketua DPR Aceh jadi sorotan publik dalam dua hari ini pasca-ia menerima jabatan memimpin Partai Perindo di Aceh.
Sosok Muharuddin
Muharuddin. Foto Dok. Serambi Indonesia

ACEHSATU.COM Sosok Muharuddin, eks Ketua DPR Aceh jadi sorotan publik dalam dua hari ini pasca-ia menerima jabatan memimpin Partai Perindo di Aceh.

Sebelumnya, Muharuddin dikenal sebagai politisi berbakat yang dimiliki Partai Aceh. Puncak karirnya, ia sempat menduduki kursi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh periode 2014-2018.

Kini, publik heboh. Muharuddin meninggalkan partai yang membesarkan namanya dan bergabung dalam partai bestuan Harry Tanoe.

Lantas siapakah Muharuddin?

Dikutip dari berbagai sumber, memiliki nama lengkap, Tgk H. Muharudddin, S.Sos.I lahir di Matang Panyang, Aceh Utara, 18 Juni 1978.

Ia merupakan putra kelima dari delapan saudara pasangan Teungku H. M. Harun, M dan Hj. Ramlah.

Masa kecilnya ia habiskan di kampung halamannya di Gampong Matang Panyang, Kecamatan Seuneuddon.

Sosok Muharuddin
Muharuddin. Foto Dok. Serambi Indonesia

Ketika muda, Muharuddin menimba ilmu di sejumlah pesantren di Aceh hingga ia dipercaya sebagai ustaz di pesantren.

“Sejak lulus SMP Alue Ie Puteh di Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke dayah. Awalnya saya sempat masuk Dayah Salafiah Darul Falah Jeunieb selama 2 tahun, kemudian saya lanjutkan lagi ke dayah moderen Misbahul Ulum di Paloh,” ungkap Muharuddin seperti melansir Acehrend.com.

Usai menamatkan pendidikan menengah atas pada tahun 2000, Muharuddin mengaku sebelumnya sempat bercita-cita ingin menempuh jenjang pendidikan di Al-Azhar University, Cairo, Mesir.

Namun, faktor ekonomi membuat langkahnya terhenti.

 “Saat itu saya sempat ikut tes di Kemenag dengan modal hafalan Al-Quran 3 juz, tapi tetap saja saya tidak lolos meski syarat yang dimintanya hanya 1 juz,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski demikian, suami dari Syarifah Rahmah tidak putus asa, melalui tekad dan cita-citanya yang tinggi inilah mampu mendongkrak semangatnya hingga sempat melalang buana ke berbagai negara, seperti Malaysia, Thailand, Kamboja dan Timor Leste.

Ia berharap untuk mendapatkan gelar sarjana atau LC adalah melalui jalur suaka politik.

Sepulang dari Thailand, Muharuddin kembali mengabdi sebagai ustaz di Ponpes Moderen Misbahul Ulum.

Bergabung dengan GAM

Jauh sebelum bersentuhan dengan dunia politik. Muharuddin lebih dulu mengenal dunia pergerakan.

Ketidakadilan Pemerintah Pusat yang dirasakannya membuat ia bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka.

Ideologi perlawanan itu muncul saa ia menimbailmu di Pondok Pesantren Moderen Misbahul Ulum Paloh.

Muharuddin kemudian bergabung dengan GAM serta mengikuti latihan militer di camp Langkawi Matang Sijeuek, Aceh Utara di bawah komando Tgk. Said Adnan, Gubernur GAM wilayah Pasee pada tahun 1998.

Muharuddin dikenal cakap dan menguasai bahasa Inggris, Arab dan Thailand.

Hingga kemudian ia ditangkap saat membawa wartawan asing meliput pasukan Inong Balee di wilayah Batee Iliek hingga bertemu Panglima GAM, almarhum Tgk Abdullah Syafi’ie.

Menjadi Politisi

Muharuddin kini dikenal sebagai politisi muda dan berbakat.

Ia memulai sebagai politisi di Partai Aceh—partai para mantan kombatan GAM yang kelak membesarkan karirnya sampai ke puncak.

Ia terjun pertama kali ke dunia politik pada tahun 2005.

Setelah perjanjian damai MoU Helsinki, Muhar ditunjuk sebagai Kepala Biro Penerangan KPA Wilayah Pasee.

Sejak tahun 2009 ia menjabat sebagai Anggota DPRA sampai tahun 2014.

Ia kembali maju dan mendapat suara terbanyak dari daerah pilihan lain di seluruh Aceh.

Sehingga ia dipercayakan sebagai Ketua DPRA periode 2014 -2018.

Di ajang Pemilu Legislatif ahun 2019, Muhar mencoba peruntungan melalui Partai Nasdem.

Ia menjadi Caleg DPR RI Partai Nasdem dengan harapan bisa bertengger di Senayan.

Kini, Muharuddin kembali “berakting.” Melalui Partai Perindo, ia menyatakan akan berkolaborasi dengan Partai Aceh.

Ia mengaku sudah mendapat restu dari Ketua Umum Partai Aceh Muzakir Manaf atau Mualem, dan Kamaruddin Abu Bakar alias Abu Razak untuk menjadi Ketua Partai Perindo Aceh.

Menurutnya, penunjukan tersebut merupakan suatu tantangan tersendiri untuknya.

Muharuddin menjelaskan Partai Aceh merupakan rumah pertamanya dan tak mungkin dilupakan.

“Kita sudah minta izin ke beliau, karena PA rumah pertama saya dan membesarkan saya sampai sekarang. Itu tidak mungkin kita lupakan,” ujarnya. (*)