Sosok Abu Tumin di Mata Masyarakat Aceh

Abu Tumin wafat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fauziah, Bireuen, Selasa (28/9/2022) sore. Abu meninggal dunia pada usia 90 tahun setelah sempat dirawat.
Abu Tumin
Gubernur Aceh, Ir. H. Nova Iriansyah, MT bersama Sekda Aceh, dr. Taqwallah, M.Kes, Direktur RSUDZA, dr.Isra Firmansyah, Sp.A dan Kadisdik Dayah Aceh, Zahrol Fajri, S.Ag, MH saat membesuk Tgk. H. Muhammad Amin (Abu Tumin) di RSUDZA, Banda Aceh, Rabu (26/1/2022). HO/ACEHSATU.com

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Ulama Karismatik Aceh Teungku Muhammad Amin atau lebih dikenal Abu Tumin Blang Blahdeh meninggal dunia. Abu Tumin termasuk ulama berpengaruh dan menjadi pelita bagi masyarakat Serambi Mekah.

Abu Tumin wafat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Fauziah, Bireuen, Selasa (28/9/2022) sore. Abu meninggal dunia pada usia 90 tahun setelah sempat dirawat.

Abu Tumin merupakan pimpinan pondok pesantren Dayah Al Madinatuddiniyah Babussalam Blang Bladeh, Bireuen. Almarhum dimakamkan pagi tadi di kompleks pesantren yang dipimpinnya.

Proses pemakaman disebut dihadiri ribuan pelayat. Masyarakat Aceh berdatangan ke pesantren tersebut sejak kabar Abu Tumin wafat tersebar di media sosial.

BACA JUGA: BREAKING NEWS: Abu Tumin Meninggal Dunia

Wakil Ketua DPR Aceh Safaruddin mengenang Abu Tumin sebagai salah satu ulama yang banyak memberikan sumbangsih pemikiran terhadap arah pembangunan Aceh. Abu Tumin juga sosok yang menjadi tempat bertanya dan panutan.

“Ada banyak petuah-petuah Abu yang menjadi pedoman bagi kita. Beliau adalah pelita iman dan ilmu bagi kita. Hari ini pelita itu telah tiada,” kata Safaruddin kepada wartawan, Rabu (28/9/2022).

Safar mengajak masyarakat Aceh untuk sama-sama mendoakan agar almarhum husnul khatimah dan dimudahkan hisabnya. “Keluarga yang ditinggalkan agar tabah, terutama kepada anggota DPRA dari PNA, Tgk Haidar yang merupakan putra Abu Tumin,” jelas Sekretaris Partai Gerindra Aceh ini.

Jurnal Ilmiah Mahasiswa (JIM) Pendidikan Sejarah FKIP USK berjudul ‘Abu Tumin: Biografi Ulama Dayah Aceh’ yang ditulis Muammar, dkk, Abu Tumin lahir di Bireuen, Aceh pada 17 Agustus 1932.

Abu Tumin berasal dari kalangan keluarga yang dikenal alim. Kakeknya Teungku Hanafiah merupakan pendiri balai pengajian yang kemudian berubah nama menjadi Dayah Madinatuddiniyah Babussalam setelah dipimpinnya.

Ayah Abu Tumin Teungku Muhammad

Mahmud yang akrab disapa Teungku Muda Leubee juga ahli agama di daerah tersebut. Abu Tumin disebut hanya menempuh pendidikan formal di Inlandsche Volkschool (sekolah dasar rakyat) sampai kelas tiga.

Dia lalu menuntut ilmu di bidang agama. Abu Tumin pernah belajar di beberapa pesantren di antaranya di Dayah Pulo Reudeup, Kecamatan Jangka, Bireuen, dan Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Pada tahun 1959, Abu Tumin pulang kampung dan mengajar bersama ayahnya di balai pengajian yang didirikan kakeknya.

“Kegiatan mengajarnya tersebut kemudian membuatnya dikenal dengan panggilan Abu Tumin, sehingga nama Muhammad Amin yang merupakan nama asli Abu Tumin, perlahan tidak diketahui oleh masyarakat. Bahkan kebanyakan pemuda setempat saat ini tidak mengetahui nama aslinya,” tulis Muammar.

Pendidikan yang Diperoleh Abu

Tumin, baik dari orang tua maupun dari beberapa ulama di Aceh menjadi salah satu penyebab dia dikenal sebagai ulama yang cakap atau kharismatik. Abu Tumin pernah berguru pada Abuya Muda Waly Al-Khalidy dan Teungku Hasan Krueng Kalee.

“Abu Tumin dikenal sebagai salah seorang ulama yang mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat Aceh dewasa ini. Dia merupakan salah satu ulama kharismatik Aceh yang mempunyai pemikiran mengikuti perkembangan zaman walaupun tidak tertulis dalam kitab-kitab kuning. Selain itu dia juga merupakan ulama yang sangat tegas, apabila ada suatu pertemuan untuk membahas suatu permasalahan, maka dia tidak akan berhenti sebelum adanya kesimpulan. Hal inilah yang membedakan dia dengan beberapa ulama tradisional lainnya,” tulis jurnal tersebut.

Pengaruh Abu Tumin terhadap masyarakat disebut sangat besar mulai dari segi keagamaan, kehidupan sosial hingga perpolitikan. Abu Tumin juga merupakan salah satu tokoh yang sangat dipandang kalangan ulama Aceh.

“Ketika konflik GAM-RI beliau merupakan salah satu tokoh yang sangat sering dimintai pendapat oleh kedua belah pihak,” tulis jurnal tersebut. (*)