oleh

Soeryadarma Isman, Sejak Usia 8 Tahun Telah Menerbitkan Karya Sastra

-Sosok-143 views

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Putra seorang penyair, dramawan dan teaterawan Sulaiman Juned ini sejak usia belia sudah berkesenian. Soeryadarma Isman mengaku sangat bangga kepada sosok Abinya, betapa tidak, baginya sosok ayah yang kesehariannya disapa Abi tersebut ia anggap suri tauladan.

Saat dihubungi ACEHSATU.com, Surya mengakui kehidupannya sebagai anak sastrawan yang juga akademisi sangat memberi pengaruh terhadap dirinya selaku anak, kegiatan-kegiatan abinya selalu ia ikuti, sebelum Surya melanjutkan pendidikan di Banda Aceh, Aceh.

Berkelahi di Sekolah

Namun kebanggaannya terhadap sosok ayah tak kalah dengan rasa bangganya pada sosok ibunya, Titin Iswanti, yang menurutnya paling sibuk dan membanggakan, yaitu sebagai ibu rumah tangga.

Mamak sebagai perempuan pertama yang selalu mengajarkan filosofi hidup kepadanya, akunya.

Surya dilahirkan di Beureunuen, Pidi, Aceh pada 17 Maret 2002. Sewaktu Abinya sedang melanjutkan studi S2 di Solo, maka dirinya bersama keluarga tinggal di Solo. Pendidikan di tingkat sekolah dasar (SD) ia tamatkan berpindah-pindah di tiga SD yang berbeda.

Pertama pada tahun 2008 setelah kembali ke Padangpanjang dari Solo, Surya masuk Sekolah di SD Plus Muhammadiyah Padangpanjang, Sumatera Barat hanya sampai di kelas 3 (tiga).

Perjalanan pendidikannya tergolong unik, saat Surya menyelesaikan pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK)  Islam Bakti XIII, Kentingan Solo, Jawa Tengah (2007), ia sering sekali terlibat perkelahian di sekolah tersebut dengan abang kelas sebab mereka sering meminta uang kepadanya, aku Surya.

“Saya tidak mau kasih, maka terjadilah perkelahian hampir setiap hari,” ungkapnya mengenang.

“Kebetulan pula saat itu Abi mengajar juga di FKIP/Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Padangpanjang yang berada satu kompleks Kauman Muhamadiyah (TK, SD, SMP, SMA, MAA dan FKIP UMSB), Abi memergoki saya sedang berkelahi. Lalu, Abi membicarakan peristiwa ini sama Mamak di rumah,” lanjutnya.

Akhirnya pada tahun 2011 ia dipindahkan Abinya sekolah pada Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Padangpanjang dan duduk di kelas IV, hal ini tentu untuk menghindari agar ia tidak berkelahi lagi.

Hanya dua tahun ia bersekolah di sana sampai kelas V. lalu pada tahun 2013 harus pindah ke Banda Aceh.

“Seharusnya saya dan Mamak pindah ke Solo mengikuti Abi, namun nenek berkeinginan Mamak dan saya pindah ke Aceh, biar Abi saja yang berangkat ke Solo untuk melanjutkan studi (S3).

“Dikarenakan permintaan dari nenek tercinta, Abi dan Mamak setuju, jadilah saya pindah lagi dan duduk di kelas VI SD Negeri 26 Banda Aceh. Ijazah Sekolah Dasar saya dapatkan dengan bersekolah di tiga Sekolah Dasar, hal ini tentu menjadi  pengalaman yang paling berharga buat saya,” urainya.

Saat ini Surya sudah duduk di kelas VII SMP Negeri 17 Banda Aceh. Sebentar lagi ia akan menerima Raport kenaikan kelas.

“Mohon doanya agar saya dapat duduk di kelas VIII tahun ini. Itulah sekilas riwayat tentang pendidikan saya,” mohonnya.

Sosok Ayah bagi Surya

Sosok Abi bagi Surya selaku anak memang wajar untuk diteladani, betapa tidak, beliau menyelesaikan ketiga-tiga jenjang pendidikannya dengan prediket Cumlaude.

Beberapa waktu lalu, tanggal 27 Mei 2016 baru saja menyelesaikan ujian Program Doktoralnya di Penciptaan Seni Teater, Pascasarjana (S3) ISI Surakarta dengan yudisium Cumlaude (3,86), menamatkan Penciptaan SeniTeater Pascasarjana (S2) ISI Surakarta juga dengan yudisum Cumlaude (3,89) pada tahun 2007, serta lulus dari jurusan Seni Teater STSI Padangpanjang dengan prediket Cumlaude juga (3,51) pada tahun 2002.

Dorongan yang akhirnya ia gunakan untuk mulai memilih untuk jadi penulis juga karena ia menyaksikan Abinya sangat banyak teman dan sahabatnya di seluruh Indonesia.

Sewaktu kecil apabila Abi jadi juri atau pemakalah ataupun kalau Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang pentas teater keliling Indonesia, ia menyaksikan Abinya tersebut banyak sekali temannya di seluruh Indonesia.

Sekarang Surya mengaku baru tahu teman-teman Abi itu ada yang berprofesi sebagai penyair, cerpenis, novelis, wartawan dan tokoh-tokoh teater, belum lagi kawan Abi itu yang dari lingkungan dosen, ditambah lagi orang-orang yang ngefans dengan karya-karya Abi, baik karya sastranya maupun teater.

Sejak Belia Berkesenian

Sedangkan masalah berkesenian, Mamaknya, Titin Iswanti pernah cerita kepadanya, semenjak kecil ia terbiasa dibawa dalam gendongan Mamak untuk menyaksikan Abi Sulaiman Juned latihan teater, baik latihan dasar, latihan alam maupun ketika Abi sedang menyutradarai naskah lakon bersama Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang yang lokasi kesekretariatannya berada di rumah kontrakan  milik Abi di Padangpanjang.

Begitu juga kalau Abinya diundang untuk baca puisi, baik di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi, Jakarta, Jawa Tengah, Bali dan Malaysia maka Mamak dan dirinya selalu saja ikut serta dan jadi penonton setia.

“Barangkali, menyaksikan kesenian semenjak usia dini menjadikan saya sangat menyukai kesenian,” ungkap Surya.

Semenjak kecil Surya sudah terbiasa bergaul dengan sastrawan dan teaterawan, seperti; Atok Taufik Ismail, (Alm) Leon Agusta, Sutardji Calzum Bahri, Mustafa Ismail, Dianing Widya Yudistira, Arafat Nur, Gola Gong, Iyut Fitra, Muhammad Subhan, Yusril, Gus Tf, Hasan Albana, Yondik Tanto, Dindon dan Nano Riantiarni serta Putu Wijaya, Whijang Wharek, Sosiawan Leak, Salman Yoga S dan lain-lain.

Apabila Abi Sulaiman Juned bertemu dengan tokoh-tokoh baik di Jakarta, Padang, Medan, Aceh, Solo atau di sekretariat Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, maka serta merta ia selalu saja ikut dalam diskusi panjang membicarakan tentang sastra dan teater.

Selain itu saya juga sering berdiskusi tentang sastra khususnya puisi dengan Abi dan Om Muhammad Subhan, penulis sastra asal Aceh menetap di Padang Panjang.

Jadi, karena Abinya juga dosen Sastra di beberapa Perguruan Tinggi Swasta di Sumatera Barat memiliki banyak buku sastra, dan buku yang paling senang ia baca adalah buku tentang tekhnik menulis puisi dan membaca puisi.

“Ketika ketika kami (Saya, Mamak dan Abi) pindah ke Solo tahun 2005 karena Abi Sulaiman Juned melanjutkan studi (S2) di Pascarsarjana ISI Surakarta, dan tahun 2006, disanalah saya mengawali melakukan proses cipta dan baca puisi bersama Ibu Handawiyah. Saat itu sedang sekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) Islam Bakti XIII, Kentingan Solo, Jawa Tengah (2007),” kenangnya.

Secara kebetulan pula ada lomba tulis dan baca puisi Tingkat Taman Kanak-Kanak Se-Kota Surakarta dan  Jawa Tengah, terpilih pula ia sebagai peserta lomba, lalu ia diajari cara menulis dan membaca puisi oleh Ibu guru, sedangkan sesampai di rumah tentu Abi Sulaiman Juned yang penyair dan pembaca puisi handal itu turut mengajarinya.

“Akhirnya saya sering mendapatkan juara I dalam setiap lomba baik Cipta maupun Baca puisi.  Selanjutnya mulailah saya punya keinginan untuk terus menulis puisi,” urainya bersemangat.

Proses Kreatif Perjalanan Karya Puisi

Puisi Surya mulai dimuat di ruang anak Harian Solo pos dan Jawa Pos. Ini menjadi dorongan awal untuk menjadi penulis karena waktu itu Surya sudah mendapat honor Rp. 50.000,- untuk tiga buah puisi yang berhasil lolos kurasi.

Abinya pernah menyatakan suatu nasihat yang terus melekat diingatannya, “kalau kita banyak kawan hidup ini tidak akan pernah susah”.

Kalimat Abi ini selalu terngiang dalam jiwanya, artinya jadi penulis itu pasti banyak teman. Pilihannya untuk menjadi penulis semakin mantap ketika Abi mengatakan kepadanya, begini : “Jadi penulis itu jika kita sudah meninggal nanti, pasti tulisan kita tertinggal dan selalu dibaca orang. Apabila tulisan kita dapat bermanfaat bagi orang lain apalagi mampu merubah perilaku orang karena tulisan kita, maka pahala akan terus mengalir kepada kita” begitu ungkap Abi.

“Saya menjadi tercenung waktu itu. Benar juga, hal inilah yang menjadi penguat saya untuk menjadi penulis (penyair) namun saya tidak mau menjadi Abi, memang saya akui Abi Sulaiman Juned itu sangat hebat, beliau dimanapun berada dapat menjadi motivator buat orang lain, Salut dan tabik saya ke beliau,” jelasnya.

“Saya memiliki cita-cita dalam dunia kepenyairan untuk dapat melebihi Abi,” cetus Surya menguatkan niat.

Proses keratif Surya dalam menulis puisi tidak terlepas dari Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang. Diskusi mingguan yang rutin tentang menulis dan membaca puisi  di sekretarist yang beralamat di Jalan Dr. A. Rivai No.146, Kelurahan Guguk Malintang, Padangpanjang Timur, Kota Padangpanjang itu.

“Ada Om Muhammad Subhan dan Abiku Sulaiman Juned mengajarkan serta membina para pembelajar dalam teknik menulis dan baca puisi. Pembelajar diberikan buku-buku sastra, lalu diminta untuk membacanya, lalu pertemuan selanjutnya diminta membahas hasil bacaan masing-masing. Setelah itu, secara keilmuan diajarkan cara merebut ide atau gagasan, menentukan tema, memilih diksi lalu cara merangkai kata menjadi puisi,” lanjutnya.

Setiap kali dimintakan untuk menulis puisi selalu diarahkan agar tulisan didasarkan dari pengalaman pribadi yang paling menyenangkan, menyedihkan, menakutkan, mengerikan dan lain-lain.

Kalau di saat sedang belajar sementara di luar sedang terang bulan, sedang hujan, gerimis, sedang berkabut maka Abi dan Om Muhammad Subhan meminta pembelajar untuk menikmati suasana itu di luar dengan membawa buku tulis untuk menuliskan puisi berdasarkan suasana alam.

Setelah puisi-puisi selesai ditulis, Abi dan Om Muhammad Subhan memberikan masukan mengenai kelebihan dan kekurangannya  terhadap hasil karya pembelajar termasuk Surya.

Seterusnya dikembalikan puisi itu kepada penulis untuk melakukan revisi. Selesai direvisi puisi-puisi tersebut dikirim ke beberapa media. Tentu hal seperti ini menjadi sebuah kebiasaan dalam proses kreatif menulis puisi.

Abi dan Om Muhammad Subhan sering menyatakan kepada murid sastra mereka, bahwasannya ide dan gagasan itu harus direbut, bukan ditunggu, sebab ide dan gagasan itu tidak datang sendiri kalau tidak kita cari.

Dari proses kreatif seperti itulah di tahun 2011 di Usia Surya 8 tahun bersama dua penyair Shania Azzira dan Shalsabilla Oneal Dhiya Ulhaq yang sedang berproses di Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang menerbitkan antologi puisi berjudul “Negeri di Atas Langit” yang diterbitkan  Kuflet Publishing bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Padangpanjang.

Sebanyak 50 puisi karya Surya berada dalam antologi puisi tersebut. Sebuah kebahagiaan baginya karena di usia delapan tahun telah memiliki buku antologi puisi. Ini tentu menjadi pemicu untuk terus menulis.

Puisi-puisi Surya sudah mulai dimuat di beberapa media cetak dan Online, seperti di Korandigital.com, Harian Pagi Postmetro Padang, Harian Umum Rakyat Sumbar, Padang Ekspres, Singgalang dan Haluan (Sumatera Barat). Koran Media Indonesia (Jakarta) Ruang Kita Koran Kompas (Jakarta). Jurnal Seni Kuflet.com. Harian Serambi Indonesia, Majalah Potret Anak Cerdas,  Lintasgayo.co, Atjeh Wilkley, Harian Rakyat Aceh (Aceh). Harian Umum Solopos, Harian Umum Joglosemar, Harian Umum Jawa Pos (Jawa Tengah), Bulletin Jejak (Forum Sastra Bekasi).

Soeryadarma Isman baik ketika masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak maupun ketika sudah di Padangpanjang, Sumatera Barat maupun ketika menetap di Banda Aceh juga telah sering tampil baca Puisi di BiTV dalam acara Kaji Sastra, juga jadi pemusik dalam titel Menyama Beraya Komposer I Dewa Nyoman Supenida di ISI Padangpanjang. Bermain dalam teaterikal puisi matahari Karya Sulaiman Juned disutradarai Erianto Kuflet dalam LK II HMI Padangpanjang di Gedung M. Syafe’i Padangpanjang.

Mementaskankan teaterikal puisi Ziarah Gempa Karya/sutradara Sulaiman Juned di Gedung Syafe’i Padangpanjang (14 Maret 2010). Pentaskankan Teaterikal Puisi Ziarah Bencana Karya/Sutradara Sulaiman Juned di Gedung MTC Sawahlunto, Sumatera Barat. Pentas Kolaborasi CAMAR (Puisi-Seudati-Musik Etnik Aceh) Karya/Sutradara Sulaiman Juned di Pentas Kemah Seniman Aceh Ke-4 (13 September 2015).

Sedangkan beberapa penghargaan yang diperoleh Surya dapatkan dalam cipta dan baca puisi, sebagai berikut; Juara I Lomba Cipta dan Baca Puisi tingkat Taman Kanak-Kanak se- Kota Surakarta (2007), Penyiar Anak di Radio anak Yogyakarta (2007), Juara I Lomba Cipta dan Baca Puisi Tingkat Taman Kanak-Kanak Se- Jawa Tengah (2007), Juara I Lomba Baca Puisi Se- Kota Sawahlunto (2008), Juara Baca Puisi Tingkat Sekolah Dasar Se- Kota Padangpanjang (2008), Juara I Cipta dan Baca Puisi Tingkat Sekolah Dasar  Se- Sumatera Barat (2008), Juara Favorit Lomba Baca Puisi di Acara Pedati Nusantara X di Bukittinggi (2010).

Puisi-puisi Surya terkumpul dalam beberapa antologi puisi bersama, seperti  antologi Puisi Negeri Di Atas langit diterbitkan Kuflet Publishing dan Dinas Pendidikan Padangpanjang (2012), Antologi Puisi Penyair Enam Negara Secangkir Kopi  (The Gayo Institute, 2013), Antologi Penyair Indonesia Eksklopegila Koruptor (Forum Sastra Surakarta, 2015).

Terkumpul dalam Antologi Penyair Indonesia Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta, Nopember 2015), antologi Penyair Indonesia Kalimantan Rinduku yang Abadi (Dewan Kesenian Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 2015), Antologi Puisi Ayah, dibahumu Aku Bersandar (Fam Publishing, 2016), Antologi Puisi Semangat Kemerdekaan (Penerbit Hanami, Jawa Tengah, Februari 2016), dan Antologi Puisi Tunggal Surya berjudul SAPA  diterbitkan CV Pena House (Maret 2016),  memuat 70  puisi-puisi yang ditulisnya selama bermukim di Banda Aceh dalam rentang waktu tahun 2015 sampai dengan tahun 2016.

“Yang membuat saya sangat berbahagia ketika Antologi Puisi Negeri di Atas Langit  dijadikan pilihan oleh kak Hakimah Rahmah Sari yang juga penyair menjadi Skripsi berjudul “Proses Kreatif Penyair Anak-anak Soeryadarma Isman: Tinjauan Sosialogi Pengarang” Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (UNAND) Padang, Sumatera Barat, pungkas Surya. (*)

Komentar

Indeks Berita