Sisi Lain: Covid-19 Tercipta Kecerdasan Religi dan Ekonomi

Oleh : Dr. Zainudidin, SE., M. Si.

ACEHSATU.COM – Kekuasaan sang Maha Pencipta kembali menggugah alam pikiran manusia bagi mereka yang mau berpikir melalui kehadiran makhluk yang sangat halus tak terlihat dengan mata manusia. Namun mampu membuat ketakutan dan kecemasan seluruh penduduk bumi.

Apa itu? yaitu Allah taqdirkan kehadiran virus diawal tahun 2019. Manusia menamakannya  dengan sebutan Covid-19 dan ntah Allah Yang Maha Kuasa memberi nama apa, dan itu haknya Allah.

Sungguh amat besar kekuasaan Allah terhadap sesuatu perkara dari tiada menjadi ada dan sebaliknya dari ada menjadi tiada dan itu perkara yang amat mudah bagi Nya, dan ini juga kunci keimanan umat terpilih untuk menyakini kekuasaan sang Maha Kuasa.

Berbagai fenomena muncul dari permulaan ada wabah covid-19 hingga sekarang membuat para pemikir dan penyelenggara  pemerintahan di dunia mencoba menstimulasikan bagaimana hendaknya keterpaparan bisa diminimalisir dan bahkan tidak terjadi sama sekali.

Dahsyatnya akibat yang ditimbulkan oleh covid-19 bisa didapat dengan gamblang kita sebagai rakyat melalui media informasi, bahwa bila terpapar covid-19 akan menyebabkan sakit dan tidak akan pernah sembuh hingga mati karena belum adanya vaksin anti covid-19 itu sendiri hingga sekarang.

Pola keterpaparannya berlaku model pohon faktor bisa melalui kontak fisik jarak dekat, melalui benda mati seperti tempat duduk, pintu dan lainnya, serta sekarang ada publikasi dari Badan Kesehatan Dunia Covid-19 bisa terpapar melalui udara.

Karena dahsyat akibat yang ditimbulkan dan cara penyebaran covid-19 tersebut. Sehingga, para elit diseluruh negeri yakin dengan ikhtiarnya, yaitu harus diterapkan protokol kesehatan dalam keseharian untuk semua tingkatan kegiatan di luar rumah maupun didalam rumah.

Apa saja dimensi protokol kesehatan dan kebijakan lain yang mendukung agar melemahnya keterpaparan covid-19 yang bisa penulis uraikan dan korelasikan dengan religius dan ekonomi, yaitu poin pertama hindari keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak.

Pada poin ini ada suatu nilai religi yang muncul bahwa gunkan energi yang benar-benar diperlukan saja dan lebih baik simpan energi yang ada untuk kebutuhan masa dating.

Artinya tidak perlu masyarakat mengabiskan daya dan upaya untuk harus selalu dalam keramaian hingga lupa tugas utama manusia diciptakan oleh sang pencipta, banyak habis waktu kongkow-kongkow di berbagai café-cafe atau mal-mal atau taman-taman tanpa diisi bekal untuk dipergunakan dibeberapa lama lagi.

Intinya batasi keluar rumah bagi muslimin bahasa lain adalah silahkan membaca Alqur’an di rumah agar manusia sekalian dekat zat yang mencipta manusia itu sendiri.

Serta dengan tidak berkeliaran di luar rumah karena memang tidak dibutuhkan untuk keluar ada hubungannya dengan ekonomi itu sendiri, yaitu terjadi efesiensi terhadap sumber daya manusia itu sendiri dan akan muncul pengetahuan untuk hidup hemat dan jauh dari keriaan serta akan menjadi pelajaran yang super bagi manusia dalam perkara mencari nafkah cukup yang halal-halal saja.

Maknanya, untuk itu harta bertumpuk ibarat gunung seulawah namun bercampur aduk dengan riba dan hak orang lain tetapi tak bisa juga dinikmati secara berlebihan karena dibatasi covid-19 dan umur manusia dari hari ke hari semakin dekat dengan kuburan dan harta itu sendiri tidak bisa ikut dikubur.

Kemudian, poin yang kedua bila pun harus keluar rumah harus bermasker dan jaga jarak. Makna yang isa diungkapan dari poin tersebut adalah manusia harus selalu mambatasi diri dalam berbicara.

Karena sebelum covid-19 manusia lebih suka menghujat, ghibah antar sesama, berbicara kotor, mengumpat dan lainnya, maka dengan adanya covid-19 hendaknya sedang bermasker jangan lagi melakukan seperti itu, artinya bisa jadi covid-19 diturunkan karena campur tangan Tuhan menegur umat yang sudah hidup bangga dengan hujatan, ghibah, mengumpat, dan bicara kotor.

Maka bila dihubungkan dengan ekonomi pesan dari bermasker adalah jangan terlalu banyak bicara tetapi tidak berbuat, maknanya lebih senang berjanji tetapi sedikit realisasi, dan inggar janji itu utang dan utang bisa menjadi penghalang ke surga.

Selanjutnya, poin ketiga bila pun harus keluar rumah harus selau cuci tangan cuci semua saat pulang. Maknanya lagi-lagi Allah Azzawajalla ikut campur tangan menegur umat yang sudah lalai membasuh tangan hingga muka (dengan kata lain berwudhu) selama ini karena kesibukan-kesibukannya.

Apalagi dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang semakin maju banyak manusia (khususnya yang mengaku beriman) sudah menyepelekan atau terlalu jarak dengan perkara wudhu dan shalat.

Hal ini biasa dibuktikan secara kasat mata bahwa ummat sekarang sebelum covid-19 kurang menghargai panggilan azan dan bahkan ada yang tidak menjawab azan tersebut, mungkin inilah yang harus dibaca dibalik covid-19 ada teguran dari pemilik alam semesta ini untuk tidak lupa menyembahnya yaitu dengan melakukan shalat.

Barang siapa yang mengaku muslim tetapi tidak shalat itu sebenarnya termasuk yang putus saraf alias gila akut.

Hubungan poin ketiga dengan ekonomi adalah bagaimana hendaknya kita perlu mendapatkan hasil dari aktivitas ekonomi kita yang betul-betul bersih dan suci, maknanya usaha ekonomi harus takluk pada hukum Allah dan yakin pada kehendak Allah.

Mungkin sebelum covid-19 banyak diatara muslimin terlalu membagakan harta padahal harta tersebut kotor dalam pandangan Allah, maka sang pencipta menegur kita agar kembali kepada hukum Allah dalam segala aspek kegiatan ekonomi.

Mungkin juga banyak diatara muslimin yang tidak lagi taat membayar zakat walaupun ada ditunaikan zakat tetapi kadang-kadang tidak seperti tuntutan yang benar.

Ekonomi itu sebenarnya modal menuju surga jika dalam aktivitasnya selaras dengan hukum Allah dan sekaligus menajdi modal ke neraka jika aktivitas ekonomi jauh dari hukum Allah. Allahu Akbar . (*)

(Penulis Adalah Dosen Fakultas Ekonomi USM Aceh dan Penikmat Kopi Pancung)