Opini

Sisi Lain Caffeine Ala Diyus (Part 2)

Sosiologi Petani Kopi, paparan oleh Diyus Hanafi.

Foto | Istimewa

Penulis: Diyus Hanafi

Kopi leles menjadi istilah umum atau nama dagang untuk biji kopi yang terjatuh dari batang karena dimakan oleh tikus, bunglon, luruh karena terlalu tua atau lolos dari cengkeraman para buruh kutip.

Tikus dan bunglon tak lantas dianggap sebagai hama. Hewan pengerat dan melata ini hanya mencecap cairan manis yang bersemayam di antara kulit buah dengan kulit ari kopi.

Jadi, biji kopi masih tersisa dan tetap memiliki nilai ekonomi. Lagipula jumlah kopi yang turun kasta sebagai lelesan tak terlalu mengganggu penghasilan Pak Tani.

Biasanya tikus dan bunglon membuang biji kopi sisa kudapannya di bawah naungan tajuk. Sementara bunglon membuat sebentuk sarang khusus dari kumpulan daun kopi kering di pangkal cabang tertinggi untuk mengumpulkan biji kopi yang sudah terkelupas seluruh kulit buahnya.

Terkadang tikus menyembunyikan biji kopi di bawah tumbangan kayu berukuran sedang, sisa tebangan pembukaan lahan yang dibiarkan melintang sembarangan oleh petani.

Tumbuhan epifit pada tanaman kopi yang tak terawat juga menjadi tempat alternatif penyembunyian biji kopi oleh kerabat Pinky and the Brain.

Kopi leles berbeda dengan kopi luwak karena tikus dan bunglon tak menelan dan memfermentasi biji kopi di lambung. Selain itu, seekor luwak tidak akan membuang kotoran di tempat yang sama jika ada orang yang mengambil kotoran bermuatan kopi pada periode buang air besar (BAB) sebelumnya.

Sebagai bukti, Ariadi, 42 Tahun, menunjukkan sebuah gundukan tanah di tengah tamas (belukar) di atasnya bertebaran biji kopi yang berkelompok. Ada tumpukan yang sudah berkecambah, bertunas dan berdaun empat berdasarkan jadwal BAB luwak. Sepintas gundukan tersebut lebih mirip bedeng semai benih tanaman kopi.

Lelaki yang juga menjabat Sekretaris Desa Arul Item itu menjelaskan, perbedaan ukuran dan umur tanaman di gundukan tersebut menandakan periode BAB musang yang lolos dari pemburu kopi luwak.

BACA: Sisi Lain Caffeine Ala Diyus (Part 1)

Sebab itulah meski di kawasan lain harga kopi luwak melambung, di Arul Item justru luwak dianggap hama. Nasib mereka tersingkir karena mengalami pembasmian sistemik oleh para petani.

Biasanya dengan cara meracun, menjerat dan memburu. Walhasil, di Arul Item lelesan dan kopi luwak digabungkan. Para agen merasa enggan karena sering tertipu oleh penjual kopi luwak palsu.

Ternyata eh… ternyata, para agen kopi yang beroperasi di Aceh Tengah dan Bener Meriah menerima kopi lelesan sebagai penambah kuota setoran ke agen pengumpul untuk penambal kerugian akibat fluktuasi harga. Caranya sederhana, kopi lelesan dicampur dengan kopi biasa. Harga kopi lelesan berselisih Rp 2.000 lebih rendah dari harga kopi standard. Jika harga gabah kopi Rp 25.000 maka harga kopilelesan Rp 23.000 per bambu.

Menurut Sugino, 37 tahun, agen kopi yang berdomisili dan beroperasi di Arul Item, margin harga beli lelesan dengan kualitas standard cukup signifikan jika terjadi fluktuasi harga atau kekurangan kuota.

Persaingan kian sengit karena di Kampung Arul Item menjadi kancah perebutan sembilan orang agen dengan luas lahan perkebunan kopi mencapai 300 hektar lebih.

Namun ada juga agen yang menyetorkan kopi lelesan ke agen pengumpul tetap dengan status lelesan untuk menjaga mutu dan mempertahankan kepercayaan agen.

“Sekali-dua kali okelah orang nggak tau, tapi lama kelamaan orang pasti curiga kalau barang yang kita setor kurang bagus…” ujar Samsul Bahri, 31 Tahun, seorang agen kopi di Kampung Arul Item lainnya.

Samsul menambahkan penjelasan, kopi lelesan berisiko memiliki kualitas rendah karena sebagian peleles sering mengikutkan biji kopi yang sudah berkecambah dengan lelesan berkualitas baik. Proses perkecambahan kopi yang sudah lebih dari 3 cm mengakibatkan bagian inti biji kopi pecah karena berubah menjadi bakal daun.

“Kalau tumbuhnya masih segini oke lah…tapi kalau udah kelewat panjang ‘kan udah pecah biji” ujarnya sambil memperagakan panjang akar dengan satu setengah ruas jari telunjuknya.

Padahal, jika peleles beritikad baik mereka cukup memencet bijikopi yang sudah bertunas. Jika terasa lunak berarti bakal daun sudah terbentuk, sementara biji bertunas yang masih keras masih cukup layak dikumpulkan. (*)

Bersambung…

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top