Sidang Kasus Dugaan Pengurangan Kadar Emas, Kuasa Hukum Terdakwa Pertanyakan Kelayakan Saksi Ahli

Razman, meminta majelis hakim untuk mempertimbangkan aturan yang baru yang diikat oleh kementrian perindustrian dan perdagangan "per tanggal 22 Maret 2021 barulah keluar sebutan 24 karat 99 persen dan 23 karat disebut 95 persen kadar emasnya dan itulah aturan baru. Dimana keberadaan Asosiasi Perdagang Permata Indonesia (APPI) dimana semua pedagang emas dan permata ada didalamnya.
Sidang perkara dugaan penipuan pengurangan kadar emas di Pengadilan Negeri Banda Aceh.

ACEHSATU.COM | Banda Aceh – Pengadilan Negeri Banda Aceh kembali menggelar sidang perkara dugaan penipuan pengurangan kadar emas terhadap terdakwa Sunardi Alias Apun pemilik toko emas Asia, pada senin (6/12/2021).

Sidang kali ini mengagendakan pemeriksaan seorang saksi ahli yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), dan juga pemeriksaan tiga saksi yang dihadirkan oleh penasehat hukum  terdakwa .

Dalam persidangan JPU menghadirkan seorang saksi ahli, Ephraim J.K. Caraen analis perdagangan ahli muda, direktorat pemberdayaan konsumen, ditjen perlindungan konsumen dan tertib niaga, kementrian perdagangan.

Namun Kuasa Hukum terdakwa Sunardi, Razman Arief Nasution Razman menolak semua kesaksian ahli yang disampaikan dihadapan mejelis hakim karena menurutnya saksi ahli bersaksi tidak sesuai keahliannya, sesuai dengan Pasal 8 ayat 1 Huruf F undang-undang perlindungan konsumen tahun 1999.

Usai persidangan Kuasa Hukum terdakwa Razman Arief Nasution mengatakan, dalam persidangan tadi saksi yang dihadirkan oleh terdakwa yang merupakan salah seorang pedagang emas di kota Banda Aceh yaitu Murizal pemilik toko emas Ikhlas.

“Dalam persidangan tadi saksi menyebut, melakukan kasus yang sama dengan terdakwa, dengan menuliskan dalam faktur pembayaran juga sama, Murizal juga dipanggil dan diperiksa penyidik kepolisian tetapi kasusnya tidak dilanjutkan”, ujar Kuasa Hukum terdakwa, Sunardi.

Kemudian Razman, mempertanyakan cara penyedik melakukan proses penyelidikan dilakukan  secara acak, akan tetapi, lanjut Razman, yang diperiksa hanya empat toko mas dikawasan titik yang sama, yang jaraknya tidak berjauhan, “Namun Ia meyakini berdasarkan fakta dipersidangan bahwa kliennya tidak bersalah”, ujar Razman Arief Nasution  Razman .

Selain itu Razman, meminta majelis hakim untuk mempertimbangkan aturan yang baru yang diikat oleh kementrian perindustrian dan perdagangan “per tanggal 22 Maret 2021 barulah keluar sebutan 24 karat 99 persen dan 23 karat disebut 95 persen kadar emasnya dan itulah aturan baru. Dimana keberadaan Asosiasi Perdagang Permata Indonesia (APPI) dimana semua pedagang emas dan permata ada didalamnya, ujar penasehat Hukum Sunardi Alias Apun

“Nah,kalau dalam persidangan tadi ahli mengatakan Undang-undang tidak ada turunnya, tidak ada Juklaknya, serta pentujuk teknisnya, nah dari situ terlihat bahwa ahli tidak tahu apa-apa atau tidak mengerti  menurut ahlinya“, ujar Razman.

“Saya yakin Hakim memberikan keputusan yang seadil-adilnya,karena sesungguhnya tidak ada satu rupiah pun pembeli itu dirugikan, hanya mungkin ada orang suruhan yang kami duga mengakal-akali untuk mendapatkan sesuatu dari kelemahan orang lain”, tutupnya kuasa hukum terdakwa Sunardia alias Apun.

Baca Juga: Oknum Polisi Diduga Peras Pemilik Toko Emas Rp 200 Juta

Sebelumnya diberitakan, empat pemilik toko emas ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Ditreskrimsus Polda Aceh. Keempatnya diduga memperdagangkan emas tidak sesuai kadar.

Polisi mengatakan dugaan itu didasari hasil Laboratorium Balai Besar Kerajinan Batik di Yogyakarta. Hasil pemeriksaan laboratorium diketahui kadar emasnya tidak sesuai dicantumkan dalam surat.

Baca Juga: Peras Pemilik Toko Emas, 3 Anggota Polisi di Aceh Dicopot

Keempat pemilik toko emas yang diduga menjual emas tidak sesuai dengan kadar itu ialah Sunardi alias Apun (Toko Emas Asia), Jonny alias Athiam (Toko Emas Baru), Dedy Amin (Toko Emas London), dan M Husen (Toko Emas Husein H Hasyim).