Breaking News

SEULANGA Segera Pentaskan Jejak Perjuangan Mutiara Rimba Tjoet Nyak Meutia

Lembaga Seulanga segera mementaskan pertunjukan teater bertajuk Jejak Perjuangan Mutiara Rimba Tjoet Nyak Meutia pada 13 Oktober 2018 mendatang di Taman Seni dan Budaya Aceh, Setui.

Foto | Istimewa

ACEHSATU.COM | BANDA ACEH – Lembaga Seulanga segera mementaskan pertunjukan teater bertajuk “Jejak Perjuangan Mutiara Rimba Tjoet Nyak Meutia” pada Sabtu, 13 Oktober 2018 mendatang di Taman Seni dan Budaya Aceh, Setui.

Lembaga Seulanga adalah sebuah organisasi pelestarian, pendidikan dan pengembangan kesenian dan kebudayaan Aceh. Dengan sumber dana swakelola, Seulanga sebagai wadah seni budaya di Aceh telah banyak menghasilkan kegiatan bermutu dan sukses sebagai langkah-langkah upaya pelestarian, pendidikan termasuk sejarah dalam seni dan budaya Aceh.

Salah satu program pelestarian, pendidikan kebudayaan yang telah Seulanga lakukan misalnya program Sadar Wisata, berjalan selama ini untuk melestarikan hasil-hasil kebudayaan Aceh yang telah ada.

“Ini merupakan bentuk tanggung jawab yang telah diamanahkan para pendahulu,” ungkap Khairul Anwar (terkenal dengan sebutan Kaka) melalui rilisnya kepada media ini, Senin (8/10/2018).

Keberhasilan Lembaga Seulanga selama ini merupakan berkat dari dukungan seluruh masyarakat Aceh serta instansi-instansi terkait lainnya.

Berupa dukungan pikiran, moril maupun meteril. Lembaga Seulanga hanya memiliki ide dengan daya pengembangan yang strategis tentang pelestarian, pengembangan dan pendidikan seni budaya Aceh.

Untuk sekian kalinya, Lembaga Seulanga muncul dengan inovasi produk seni pertunjukan, dengan usungan tema “Jejak Perjuangan Mutira Rimba – Tjoet Nyak Meutia”.

Kisah Tjoet Nyak Meutia akan dipentaskan sebagai sosok perempuan Aceh yang cukup tinggi baktinya terhadap negeri Aceh. Pementasan ini juga dapat dianggap sebagai bagian reka dari lintas sejarah masalalu pada awal abad ke-18 masehi, dimana sejak kerajaan Belanda mengeluarkan maklumatnya untuk memerangi kerajaan Aceh.

Generasi-generasi terbaik Aceh pada saat itu menyahutinya dengan penuh suka cita. Terbersit di setiap hati para mujahid ladang jihad terbuka lebar di tanoh indatu ini .

Teuku Umar Johan Pahlawan, Tjoet Nyak Dhien, Panglima Polem dan ribuan mujahid nanggroe ini telah memberikan pelajaran terbaiknya tentang tekad dan keteguhan hati dalam memperjuangkan agama dan harga diri sebuah bangsa.

Perang yang berkecamuk hingga puluhan tahun merupakan perang yang terlama dan terpanjang dalam sejarah Kolonial Belanda menggerakkan roda imperialismenya di berbagai kawasan belahan Asia termasuk di Aceh.

Di pesisir utara Aceh tahun 1901 Tjoet Njak Meutia dan suaminya Teuku Chik Tunong mengambil alih estaped perjuangan, dan membuka fron perlawanan melawan penjajah Belanda yang berbasis di daerah Pasai.

Di bawah komando perang para mujahid negeri ini melakukan gerilya di seluruh kawasan. Belanda pun merasakan betapa gigihnya kilatan pedang dan tikaman rincong para pejuang. Dalam medan jihad ini pula  Teuku Chik Tunong tertangkap dan akhirnya syahid di ujung peluru pasukan tembak Belanda.

Itulah sekilas penggalan ilustrasi peristiwa yang sedang dikemas lewat media pertunjukan dan multimedia oleh Lembaga Seulanga dalam hal ini bekerja sama dengan pihak Taman Seni dan Budaya Aceh yang disponsori oleh pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Kesenian.

Tim produksi:

Pimpinan Produksi (The Green Theater ‘Lembaga Seulanga’),

Pendanaan (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Kesenian)

Fasilitator (Taman Seni Budaya Aceh)

Humas (Dody Sanjaya)

Penulis Naskah (Kaka Zaffana)

Sutradara (Afrimer)

Astrada (Winda Utami)

Stage Manager (Nuqrasyi Diauddin)

Penata Musik (Zulkifli)

Penata Artistik (Mustafa Kemal)

Multi Media (Riadi Zulfahmi)

Penata Lighting (Mek’s)

Penata Rias (Intan Mauliza)

Penata Busana (Fauzul)

By Disain (Teuku Ilyas)

Aktor: Teuku Chik Tunong (Hamdani Chamsyah), Tjoet Njak Meutia (Cut Raudhatul Jannah), Teuku Raja Sabi (Rahmad Reda), Pang Nanggroe (Ichsan Mantovani), Teuku Syekh Buawah (Muhammad Sukri), Teuku Chik Paya Bakong (Rizki Tullah), Pang Gadeng (Said Farhamdi), Teuku Muda Ganto (Muhammad Rizal), Spionase (Andre Alta Ziaulfata), Gubernur Militer Aceh G. C. V. Daalen (Mirja Irwansyah), Jenderal H. N. A. Swart (Aan Risnanda Valevi), Letnan Van Vuuren (Arif Munandar). (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top