Serang Balik, Berang Periuk Nasi Disebut Retak, Qodari: AHY Harus Cabut Deputi Balitbang!

ACEHSATU.COM – Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat (PD) Syahrial Nasution menilai analisis Direktur Indo Barometer M Qodari soal duet Agus Harimurti Yudhoyono dan Airlangga Hartarto (AHY-Airlangga) ngawur. Qodari menekankan dia menganalisis berdasarkan data yang sebenarnya.

“Syahrial Nasution kan menyebut analisis saya ngawur. Sekarang saya tanya, di mana ngawurnya. Coba tunjukkan ngawurnya data-data yang saya berikan. Kalau disebut ngawur, coba kasih data yang berbeda. Kan argumentasi saya itu pada dasarnya ada dua aspek. Pertama soal kuantitas, kedua soal kualitas,” kata Qodari, seperti dilansir detikcom, Selasa (8/6/2021).

Qodari kemudian menjelaskan analisisnya mengenai perbandingan AHY dan SBY. Menurutnya, AHY dan SBY tak bisa disamakan dalam pengalaman militer dan politik.

“Pertama antara SBY dan AHY. Di mana ngawurnya saya? Kalau bicara pangkat. Silakan dibantah kalau memang pangkatnya AHY itu lebih tinggi daripada SBY. Ya setahu saya Pak SBY itu terakhir jabatannya di militer itu bintang 3, kemudian dapat bintang 4, tanda kehormatan jabatannya Kaster. AHY saya cek di internet terakhir jabatannya mayor. Ya saya mohon maaf kalau jabatan mayor itu ternyata lebih tinggi daripada letnan jenderal. Berarti ya saya salah berarti harus dikoreksi itu pangkat di militer,” kata dua.

“Yang kedua soal pengalaman di pemerintahan. Ya catatan saya juga Pak SBY pernah Menteri Pertambangan, Menko Polsoskam di zamannya Gus Dur. Pernah Menko Polkam di zamannya Bu Mega. Setahu saya catatan saya AHY belum pernah jadi menteri, koreksi saya lagi kalau salah. Jabatan terakhir yang saya tahu komandan batalion. Ya tolong dijawab, tolong dikasih tahu, dikasih data kalau AHY itu pernah menteri juga,” lanjutnya.

M Qodari (Ari Saputra/detikcom)

Qodari juga memaparkan elektabilitas AHY dan SBY. Dia mengatakan elektabilitas SBY dalam survei LSI Agustus 2003 nomor dua, ada di bawah Megawati Soekarnoputri. Sementara pada Maret 2004 SBY pada peringkat pertama.

“Nah, AHY saya belum pernah lihat surveinya itu nomor 2 atau nomor 1, nomor 1 belum pernah. Ya setidaknya lihat survei inilah, SMRC, Charta, Indikator, Kompas, itu survei Kompas April 2021 posisinya nomor 7, 3,3 persen kalau nggak salah,” katanya.

Qodari pun menjelaskan analisisnya mengenai AHY dan Airlangga. Kedua tokoh itu, katanya memiliki pengalaman yang jauh berbeda.

“Kemudian perbandingkan antara AHY dengan Airlangga, lagi-lagi tunjukkan di mana salahnya saya bicara. Saya bilang Pak Airlangga pengalaman pemerintahannya sudah panjang. Udah pernah jadi anggota Dewan, itu saya cek benar bahkan ketua komisi dua kali. Lalu menteri dua kali, Menteri Perindustrian, lalu sekarang Menko Perekonomian. Ya kembali lagi kalau saya salah tolong tunjukkan, tolong dibilang bahwa Pak Airlangga itu nggak pernah anggota Dewan, nggak pernah menteri. Atau sebaliknya, kalau saya salah tunjukkan bahwa AHY pernah jadi anggota Dewan, pernah jadi menteri,” tutur Qodari.

Qodari kemudian menyerang balik. Menurutnya, pendapat Syahrial ngawur dan menyerang pribadi.

“Jadi ya Syahrial itu bilang analisis saya ngawur. Menurut saya, komentar dia yang ngawur. Data harusnya dijawab dengan data, bukannya menyerang pribadi dengan mengatakan periuk nasinya retak segala macam, itu namanya sok tahu,” jelasnya.

Pernyataan Syahrial, menurut Qodari tidak berdasarkan data. Dia menyebut Syahrial halu alias halusinasi.

“Tapi cara berpikir Syahrial menurut saya halu ini, sekaligus ini, lalu menyerang pribadi. Menurut saya menunjukkan bahwa ya Pak AHY, Mas AHY harus mencabut Syahrial dari posisi sebagai deputi litbang. Karena tugasnya litbang itu menyampaikan data dan fakta secara objektif, akurat. Nanti data itu kemudian disusunlah katakanlah strategi,” ungkapnya.

“Tapi kalau datanya tidak akurat itu namanya garbage in garbage out, nanti strateginya juga salah. Balik lagi asumsi menyamakan SBY dan AHY itu di mana akurasinya. Kalau kita bicara dalam konteks pengajuan calon presiden. Ini kan konteksnya memasangkan AHY dengan Airlangga Hartarto,” lanjutnya. (*)