Seperti Aceh, Orang Minang Juga Pernah Beli Pesawat untuk Indonesia

Avro Anson RI-003 adalah pesawat multi peran bermesin ganda yang dibuat oleh pabrikan Inggris Avro , dan merupakan pesawat ketiga milik pemerintah Republik Indonesia.
Orang Minang beli pesawat untuk Republik Indonesia
Pesawat RI-003 yang dibeli dari hasil sumbagan emas, perak dan perhiasan masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Foto diambil sebelum diberangkatkan ke Songkhla, Thailand Selatan, di Lapangan Udara Gadut, Tilatang Kamang, Kabupaten Agam. Dok/Wikipedia

ACEHSATU.COM – Sejarah mencatat, rakyat Aceh mengumpulkan emas untuk membeli pesawat Dacota setelah Presiden Soekarno datang langsung ke Negeri Serambi Mekah.

Lalu pada  16 Juni 1948, pesawat dibeli dan diberi nama RI-001 dan RI-002.

Sejarah juga mencatat bahwa masyarakat Minangkabau juga pernah membeli pesawat untuk Republik Indonesia.

Padahal, pesawat RI-003 dibeli oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat.

Pesawat terbang jenis Avro Anson itu dibeli dari hasil sumbagan emas, perak dan perhiasan masyarakat Sumatera Barat.

Avro Anson RI-003 adalah pesawat multi peran bermesin ganda yang dibuat oleh pabrikan Inggris Avro , dan merupakan pesawat ketiga milik pemerintah Republik Indonesia.

Wakil Presiden Mohammad Hatta mulai mengumpulkan emas itu pada 27 September 1947, di Bukittinggi.

Rencana pembelian pesawat itu bermula saat Agresi Militer I Belanda di Bukittinggi. Bung Hatta ketika itu mencoba cari jalan mengatasi blokade ekonomi diterapkan Belanda.

Blokade ini menyulitkan posisi pemerintah dan menyengsarakan kehidupan rakyat. Hatta kemudian berpikiran, perlu upaya untuk menerobos blokade tersebut.

Caranya, membeli pesawat terbang dengan meminta sumbangan ke rakyat Minangkabau guna mengatasi blokade Belanda dan mendukung perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Panitia pengumpulan emas ini dipimpin Mr A Karim, Direktur Bank Negara, dengan anggota para pejabat dan tokoh ikut rombongan Bung Hatta dari Yogyakarta serta diperkuat Mr Sutan Mohammad Rasjid, residen Sumatera Barat.

Usai membentuk kepanitian, Bung Hatta mengadakan sebuah apel besar di Lapangan Kantin (lapangan depan Makodim 0304/Agam, sekarang). Tanpa pikir panjang, selama dua bulan, amai-amai (ibu-ibu) mendaftarkan diri menyumbangkan semua perhiasan emas dan peraknya.

Tim ini, seperti disampaikan oleh Gamawan Fauzi, mantan Gubernur Sumatera Barat dan Menteri Dalam Negeri, masuk keluar kampung hingga ke pelosok-pelosok nagara, menggugah masyarakat dan meminta kerelaan kaum ibu menyumbangkan perhiasan emas mereka untuk perjuangan.

Pertemuan diadakan di berbagai tempat, tanah lapang, mesjid, surau-surau, juga gedung sekolah, bioskop dan sebagainya.

Tanpa diduga, walau kondisi ekonomi sedang susah di masa Revolusi Kemerdekaan, keinginan membeli pesawat terbang itu mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

Alhasil, hanya dalam tempo kurang dari dua bulan, emas sudah terkumpul sebanyak satu kaleng biskuit. Pada akhir November 1947, bertempat di kantornya Gedung Agung (kini Istana Bung Hatta), Wakil Presiden Bung Hatta menerima emas tersebut.

Emas perhiasan tersebut berasal dari sumbangan rakyat Sumatera Barat itu lalu dilebur dan dijadikan emas batangan dengan berat 14 kilogram (kg) dari tangan Ketua Majelis Pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) Sumatera Barat, Chatib Sulaiman.

Wakil Presiden Bung Hatta lantas menugaskan seorang pembantu dekatnya, Aboe Bakar Loebis bersama timnya mencari kapal terbang untuk dibeli.

Berkat bantuan dua staf Perwakilan RI di Singapura, kebetulan putra Minangkabau juga, Letnan Penerbang Mohammad Sidik Tamimi alias Dick Tamimi dan Ferdy Salim (putra Haji Agus Salim), didapat kapal terbang jenis Avro Anson di Thailand.

Komodor Muda Halim Perdanakusumah (kanan) dan Opsir Udara I Iswahjudi, berfoto bersama pemilik pesawat terbang Avro Anson, Paul H Keegan, Desember 1947, di Lapangan Udara Gadut, Agam, Sumatera Barat.

Pesawat tersebut milik Paul H Keegan, warga negara Australia dan bekas penerbang RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) pada Perang Dunia II.

Usai Perang Dunia II, banyak pesawat terbang sebelumnya digunakan untuk perang, dijualbelikan begitu saja, termasuk pesawat milik Keegan.

Awal Desember 1947, pesawat terbang jenis Avro Hanson diterbangkan ke lapangan udara Gadut, Bukittinggi oleh Keegan, didampingi Dick Tamimi dan Ferdy Salim dari Songkhla, Thailand Selatan.

Pesawat ini diterbangkan setelah ada ‘clearance’ dari perwakilan AURI di Singapura.

Dengan demikian pesawat itu menjadi milik AU, dan nomor registrasi diganti menjadi RI-003. Pesawat ini tiba di Bukittinggi untuk diperlihatkan langsung ke warga Minangkabau dan pemimpin daerah ini.

Avro Anson kemudian diberi kode registrasi VH-BBY. Pesawat itu dibeli dengan harga 12 kg emas murni, kemudian diberi nomor registrasi RI-003. Keegan meminta pembayaran diserahkan di Songkhla, Thailand.

Setelah pesawat tiba di Bukittinggi, Iswahyudi mengadakan percobaan terbang dan berhasil dengan baik. Usai itu, 9 Desember 1947, pesawat Avro Anson diterbangkan dari Gadut menuju Songkhla dengan transit di Pekanbaru guna mengisi bahan bakar.

Dua penerbang AURI, Opsir Udara I Iswahyudi sebagai pilot dan Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma sebagai navigator, didatangkan langsung dari Yogyakarta untuk menerbangkan pesawat tersebut.

Penumpangnya Paul Keegan, Aboe Bakar Loebis, Is Yasin, dan Dick Tamimi.

Selain mengantarkan Keegan pulang, misi tim melakukan penjajakan pembelian senjata dan pesawat serta melihat perwakilan RI guna mengatur penukaran dan penjualan barang-barang berhasil dikirim dari dalam negeri dan kemudian memasukan barang Singapura ke daerah RI menembus blokade Belanda.

Mereka sampai di Songkhla sore hari. Nasib nahas menimpa rombongan Aboe Bakar Loebis. Mereka diusir polisi setempat karena dituduh sebagai penyelundup candu dan emas.

Setelah sampai mereka di Thailand, mereka diusir polisi setempat dengan alasan penyelundupan candu, emas dan perhiasan. Abu Bakar Lubis dan kawan-kawan akhirnya pindah ke Penang, Malaysia, Singapura, seterusnya ke Bukittinggi.

Sedangkan, Halim Perdanakusuma dan Iswahyudi mendapat tugas menerbangkan pesawat kembali ke Gadut, Bukittinggi.

Selain mengantarkan Keegan, mereka mendapat tugas pula untuk mengadakan kontak dengan pedagang-pedagang Singapura dalam rangka membeli senjata yang akan dibawa ke Tanah Air lewat Singapura.

PAUL H Keegan, warga negara Australia, pemilik pesawat terbang Avro Anson.

Pada 14 Desember 1947, sesudah menyelesaikan tugas di Bangkok, RI-003 kembali berangkat menuju Singapura. Dalam perjalanan kembali inilah tiba-tiba di daerah Perak-Malaysia pesawat tersebut terjebak dalam cuaca buruk.

Kabar buruk ini juga diterima Abu Bakar Lubis dan kawan-kawan yang pindah ke Singapura menggunakan jalur darat. Sekitar satu jam sesampainya di Singapura, Aboe Bakar Loebis, menerima telegram dari Polisi Malaka.

Isinya, satu unit pesawat Avro Anson telah jatuh di pantai Selat Malaka, dekat Tanjong Hantu, Negeri Perak, Malaysia. Laporan pertama tentang kecelakaan diterima oleh polisi Lumut dari dua orang warga China penebang kayu bernama Wong Fatt dan Wong Kwang, 14 Desember 1947, sekitar pukul 16.30

Dilansir dari tni-au.mil.id, seorang petugas kepolisian berbangsa Inggris bernama Burras segera pergi ke tempat musibah. Baru pada pukul 18.00 ia tiba dilokasi kejadian. Namun, dia tidak menemukan sesuatu, karena air sedang pasang naik.

Baru pada keesokan harinya Kepala Polisi Lumut bernama Che Wan dan seorang anggota Polisi Inggris bernama Samson berangkat ke tempat kecelakaan dan tiba di tempat pukul 09.00.

Kepadanya kemudian dilaporkan tentang ditemukan sesosok jenazah yang mengapung beberapa ratus yards dari lokasi reruntuhan pesawat, yang oleh para nelayan setempat dibawa ke darat.

Ditemukan juga barang-barang lain di antaranya sebuah dompet, buku harian pesawat, kartu-kartu nama, sarung pistol yang tidak ada pistolnya, sarung pisau dengan nama Keegan di atasnya, dan beberapa potong pakaian.

Dari bukti-bukti yang ditemukan itu diambil kesimpulan pesawat terbang yang mengalami kecelakaan itu adalah pesawat milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Disimpulkan kecelakaan terjadi bukan karena kerusakan mesin, tetapi karena cuaca sangat buruk. Berita mengenai kecelakaan pesawat segera tersebar luas, di antaranya dimuat dalam surat-surat kabar berbahasa Inggris seperti The Times dan Malay Tribune terbitan tanggal 16 Desember 1947.

Tokon-tokoh masyarakat Malaysia juga bersimpati terhadap perjuangan Indonesia menaruh perhatian besar terhadap peristiwa tersebut. Di Lumut, dibentuk panitia pemakaman untuk menguburkan Halim Perdanakusuma.

Namun, mayat Iswahyudi tidak pernah ditemukan hingga saat ini walaupun pencarian dilakukan secara intensif. Hanya jenazah Halim Perdanakusuma yang ditemukan, sedangkan Iswahyudi hilang. Halim dikuburkan di Malaysia, beberapa tahun kemudian dipindahkan ke TMP Kalibata di Jakarta.

Begitulah nasib pesawat Avro Anson. Belum sempat dimanfaatkan, telah jatuh. Tapi kapal terbang dibeli dengan sumbangan emas rakyat Sumatera Barat tersebut dicatat sejarah karena telah melahirkan dua pahlawan nasional, Iswahyudi dan Halim Perdanakusuma.

Pemerintah kemudian membangun tugu di Lapangan Udara Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, mengenang pengorbanan tersebut. Sedangkan, nama Iswahyudi diabadikan untuk lapangan terbang AURI di Malang, sedangkan Halim Perdanakusuma dipakai untuk nama pangkalan utama AURI di Jakarta. (*)