Sekda Aceh Minta UPTD-IBI Saree Tingkatkan Kinerja, Apa Kabar Kasus Sapi Kurus dan Banyak yang Mati?


ACHESATU.COM | BANDA ACEH
– Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah, meminta Unit Pelaksana Teknis Daerah Inseminasi Buatan dan Inkubator (UPTD-IBI) Saree meningkatkan kinerja untuk memastikan pelaksanaan tanggung jawab dapat berjalan dengan baik.

Demikian disampaikan Taqwallah melalui keterangan tertulis yang disebar Biro Humas Pemerintah Aceh, Sabtu (13/6/2020).

Disebutkan, Sekda Aceh saat meninjau UPTD-IBI Saree di Desa Sukadamai, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar Saree, Sabtu, meminta unit kerja di bawah Dinas Peternakan Aceh itu meningkatkan kinerja guna memastikan berbagai pekerjaan yang menjadi tanggung jawab UPTD tersebut terlaksana dengan baik.

BACA JUGA: Anggaran Rp158 Miliar tapi Sapi Kurus Diurus Disnak Aceh, KMPAN Sebut Aneh dan Minta Pemerintah Aceh Hibahkan ke Warga

Namun, dalam keterangannya tidak disebutkan apakah Pemerintah Aceh telah melakukan evaluasi termasuk melakukan tindakan tegas terkait mencuatnya kasus sapi kurus, bahkan sebagiannya dilaporkan mati, yang terjadi di bawah pengelolaan UPTD tersebut.

“UPTD harus melakukan peningkatan kinerja, harus melakukan pembenahan dimana yang diperlukan,” ujar Taqwallah di hadapan para pegawai UPTD-IBI Saree di aula UPTD tersebut.

Menurut Taqwallah, kunjungan ke UPTD-IBI dilakukan untuk menindaklanjuti instruksi Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, terkait keberadaan sejumlah sapi dengan kondisi fisik terlihat kurus di UPTD tersebut.

Taqwallah juga meminta pihak dinas dan UPTD melakukan koordinasi yang tepat guna memastikan sapi-sapi di UPTD-IBI terkontrol dengan baik.

“Harus ada pengendalian. Lakukan rapat rutin dan kalau ada kematian sapi lakukan rekam jejaknya agar diketahui penyebabnya,” kata Taqwallah.

BACA JUGA: Sapi Kurus, Korban Gagal Urus Kabinet Nova

Sebelumnya dijelaskan, UPTD-IBI Saree mempunyai tugas melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional maupun penunjang di bidang perbaikan mutu genetik ternak, pengembangan teknologi inseminasi buatan, melaksanakan produksi semen beku (frozen cemen) dan semen cair dari benih unggul.

Selain itu, UPTD juga bertugas melakukan perawatan ternak pejantan (bull), pelatihan inseminator, Pemeriksaan Kebuntingan (PKb), Asisten Teknis Reproduksi (ATR) dan recording serta pembinaan dan pelayanan peternak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut, Pemerintah Aceh, melalui Dinas Peternakan Aceh, diketahui saban tahun menganggarkan dana miliaran rupiah yang diplot di Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA).

Tapi pada kenyataannya, ratusan sapi yang merupakan aset dan kekayaan pemerintah Aceh itu ditemukan dalam kondisi kurus, kekurangan pakan dan jauh dari kesan terawat.

Bahkan, sapi yang seharusnya memperoleh perlakuan istimewa karena adanya dukungan dana besar dari anggaran rakyat Aceh, justru dilaporkan banyak yang mati.

Untuk tahun 2020, disebutkan dalam dokumen APBA tertulis plot anggaran untuk biaya belanja bahan pakan ternak mencapai Rp65 miliar.

Hal yang paling aneh, kinerja buruk dan memalukan itu tidak lantas menyurutkan Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Aceh untuk kembali melakukan pengadaan ternak dengan jumlah uang yang jor-joran, yakni pengadaan ternak sebesar Rp 6,1 miliar dan Rp88 miliar untuk pengadaan bibit ternak.

BACA JUGA: LIPUTAN KHUSUS: Menyibak Sosok Superman di Balik Agenda Refocusing yang Macet

Meski sekalipun pengadaan pakan tahun 2020 ini tersendat akibat sinyalemen belum tuntasnya agenda refocusing APBA 2020 oleh Tim Anggaran Pemerintah Aceh yang dipimpin Taqwallah.

Sementara dalam kunjungannya tersebut, Taqwallah turut meninjau sejumlah kandang, seperti kandang indukan, kandang penggemukan, kandang karantina hingga tempat pengolahan pakan sapi.

Kunjungan Taqwallah didampingi Kepala Dinas Peternakan Aceh, Rahmandi, Kepala UPTD IBI Saree, Teuku Zulfadhli, Kepala Biro Umum Setda Aceh, Akmil, Kepala Biro Perekonomian, Amirullah, serta sejumlah tamu lainnya. (*)