Sejarah Hari Ini: Mangkatnya Wali Negara Aceh yang Terakhir

Hasan Tiro kembali muncul di Aceh pada tahun 1974.

Ia pulang ke Aceh dengan  menggelorakan semangat perlawanan. Hasan Tiro mengajukan tawaran untuk kontrak pipa di pabrik gas baru Mobil Oil yang akan dibangun di daerah Lhokseumawe.

Tapi ia dikalahkan oleh Bechtel melalui campur tangan Pemerintah Pusat di Jakarta.

Selanjutnya ia mendeklarasikan organisasinya sebagai Front Pembebasan Nasional Aceh Sumatra, lebih dikenal sebagai Gerakan Aceh Merdeka pada tanggal 4 Desember 1976.

Di antara tujuannya adalah kemerdekaan penuh Aceh dari Indonesia.

Di Tiro memilih kemerdekaan sebagai salah satu tujuan GAM, bukan otonomi khusus daerah, karena fokus pada sejarah Aceh sebelum masa kolonial Belanda sebagai sebuah negara merdeka.

GAM berbeda dari pemberontakan Darul Islam yang berusaha untuk menggulingkan ideologi Pancasila yang sekuler dan menciptakan negara Islam Indonesia berdasarkan syariah.

Dalam “Deklarasi Kemerdekaan”, ia mempertanyakan hak Indonesia untuk berdiri sebagai negara, karena pada asalnya itu adalah negara multi-budaya berdasarkan kekaisaran kolonial Belanda dan terdiri dari negara-negara sebelumnya yang terdiri atas banyak sekali etnis dengan sedikit kesamaan.

Dengan demikian, Tiro percaya bahwa rakyat Aceh harus memulihkan keadaan pra-kolonial Aceh sebagai negara merdeka dan harus terpisah dari negara Indonesia.

Pada tahun 1977, setelah memimpin serangan GAM di mana salah satu insinyur Amerika Serikat tewas dan satu insinyur Amerika lain dan satu insinyur Korea Selatan terluka, Hasan diburu oleh militer Indonesia.

Ia ditembak di kaki dalam sebuah penyergapan militer, dan melarikan diri ke Malaysia.

Dari tahun 1980, di Tiro tinggal di Stockholm, Swedia dan memiliki kewarganegaraan Swedia.

Pemerintah Indonesia sudah tiga kali menyatakan Hasan Tiro sudah meninggal.

Selama periode ini Zaini Abdullah, yang menjadi gubernur Aceh pada Juni 2012, adalah salah satu rekan Aceh terdekatnya di Swedia.

Perdamaian Aceh dan Surat Kerwarganegaraan