Sebuah Renungan: Covid-19 dan Kemiskinan

Oleh: Dr. Zainuddin, SE, M. Si.*

ACEHSATU.COM – Bismillahirahmanirrahim, kita mulai tulisan ini dengan sebuah qalam Allah (terjemahan) yang berbunyi “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan)yang kami trurunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanam yang sudah disabit, seakan-seakan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang-orang yang berfikir (Yunus 10:24).”

Berdasarkan Firman Allah SWT diatas (maaf jika saya salah inteprestasi) selaras dengan apa-apa yang terjadi pada saat ini dimana Allah SWT menurunkan sedikit cobaan wabah (covid-19) kepada ummat manusia agar mereka mau berfikir.

Mungkin wabah yang diturunkan oleh yang Maha Kuasa dikarenakan manusia sudah terlalu angkuh dengan penguasaannya, baik itu teknologi, harta dan kesenangan hingga membuat mereka jauh dari tuntunan Allah SWT. Atau memang diturunkan wabah ini benar-benar sebuah ujian keimanan sebagai salah satu bentuk ujian apakah manusia yang beriman tetap dalam keadaan sabar dan tetap dalam iman kepada Alla SWT, dan atau mereka menjauh dan bahkan melupakan tuntuanan Allah SWT.

Dalam konteks sosial ekonomi masyarakat bahwa dengan adanya ujian azab wabah ini terciptanya ketakutan, kegaduhan, kerisauan dan bahkan terjadi pelambatan ekonomi secara drastis yang amat sangat pada diri manusia.

Kita dapat melihat betapa terjadinya kemolorosotan ekonomi masyarakat hingga Negara haranya karena satu saja ujian Allah SWT turunkan kepermukaan bumi, yang tadinya ummat merasa hidup bahagia serba mencukupi dengan tingkat kesenangan duniawi pada tingkat tinggi tiba-tiba harus hidup dalam ketakutan dan kekurangan.

Dalam konteks Negara atau daerah dengan pandemic ini harus mengkaji ulang semua program-program yang telah disusun untuk mendukung penanganan pencegahan wabah yang satu ini, dan ini menandakan bahwa bala atau azab Allah SWT itu bukanlah perkara sepele mudah dihadapi, dimana harus dihimpun seluruh energi bangsa dan negera untuk menghadapinya itupun belum tentu berhasil jika Allah SWT yang Maha Kuasa tidak mencabutnya.

Secara tersirat keangkuhan dalam ekonomi yang menyebabkan turunnya teguran Allah SWT, menurut saya adanya sikap pembiaran dari para elit dan orang kaya terhadap kemiskinan yang merajalela. Bagaimana pembiaran kemiskinan secara merajalela, yaitu adanya ketimpangan yang sangat jauh antara si miskin dengan si kaya dan pola distribusi pendapatan tidak merata, maknanya praktik kolusi, korupsi dan nepotisme sudah menjadi lumrah terjadi.

Pada praktik kolusi, korupsi dan nepotisme terjadi penguasaan sumber daya ekonomi cendrung yang dekat penguasa dan para pelaku pemerintahan berserta keluarganya saja. Jadi, sekali lagi saya berpandangan bahwa membiarkan kemiskinan merupakan salah satu sebab turunnya azab dan manusia sudah terlalu jauh dengan ketentuan Allah SWT.

Membiarkan kemiskinan (seluruh ummat manusia) secara terus-menerus merupakan suatu bentuk pengkhianatan sangat keji terhadap nilai-nilai kemanusiaan, jadi upaya penanggulangan kemiskinan juga dapat dinyatakan pekerjaan paling mulia yang bernilai mulia disisi Allah SWT.

Oleh sebab itu, salah satu sifat terpuji adalah segera tunaikan hak-hak orang lain jangan sampai menunda-nundanya karena menunda menunaikan hak orang lain termasuk juga umpaya membiarkan kemiskinan itu terjadi.

Sebenarnya Allah SWT telah melatih diri kita (mukminin) setiap tahunnya satu bulan agar terbentuk pribadi-pribadi yang memiliki sensitivitas diatara sesame, yaitu bulan Ramadhan dimana dibulan ini diperintahkan untuk berpuasa agar kita dapat merasakan apa yang dirasakan oleh si miskin dan akhirnya terbentuk sikap kita hidup dengan adil dan saling berkasih sayang, bukan hidup untuk mengumpulkan harta dan kesenangan untuk pribadi dan kelompoknya saja melainkan harus semua ummat dalam satu Negara atau daerah harus memiliki kesenangan yang relative sama.

Pada hakekatnya manusia tidak perlulah menumpuk-numpuk harat secara berlebihan, apalagi bagi seorang mukminin karena sebenarnya tujuan sesungguhnya adalah kehidupan diakhirat seperti yang tersirat dalam sebuah Firman Allah SWT:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya jika mereka mengetahuinya (Al-‘Ankabut 29:64)”.

Karena itu, hendaknya Negara Indonesia secara umum dan khususnya Pemerintah Aceh bersungguh-sungguhlah dalam memerangi kolusi, korupsi dan nepotisme agar penanggulangan kemiskinan dibumi serambi mekkah biasa berjalan cepat dan tepat dan insya Allah rakyat seluruhnya bahagia dan sejahtera.

Pada akhirnya kita berharap segera Allah SWT mencabut wabah covid-19 ini agar ummat bisa kembali hidup normal dan beraktivitas seperti biasa agar roda perekonomian berputar kembali. Buatkan mereka yang miskin tersenyum dan anak-anak fakir miskin bahagia dihari raya idul fitri merupakan satu kunci Allah SWT segera mencabut wabah covid-19 dari Indonesia khususunya dan dunia pada umumnya.

Maaf jika ada salah karena saya bukanlah seorang alim melainkan budak biasa. Wasalamualaiku warahmatullahi wabarakatuh. (*)

Penulis: Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekah (USM) Aceh