Opini

Saya, Irwandi dan Aceh

Dalam politik memang tidak ada musuh abadi, tapi yakinlah pesan Alm. Wali “Meurakan ngôn Musöh handjeut, keuneulhéh rugöe”.

Foto : Istimewa

Penulis: Haekal Afifa

Saya tak kenal dekat Irwandi (BW). Hanya beberapa kali bertemu baik saat konflik Aceh maupun pasca damai. Saat konflik, BW memakai beberapa nama sandi; Tgk. Agam, Tgk. Isnandar Al Pase, dan Jean Michael Hara (J.M.Hara). Sebagai Jubir GAM Pase saat itu, Isnandar lebih terkenal daripada dua nama lainnya.

J.M. Hara adalah nama pena yang ia gunakan untuk menulis beberapa booklet dan buku GAM. Salah satu bukunya masih saya simpan.

Beberapa dokumen media saat ia muncul ke publik dan ditangkap saat konflik juga masih saya rawat dengan baik.

Terakhir bertemu dengan BW, saat proses Pilkada 2017 lalu. Ditemani seorang kawan, saya wawancara dan ngobrol banyak dengannya di Lamprit.

Karena memang saya suka dengan pemikiran beberapa tokoh GAM yang terlibat dalam politik Aceh pasca damai, termasuk BW.

Banyak jalan hidup yang ia kisahkan. Beberapa cerita dia minta “off the record” ke publik. Kala itu, saya menarik menulis tentangnya; Komunikasi popaganda yang ia miliki, manajemen konflik yang ia kuasai, dan kisahnya saat menempuh pendidikan di Amerika.

Bagi saya, dia salah satu aset intelektual yang dimiliki GAM. Saya salut dengan intelektualnya, koneksi internasional dan gaya komunikasinya.

Ketika Pilkada 2017 (khususnya Pilgub), saya tidak mendukung siapapun. Walaupun kecenderungan saya hanya pada Partai Lokal.

Saya lebih suka menulis beberapa sosok GAM yang terlibat di dalamnya (Muzakir Manaf, Irwandi Yusuf, Sofyan Dawood, Zakaria Saman).

Saat itu, semua tokoh GAM tersebut sudah saya tulis pemikirannya. Kecuali Irwandi. Beberapa hari kala artikel saya tentang Irwandi hendak tayang, tiba-tiba dalam debat publik Pilkada 2017 Irwandi menyerang pribadi Zakaria Saman.

Sejak itu, saya kehilangan respek padanya, artikel tentangnya saya batalkan dan saya mulai melawan sikap Ad Hominemnya.

Saya tidak suka pribadi Ad Hominem. Apalagi dipraktekkan oleh tokoh politik sekelas BW. Bahkan, saya harus kehilangan beberapa teman hanya karena mereka terlalu membela prilaku Ad Hominem ini.

Bagi saya, mereka terlalu munafik dalam berpolitik. Semacam kehilangan nalar dalam memisahkan antara kebenaran dan kesalahan.

Mulai saat itu, sebagai pribadi, saya menyatakan melawan sifat Ad Hominem yang ada pada BW. Walaupun di sisi lain sampai saat ini saya mencintai partai lokal sebagai organ politik dalam melawan bergaining nasional.

Aceh harus kuat secara politik, tapi bangsa Aceh juga harus kuat dalam memperbaiki karakter politisinya.

Pasca BW terpilih sebagai gubernur, saya mulai mengamati. Ternyata, Ad Hominem ini semakin menjadi-jadi.

Saya melihatnya semacam syndrome yang sulit dihilangkan. BW mulai menyerang pribadi Abdullah Saleh (Politisi PA), di kolom komentar media sosialnya, ia mulai ‘menggila’ dengan kata-katanya yang menyerang pribadi beberapa netizen yang berseberangan dengannya.

Bagi saya, ini tidak layak dilakoni oleh seorang gubernur.

Lama kelamaan, saya melihat kesan BW semakin sombong dengan kekuasaan yang dimilikinya. Beberapa oknum pendukungnya juga semakin ‘ganas’ di media sosial menyerang lawan politiknya.

Pun sebaliknya.

Sebulan yang lalu, melalui kawan-kawan dan elit Aceh di Jakarta saya tahu BW sudah masuk target untuk ditangkap KPK.

Di sini, skenario Jakarta terlihat mulai bermain lebih tegas untuk ‘menghabisi’ kekuatan politik lokal Aceh. Bahkan, drama ‘decomissioning’ politik ini sudah dimainkan sejak BW berpasangan dengan Nazar.

Maka saran saya, bersiaplah untuk partai lokal Aceh. Jangan larut dalam euforia politik sesaat yang menyesatkan. Galang kekuatan kolektif, bangun bergaining power yang kokoh antar sesama.

Dalam politik memang tidak ada musuh abadi, tapi yakinlah pesan Alm. Wali “Meurakan ngôn musöh handjeut, keuneulhéh rugöe”.

Secara pribadi, saya prihatin dan sedih atas kasus yang menimpa BW. Sebagai rakyat, saya malu dan kecewa jika memiliki gubernur koruptif. Sehingga marwah Aceh di tingkat nasional menjadi taruhan yang harus dibayar mahal.

Semoga ini menjadi pelajaran buat semuanya. Baik politisi, simpatisan, maupun pendukung, khususnya partai lokal Aceh. Saat ini, kita sedang berada dalam skenario yang rumit. Kita memang ”gagal” merdeka, tapi jangan pernah gagal untuk bersatu!

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top