Santri di Lamno Gunakan Air Asin Selama Empat Tahun

Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Jaya manyambangi Dayah Budi Mesja Lamno di Desa Janguet, Kecamatan Indra Jaya, kabupaten setempat, dan mendapati dayah tersebut masih bermasalah dengan sanitasi.
Santri di Lamno
Anggota DPRK Aceh Jaya dan SKPK terkait saat meninjua salah satu sumber air di Dayah Budi Mesja Lamno di Desa Janguet, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Rabu (17/3/2021). (Antara Aceh/Arif Hidayat)

ACEHSATU.COM | ACEH JAYA – Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Jaya manyambangi Dayah Budi Mesja Lamno di Desa Janguet, Kecamatan Indra Jaya, kabupaten setempat, dan mendapati dayah tersebut masih bermasalah dengan sanitasi.

Ketua DPRK Aceh Jaya Muslem D, Rabu, mengatakan pihaknya mengunjungi pesantren tipe A itu guna meninjau sanitasi, baik dari ketersediaan air bersih, kesehatan, serta beberapa fasilitas dayah yang urgen untuk dibangun.

Santri di Lamno
Anggota DPRK Aceh Jaya dan SKPK terkait saat meninjua salah satu sumber air di Dayah Budi Mesja Lamno di Desa Janguet, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Rabu (17/3/2021). (Antara Aceh/Arif Hidayat)

“Tujuan kita untuk meninjau langsung apa saja yang dibutuhkan, urgen, sehingga bisa masuk usulan yang dibutuhkan pada Musrenbang kabupaten, seperti Dayah Budi ini juga tampak sanitasinya belum begitu baik serta MCK yang juga sudah tidak layak pakai,” kata Muslem di Aceh Jaya.

Saat kunjungan kerja ke Dayah Budi Mesja, ketua DPRK turut memboyong Komisi C dan B, sekaligus satuan kerja perangkat kabupaten (SKPK) terkait dan Camat Indra Jaya.

Sementara itu, Wakil Pimpinan Dayah Budi Mesja Lamno Tgk Afifuddin mengatakan dayah itu memang masih bermasalah dengan sanitasi. Bahkan, katanya, santri dan guru masih menggunakan air asin untuk kebutuhan sehari-hari, sejak empat tahun lalu.

“Untuk saat ini semuanya kami menggunakan air asin, baik itu mencuci, mandi, bahkan masak juga menggunakan air asin karena sumber air lain di tempat kita tidak ada, terpaksa memompa air sungai ke dayah,” katanya.

Ia menambahkan karena kerap menggunakan air asin untuk kebutuhan sehari-hari, maka dampak yang dirasakan santri berupa gatal-gatal dan bahkan juga diare.

“Kita berharap dibantu oleh pemerintah,” Tgk Afifuddin. “Untuk santri kita ada 1.700 orang, yaitu 1.000 orang santri putra dan 700 santri putri,” katanya lagi. (*)