Sang “Perdana Menteri” yang Ingin Satukan Aceh

Yusra menyusun kalimat per kalimat dengan struktur yang tersusun rapi saat menjelaskan kronologi peralihan sistem kekuasaan Pemerintah Negara Acheh Darussalam.
Perdana Menteri Negara Acheh Darussalam
Yusra Habib Abdul Ghani. Dokumen Yusra Habib.

Deklarasi yang digaungkan Perdana Menteri Yusra Habib Abdul Ghani menuai banyak kontroversi.

Salah satunya adalah tidak adanya dukungan dari Presidium Acheh Sumatera National Liberation Front (ASNLF).

Para aktivis Presidium ASNLF mengaku tidak tau menau dengan pengukuhan struktur Pemerintah Negara Acheh Darussalam.

Kelompok lain yang muncul adalah Tentara Aceh Merdeka. Kelompok ini beberapa kali terlibat bentrok dengan polisi di Aceh.

Deklarasi kelompok Tentara Aceh Merdeka (TAM). Dok. Youtube

Pengumuman pemerintahan baru Yusra juga disinyalir tidak melibatkan dua kelompok ini.

“Saya sebagai Perdana Menteri yang baru mengajak semua kelompok-kelompok ini untuk bersatu di bawah satu bendera Pemerintah Negara Acheh Darussalam,” tutur Yusra bersemangat.

Yusra mengajak semua kelompok pergerakan baik di luar maupun di dalam negeri bersatu di bawah pemerintahannya.

“Mari kita satukan perjuangan kita dalam wadah yang terhormat, damai dan bermartabat,” tegas PM ini.

Manifesto Politik (Hal 4)