Sang “Perdana Menteri” yang Ingin Satukan Aceh

Yusra menyusun kalimat per kalimat dengan struktur yang tersusun rapi saat menjelaskan kronologi peralihan sistem kekuasaan Pemerintah Negara Acheh Darussalam.
Perdana Menteri Negara Acheh Darussalam
Yusra Habib Abdul Ghani. Dokumen Yusra Habib.

Dari ujung  telepon, suara pelan Yusra Habib terdengar begitu hati-hati.

Yusra menyusun kalimat per kalimat dengan struktur yang tersusun rapi saat menjelaskan kronologi peralihan sistem kekuasaan Pemerintah Negara Acheh Darussalam.

Baginya, jalan damai dan diplomasi adalah langkah Pemerintahnya ke depan.

“Saya akan memperjuangkan kemerdekaan dengan jalan-jalan damai dan diplomasi,” katanya kepada Jurnalis ACEHSATU.com.

Yusra Habib
Yusra Habib kini menetap di Denmark. Foto Dok. Yusra Habib

Saat ini, kata Yusra, Perdana Menteri baru akan menyurati 23 kepala negara di dunia. Isinya adalah mengumumkan status Pemerintah Negara Aceh Darussalam di pengasingan.

23 negara sahabat menurut Yusra, adalah negara-negara yang menjadi sahabat Aceh sebelum Belanda menyerang Aceh pada 26 Maret 1873.

“Ada 23 negara yang kita surati, termasuk 10 negara bekas pecahan Uni Soviet dan Yugoslavia.,” papar Yusra.

Ajak Semua Kelompok Bersatu (Hal 3)