Rycko Amelza Hingga Boy Rafly Masuk Bursa Calon Kapolri Versi IPW, Apa Komentar Senayan?

Rycko Amelza Hingga Boy Rafly Masuk Bursa Calon Kapolri Versi IPW, Apa Komentar Senayan?

ACEHSATU.COM | JAKARTA – Indonesian Police Watch (IPW) merilis hasil pemetaan terkait bursa calon Kapolri menggantikan Jendral Idham Aziz yang akan pensiun pada 2021 mendatang.

Ketua Presidium IPW Neta F Pase mengungkap terdapat lima nama jenderal polisi bintang tiga yang berpeluang besar ditunjuk menjadi Kapolri yang baru.

Mereka adalah Komjen Rycko Amelza, Komjen Listyo Sigit, Komjen Agus Andrianto, Komjen Boy Rafly Amar, dan Komjen Gatot Eddy Pramono (Wakapolri).

Melansir detikcom, Indonesia Police Watch (IPW) mulai mengembuskan peta bursa calon Kapolri pengganti Idham Azis pengganti Idham Azis. Ketua Komisi III DPR RI, Herman Herry mengatakan siapa pun nantinya yang diusulkan pengganti Jenderal Idham, sosoknya harus berintegritas dan profesional.

“Terkait proses tersebut kami di Komisi III menyerahkan sepenuhnya proses penggodokan calon pengganti ini kepada Dewan Kebijakan Tinggi Polri untuk memilih nama yang akan diserahkan kepada Kapolri dan presiden. Sebagai Ketua Komisi III saya berpendapat, siapa pun yang diusulkan sebagai calon Kapolri adalah sosok yang harus memiliki integritas moral yang baik, menunjukkan dedikasi luar biasa, serta profesionalisme tinggi,” kata Herman kepada wartawan, Jumat (12/6/2020).

Herman menyerahkan sepenuhnya penunjukan Kapolri pengganti Idham kepada Presiden Jokowi. Namun, dia mengingatkan peran DPR yang memiliki kewenangan menolak atau menyetujui Kapolri usulan Jokowi.

“Pada prinsipnya, Komisi III menyerahkan sepenuhnya kepada Presiden untuk memilih calon Kapolri baru. Yang jelas, berdasarkan Pasal 11 UU Kepolisian, DPR juga memiliki kewenangan dalam memberikan persetujuan atau penolakan terhadap calon yang diserahkan Presiden,” ujar Herman.

Komisi III yang merupakan mitra Polri memiliki kewenangan uji fit and proper test calon Kapolri. Uji kepatutan itu dilakukan secara terbuka dan obyektif.

“Kewenangan kami sebagai wakil rakyat dilaksanakan melalui proses fit and proper test secara obyektif terhadap calon tersebut tanpa unsur favoritisme atau subyektivitas apapun. Proses uji kepatutan dan kepantasan ini juga dilakukan secara terbuka di mana seluruh rakyat Indonesia bisa turut mengawasinya,” imbuh Herman.

Sebelumnya, dalam bursa calon Kapolri pengganti Idham Azis ini, Ketua Presidium IPW Neta S Pane melihat ada tiga kelompok yang menonjol. Yakni Kelompok Solo terdiri dari jenderal-jenderal yang pernah bertugas di Solo, Kelompok Idham, yakni jenderal-jenderal yang dekat dengan Kapolri Idham Azis, dan yang ketiga adalah kelompok yang diklaim Neta sebagai kelompok netral. Tentu saja, pengelompokan ini hanya berdasarkan sepihak dari analisis Neta dan IPW.

“Meskipun masa jabatan Kapolri Idham Azis masih enam bulan lagi, bursa calon Kapolri di internal kepolisian mulai marak dipergunjingkan. Sedikitnya ada delapan nama yang disebut-sebut masuk sebagai calon kuat dalam bursa calon Kapolri,” ujar Neta dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6).

Neta mengatakan delapan nama jenderal yang masuk bursa itu terdiri dari lima jenderal bintang tiga (Komjen) dan tiga bintang dua (Irjen). Kedelapan nama ini mulai dari lulusan Akademi Kepolisian tahun 1988 A hingga lulusan tahun 1991.

Mereka adalah Komjen Rycko Amelza (Kabaintelkam), Komjen Agus Andrianto (Kabaharkam), Komjen Boy Rafly Amar (Kepala BNPT), Komjen Listyo Sigit (Kabareskrim), dan Komjen Gatot Eddy Pramono (Wakapolri).

Sedangkan untuk bintang dua ada Irjen Nana Sudjana (Kapolda Metro Jaya), Irjen Ahmad Lufti (Kapolda Jateng), dan Irjen Fadil Imran (Kapolda Jatim). Menurut Neta, ketiga jenderal bintang dua ini bisa masuk bursa calon Kapolri karena menjelang Idham Azis pensiun ada dua posisi jenderal bintang tiga yang bakal pensiun, yakni Kepala BNN dan Sestama Lemhannas. (*)