oleh

Rumah Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Diteror, Apa Motifnya?

-Nasional-200 views

ACEHSATU.COM | JAKARTA – Kediaman Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Maarif di Cimanggis, Depok, diteror. Rumahnya dilempari batu oleh orang tidak dikenal.

Dirangkum detikcom, peristiwa itu terjadi pada pukul 03.00 WIB. Slamet Maarif menyampaikan, pelemparan itu terjadi dua kali.

“Saya hari ini melaporkan atas kejadian teror yang menimpa saya dan keluarga saya di mana tadi pagi jam 03.00 WIB lebih ada 2 orang yang mengendarai sepeda motor yang melempar batu ke arah jendela kaca rumah saya dan kaca jendela hancur dua-duanya,” jelas Slamet Maarif kepada wartawan di Polresta Depok, Jl Marognda Raya, Depok, Selasa (18/2/2020).

Aksi pelemparan batu yang kedua terjadi ketika Slamet sedang melaksanakan salat subuh berjamaah di masjid dekat rumah. Adapun, lemparan batu itu mengenai kaca jendela ruangan yang dijadikan sebagai musala.

“Kemudian sejam kemudian kira-kira jam 05.20 WIB ketika saya sedang salat subuh di masjid teror yang kedua juga terjadi. Mereka melempar pintu dan tembok rumah saya dengan batu bata yang berwarna merah. Jadi ini teror yang mengakibatkan kerusakan, ini pasalnya pasal kerusakan,” tuturnya.

Saat kejadian itu, hanya ada istri dan 2 anaknya di dalam rumah. Slamet menyebut, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.

“Alhamdulillah nggak ada yang luka, alhamdulillah dulu itu kan kamar saya setelah direnovasi jadi musala. Andaikan itu kamar pasti ada korban, tapi karena itu musala dan belum waktu subuh mau persiapan tahajud kan, kosong ruangan itu,” paparnya.

Meski tak ada korban luka maupun korban jiwa, namun Slamet menyebut istri dan anak-anaknya kaget akan kejadian ini. Slamet meminta istri dan anaknya untuk tetap tegar dan tawakal.

“Terutama anak-anak yang kecil yang masih SMP kaget sempat syok, kemudian saya katakan kepada istri dan anak-anak saya ini resiko sebuah perjuangan tetap tegar, tawakal kepada Allah serahkan kepada Allah SWT setelah kita ikhtiar,” paparnya.

Soal pelaku, Slamet Maarif menyebut tetangganya sempat melihat kecurigaan terhadap dua orang yang berboncengan motor. Tetangga sempat mengintip dari gorden dan melihat 2 orang mengenakan jaket melintas di depan rumahnya tidak lama setelah terdengar suara pecahan kaca.

“Suara motor aja kata tetangga, suara motor terus suara kaca pecah, nggak berapa lama kemudian motor itu langsung tancap gas kencang. Tetangga lihat dari gorden kamar, dia lihat (pelaku) menggunakan jaket dua orang menggunakan motor matic putih.

Hanya saja, tetangganya tidak sempat mencatat pelat nomor pelaku. CCTV di sekitar lokasi juga tidak ada.

“Nomor pelat motor, wajah, dia nggak liat. CCTV pun kebetulan di rumah nggak ada,” katanya.

Slamet pun melaporkan kejadian ini ke Polresta Depok siang tadi. Dia berharap polisi mengungkap aktor di balik teror tersebut.

“Kalau untuk pelakunya siapa, saya serahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk menyelidiki, mengungkap siapa motif dan aktor intelektual,” kata Slamet kepada wartawan di Polresta Depok, Jl Margonda Raya, Depok, Selasa (18/2/2020).

Meski tidak mengetahui siapa pelakunya, Slamet menduga aksi teror ini berkaitan dengan rencana aksi 212 pada Jumat, 21 Februari 2020.

“Tetapi dugaan sementara yang ada di kita itu, ini berkaitan dengan apa yang akan kita lakukan di tanggal 21 Februari, karena kita ada aksi besar aksi berantas korupsi selamatkan RI tanggal 21 Februari, jadi indikasi yang kami duga ini terkait dengan aksi kami besok,” tutur Slamet.

Meski mendapat teror, Slamet menegaskan pihaknya tetap akan menggelar aksi tersebut. Slamet mengklaim telah memberitahukan rencana ‘Aksi 212 Berantas Mega Korupsi Selamatkan NKRI’ ke Polda Metro Jaya.

“Kami tidak akan mundur dengan hal-hal seperti ini dan ini sudah sering terjadi di aktivis-aktivis sehingga tetap aksi hari Jumat, apalagi surat pemberitahuan ke Polda sudah kita sampaikan, tanda terima pun sudah kita terima. Artinya, apa yang kami lakukan hari Jumat itu konstitusional, sehingga kami akan tetap lanjut tidak akan mundur, akan tetap ada aksi lawan korupsi,” tuturnya.

Terkait aksi teror ini, Slamet juga mengungkit soal kasus teror terhadap rekan-rekannya sebelumnya. Beberapa kasus teror terhadap Neno Warisman hingga pelemparan molotov di Pos FPI, Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Februari 2017.

“Saya sudah melakukan upaya hukum melaporkan kejadian dan kita berharap pihak kepolisian bisa mengungkap ini semua karena aksi teror-teror yang lalu sampai sekarang kan nggak ada kejelasan ya, termasuk yang menimpa Bu Neno Warisman, kemudian bom molotov di Cimanggis, di Pasar Rebo, di Jakarta Barat,” kata Slamet.

Slamet juga menyoroti kasus serupa di Kampung Melayu, Jakarta Timur.

“Kemudian bom yang di Kampung Melayu kan sampai saat ini nggak ada. Mudah-mudahan untuk kali ini dengan Kapolri yang baru bisa mengungkap siapa dan motifnya apa, kalau ada aktor intelektualnya bisa diungkap juga. Karena kami menduga ini sangat teror betul-betul mengarah kepada teror,” tandasnya.

Kasus ini masih diselidiki oleh polisi. Polisi juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di lokasi dan meminta keterangan sejumlah saksi.

“Masih diselidiki,” ujar Kapolsek Cimanggis Kompol Effendi saat dihubungi detikcom, Selasa (18/2/2020). (*)

Komentar

Indeks Berita