Rontoknya Ekonomi Diikuti Runtuhnya Negara Akibat Covid-19

Rontoknya Ekonomi Diikuti Runtuhnya Negara Akibat Covid-19

Oleh : Dr. Zainuddin, SE., M. Si.

ACEHSATU.COM – Terbukti ilmu Allah sebagai Sang Pencita alam jagat raya ini tak tak dapat dibanding dengan seluruh ilmu yang dimiliki manusia yang ada di muka bumi, walaupun dikumpulkan seluruh manusia ada hingga hari kiamat untuk menandingi luasnya ilmu Allah.

Ibarat pepatah bahwa ilmu manusia sebagai hamba tak setetes air laut dibanding dengan ilmu Sang Khalik. Jadi apa yang disombongkan? Baru satu makhluk Allah yang diberi nama virus Corona diadakan di bumi dapat meluluh lantakkan seluruh sendi-sendi ekonomi hingga dapat membinasakan umat manusia.

Meski demikian banyak juga kecongkakan sebelum wabah datang dari negara-negara maju yang mengklaim ekonomi negaranya sudah bintang tujuh alias seakan-akan mereka sudah menikmati kehidupan surgawi, begitu angkuh dan congkak karena kemampuannya.

Amerika Serikat yang merupakan pusat perekonomian dunia harus bertekuk lutut oleh yang namanya covid-19 lebih, dari 26 juta orang kehilangan pekerjaan (hingga April 2020) akibat banyak unit bisnis yang harus tutup sementara bahkan tutup selamanya.

Negara Jepang yang merupakan negara industri maju di Asia tak kuasa menahan ganasnya makhluk halus berupa visrus ini yang mengakibatkan usaha manufaktur mereka merosot tajam hingga meningkatkan tingkat pengangguran mencapai 2,9 persen hingga bulan Mei 2020.

Negara maju lainnya di kawasan ASEAN yang akan mengalami kebangkrutan ekonomi yaitu Singapura yang diprediksikan bakal banyak unit bisnis jasanya akan punah dan diambang keruntuhan.

Berdasarkan beberapa contoh kepunahan ekonomi di negara yang memproklamirkan dirinya sebagai negara maju dan kehidupan rakyat yang menyamai bintang tujuh ternyata tak kuasa dengan kehadiran virus yang Allah ciptakan.

Lagi-lagi kebenaran tak terbantahkan bahwa manusia hanya amat sedikit diberi kemampuan tapi ternyata menepuk dada dengan bangga menyatakan kami sudah maju dan menjadi terkuat dalam bidang ekonomi.

Akan tetapi amat lemah nyatanya tak perlu bertahun-tahun virus covid-19 bekerja semua keangkuhan berubah dengan kepiluan dan kecemasan.

Bila keadaan wabah virus covid-19 berlangsung lama bukan tidak mungkin banyak negara akan hancur lebur mengikuti hancur lebur ekonominya.

Hingga bakal tidak ada lagi negara yang dominan di dunia ini baik kekuatan ekonomi maupun kekuatan lain seperti kekuatan militer sekalipun.

Banyak alasan yang bisa kita asumsikan kenapa negara besar akan leburmenjadi negara-negara kecil karena penduduk negara bersangkutan akan menghimpun diri  pada unit terkecil berupa suku-suku atau ras meraka agar mudah dalam koordinasi dan pendeknya garis perintah dalam menghadapi wabah dan mempertahankan hidup mereka sendiri.

Namun, bila kita melihat model kesatuan umat yang lebih konkrit akan terbentuk negara-negara yang berlandaskan agama jauh lebih mungkin terjadi.

Karena kesatuan model agama jauh lebih dapat diterima umat manusia, apalagi bila dihubungkan dengan wabah. Bila dilihat dari sudut pandang agama akan dengan mudah dibuat komitmen kesatuan diantara mereka.

Kemudian, asumsi bahwa akan kehilangan nyawa lebih banyak lagi bila covid-19 terus berlangsung lama, angkanya bisa mencapai setengah penduduk bumi. (namun, belum ada dalil ilmiah hanya prediksi di raket).

Akhirnya juga terbukti bahwa Islam memberi jalan keluar kepada pemeluknya dalam menjalani kehidupan dimasa wabah dengan tetap berikhtiar dan menggantungkan semua perkara ini kepada Allah Yang Esa.

Dan kita bisa melihat betapa umat muslim tetap menjalankan perintah agamanya dengan penuh khusyu dan ikhlas terbukti terhindar dari wabah insya Allah.

Sekiranya semua manusia sungguh-sungguh beriman dengan Agama Islam, maka akan ditambah lagi nikmat-nikmat lainnya oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Oleh sebab itu jalan keluar dari wabah ini adalah seluruh penduduk bumi harus beriman kepada Allah Tuhan seru sekalian alam dan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Nya. Amiin. (*)

(Penulis Adalah Pengamat Sosial dan Ekonomi, Dosen USM Aceh)