Opini

Romantika Mantan Petinggi GAM di Meja Makan

mualem-sofyan-dwood_20151001_214108ACEHSATU.com BANDA ACEH – Disanjungi dan dijuluki Muzakkir Manaf sebagai singa Ahlulsunnah atau Ali Abdul Muthaleb akhir zaman oleh salah seorang pimpinan pondok pesantren pada Kamis (01/10) tadi siang di Banda Aceh.

Dikutip dari ajnn.net,  sebutan itu dianggap pantas karena Wagub Aceh itu berani  menandatangani butir-butir tuntutan  Massa Ahlulsunnah Waljamaah (Aswaja) serta siap menjalankan Islam secara Ahlulsunnah Waljamaah di Bumi Aceh.

Tidak disangka, Mualem kemudian melakukan sesi pertemuan yang mengemparkan media sosial pada Kamis (1/10/2015), malam. Sorot telinga dan mata masyarakat Aceh sementara mungkin tertuju mengikuti pemberitaan itu.

Kenapa tidak, Lama tak terlihat Muzakir Manaf satu meja makan dengan Sofyan Dawood, sambil berdiskusi penuh keakraban disalah satu rumah makan di Kota Banda Aceh,.

Pertemuan secara terbuka kedua mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu yang pertama dilakukan. Mualem dengan stelan baju koko putih sedangkan Sofyan Dawood mengenakan setelah kaos hitam dan topi hijau.

Sama-sama mantan petinggi GAM, namun keduanya berbeda dalam pandangan politik Aceh saat ini, hal itu karena, saat Pilkada 2014. Mualem adalah Ketua Dewan Pimpinan Partai Aceh. Sedangkan Sofyan Dawood pendiri Partai Nasional Aceh (PNA).

Pertemuan penuh senda gurau itu yang membuat sejumlah mantan petinggi GAM lainnya juga tak ketinggalan menemani kemesraan mereka.

Baik Ayah Merin selaku mantan Kapolda GAM Abu Badawi, aktivis SIRA Muhammad MTA, Sulaiman Bombai, Teungku Jamaika, Tarmizi Payang dari anggota DPR Aceh, serta sejumlah anggota  lainnya.

Mereka mengatakan, pertemuan ini sebagai silaturahmi dalam nuansa  Idul Adha serta untuk menyatukannya seuruh mantan eks kombatan GAM.

Sampai Mualem berujar “Sama orang lain kita bisa berdamai, apalagi dengan rekan seperjuangan yang kita kenal sejak dulu,”

Lain halnya  Sofyan Dawood, ini bukanlah pertemuan pertama dia dengan Muzakir Manaf. Media saja yang tidak mengetahui katanya.

Harapan besar mereka berdua yang dibicarakan mungkin  juga harapan masyarakat Aceh tentunya,  agar semua eks kombatan kembali bersatu dengan harapan diikuti oleh rekan rekan di daerah dan dimanapun berada, sebagaimana pribahasa bersatu kita utuh bercerai kita runtuh.[red]ajnn.net/serambinews.com/portalsatu.com

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top