Rizal Ramli Kepret Rezim “Merakyat” Tapi Pro Konglomerat

ACEHSATU.COM | JAKARTA – Ada saja celutuk sosok tokoh yang satu ini yang selalu bikin panas kuping. Dengan gaya kepretnya yang sudah dikenal publik, Rizal Ramli tak henti “mengepret” siapa saja yang tidak becus memimpin negara ini tak terkecuali Jokowi.

Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu mengingatkan rakyat agar tidak terkecoh dengan gaya seorang pemimpin. Sebab gaya yang dimilikinya belum tentu berbanding lurus dengan kebijakannya.

Misalnya, seseorang yang bergaya masuk ke gorong-gorong, belum tentu kebijakannya pro rakyat. Bahkan lebih membela konglomerat.

Kepret Rizal Ramli itu sudah barang tentu dialamatkan kepada mantan bosnya Jokowi. Sebab sepanjang sejarah hanya Presiden Jokowi satu-satunya presiden yang doyan masuk gorong-gorong bila melakukan inspeksi.

Keunikan Jokowi seakan sudah menjadi hak patennya. Setiap siapapun pejabat yang pura-pura masuk gorong-gorong pasti dikaitkan dengan Jokowi.

Cara Jokowi menarik perhatian publik seperti halnya memantau air dengan langsung masuk ke gorong-gorong sangat efektif. Aksi itu menjadi headline news di media maenstream. Bahkan diputar berulang-ulang oleh media televisi.

Bahkan menjadi viral saat Presiden Jokowi turun langsung ke dalam gorong-gorong mengecek saluran air di ibukota Jakarta.

“Ada masa, suka yang gagah dan berwibawa. Kemudian ada masa, suka yang merakyat, masuk gorong-gorong, dan cium kaki,” tulis tokoh yang pernah dipilih Presiden Jokowi ini menjadi Menko Kemaritiman di akun Twitter nya @RamliRizal, Senin, (06/07/2020).

Namun ia juga mengingatkan “Gayanya doang merakyat. Tapi kebijakan tidak pro-rakyat. Masalah bukan selesai, malah dibikin ribet dan KKN semakin subur,” tambah Rizal Ramli.

Tak lupa juga Rizal Ramli membandingkan masing-masing gaya presiden yang pernah memimpin Indonesia.

Menurut RR (inisial Rizal Ramli) pemilih Indonesia memiliki kecenderungan berbeda-beda setiap zaman. Ada kalanya para pemilih (rakyat) membutuhkan figur yang tegas, gagah dan berwibawa. Sosok ini misalnya bisa terlihat dalam diri Presiden Soekarno pada masa awal kemerdekaan.

Lalu, rakyat pemilih suka pada pemimpin yang tenang, suka senyum namun memiliki kewibawaan seperti Soeharto.

Kemudian berganti lagi, rakyat suka pada pemimpin yang cerdas, seperti SBY.

Selanjutnya para pemilih suka terhadap tokoh yang merakyat. Hal itu misalnya terlihat dalam diri Presiden Joko Widodo.

Namun gaya yang demikian sudah tidak disenangi rakyat lagi. “Rakyat kini butuh gaya kepemimpinan nasional yang baru. “Era ‘pura-pura merakyat’ sudah berakhir. Era baru akan datang,” pungkasnya. (*)